Ekspor Baja Indonesia Meningkat Pesat ke Australia dan Inggris
Uptodai.com - Ekspor baja Indonesia meningkat secara signifikan seiring dengan keberhasilan program hilirisasi yang dijalankan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. Produk besi dan baja nasional kini tidak hanya mendominasi pasar domestik, tetapi juga mulai merambah pasar-pasar strategis di berbagai belahan dunia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa kualitas produk baja tanah air telah memenuhi standar global. Hal ini membuat permintaan dari negara-negara maju seperti Australia, Singapura, hingga Inggris terus mengalami pertumbuhan yang positif.
Diversifikasi Pasar dan Lonjakan Nilai Ekspor
Pemerintah mencatat bahwa ekspor baja Indonesia meningkat tajam ke Australia dengan nilai mencapai US$ 1,6 miliar. Selain Australia, negara-negara di kawasan Eropa seperti Inggris juga mulai melirik produk manufaktur logam dari Indonesia sebagai bahan baku industri mereka.
Meskipun Republik Rakyat Tiongkok (RRT) masih menjadi mitra dagang utama dengan nilai ekspor menembus US$ 16 miliar, diversifikasi pasar ini menjadi bukti kekuatan industri nasional. Keberhasilan ini tidak lepas dari konsistensi pemerintah dalam mendorong hilirisasi komoditas feronikel yang mencatatkan nilai ekspor US$ 14,94 miliar sepanjang 2025.
Airlangga menegaskan bahwa Indonesia kini tidak lagi bergantung pada satu pasar tunggal saja untuk memasarkan produk industrinya. Langkah strategis ini memperkuat posisi tawar Indonesia dalam rantai pasok global, terutama untuk produk-produk besi dan baja berkualitas tinggi.
Kapasitas Produksi dan Ruang Pertumbuhan Industri
Saat ini, kapasitas produksi baja nasional berada pada angka 16 hingga 17 juta ton per tahun. Namun, tingkat utilisasi industri saat ini masih berada di kisaran 60 sampai 70 persen, yang berarti masih ada ruang besar untuk ekspansi.
Pemerintah terus mendorong para pelaku industri untuk memaksimalkan kapasitas produksi guna memperkuat substitusi impor. Dengan meningkatnya produksi dalam negeri, ketergantungan terhadap material baja dari luar negeri dapat ditekan secara bertahap.
Sektor ini juga menunjukkan daya tarik investasi yang luar biasa bagi para pemodal asing. Nilai investasi asing di sektor baja melonjak dua kali lipat dari US$ 8,05 miliar pada 2021 menjadi US$ 16,37 miliar pada akhir 2025.
Transformasi Menuju Green Steel dan Teknologi Rendah Karbon
Menghadapi tantangan global di tahun 2026, industri baja nasional mulai diarahkan pada konsep Green Steel atau baja ramah lingkungan. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) yang diterapkan oleh banyak negara maju.
Pemerintah mendorong adopsi teknologi Electric Arc Furnace (EAF) yang diklaim mampu mereduksi emisi karbon hingga 85 persen. Transformasi teknologi ini sangat krusial agar produk baja Indonesia tetap kompetitif di pasar internasional yang semakin menuntut standar keberlanjutan.
Selain fokus pada isu lingkungan, pemerintah juga mewaspadai potensi kelebihan pasokan baja dunia yang diprediksi mencapai 2,5 miliar metrik ton. Oleh karena itu, efisiensi produksi dan inovasi produk menjadi kunci utama agar industri tetap bertahan di tengah tren proteksionisme global.
Perlindungan Industri Dalam Negeri dan Standarisasi
Guna menjaga stabilitas pasar domestik, pemerintah memperketat instrumen perlindungan industri melalui kebijakan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD). Instrumen ini bertujuan untuk menangkal praktik perdagangan tidak adil yang dilakukan oleh eksportir dari negara lain.
Selain itu, pengawasan terhadap barang impor semakin diperketat melalui kewajiban Persetujuan Impor (PI) dan Laporan Surveyor untuk ratusan pos tarif besi baja. Langkah ini memastikan bahwa produk yang masuk ke Indonesia telah melalui proses seleksi yang ketat dan transparan.
Pemerintah juga telah memberlakukan 23 Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib bagi produk besi dan baja yang beredar di pasar. Penerapan standar ini bertujuan untuk menjamin keamanan konsumen serta melindungi produsen lokal dari gempuran produk berkualitas rendah yang tidak sesuai spesifikasi.