Uptodai.com - Kesejahteraan driver ojek online menjadi isu krusial yang terus diperdebatkan di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Saat ini, para pengemudi ojol masih berjuang mendapatkan kepastian pendapatan di tengah skema kemitraan yang dinamis. Di sisi lain, China telah mengambil langkah berani dengan menetapkan standar baru bagi perlindungan pekerja di sektor ekonomi berbagi ini.

Pemerintah China melalui Komite Sentral Partai Komunis dan Dewan Negara mewajibkan perusahaan aplikasi memberikan upah minimum lokal kepada para pengemudi. Kebijakan ini memastikan bahwa setiap pekerja gig memiliki jaring pengaman finansial yang setara dengan pekerja sektor formal. Langkah tersebut diambil untuk mengakhiri ketidakpastian pendapatan yang selama ini menghantui para kurir dan pengemudi daring.

Standar Gaji Minimum Driver Ojol dan Jam Kerja Manusiawi

Selain menetapkan gaji minimum, regulasi terbaru di China juga mengatur pemberian upah tambahan yang layak saat pengemudi bekerja pada hari libur. Perusahaan penyedia layanan kini tidak bisa lagi semena-mena menentukan target tanpa mempertimbangkan hak istirahat pekerja. Mereka wajib bernegosiasi dengan serikat pekerja untuk menentukan batas maksimal jam kerja harian dan durasi pengambilan pesanan berturut-turut.

Sistem aplikasi di China kini memiliki fitur otomatis yang menghentikan pengiriman pesanan baru jika pengemudi telah mencapai batas jam kerja. Notifikasi khusus akan muncul untuk mengingatkan pekerja agar segera beristirahat demi keselamatan di jalan raya. Hal ini menjadi terobosan penting untuk menjaga kesejahteraan driver ojek online dari kelelahan fisik yang ekstrem.

Pemerintah China juga mempertegas aturan mengenai kontrak kerja tertulis bagi para pekerja gig. Jika syarat hubungan kerja terpenuhi, perusahaan wajib memberikan kontrak formal yang melindungi hak-hak dasar buruh. Apabila syarat tersebut belum sepenuhnya terpenuhi, kesepakatan tertulis tetap harus dibuat untuk menjamin transparansi hak dan kewajiban kedua belah pihak.

Melawan Tirani Algoritma dan Risiko Kecelakaan Kerja

Selama bertahun-tahun, algoritma perusahaan teknologi sering kali memaksa pengemudi untuk bekerja melampaui batas kemampuan manusia. Laporan dari majalah Renwu pada 2020 mengungkapkan bagaimana algoritma memaksa pengantar barang melanggar lampu lalu lintas demi mengejar waktu. Tekanan sistem ini menciptakan lingkungan kerja yang sangat berbahaya bagi para kurir di lapangan.

Data menunjukkan bahwa di Shanghai, setidaknya satu pengantar barang terluka atau tewas setiap 2,5 hari pada paruh pertama 2027. Sementara di Chengdu, tercatat ribuan pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh kurir akibat mengejar target pengiriman yang tidak realistis. Tragedi memilukan juga terjadi saat seorang pengantar makanan di Hangzhou ditemukan meninggal dunia setelah bekerja nonstop selama 18 jam.

Dengan adanya aturan baru ini, perusahaan diwajibkan meminta masukan dari para pekerja sebelum merumuskan atau merevisi peraturan ketenagakerjaan. Gaji minimum driver ojol bukan lagi sekadar impian, melainkan kewajiban hukum yang harus dipenuhi oleh raksasa teknologi. Indonesia memiliki peluang besar untuk mengadopsi model ini guna menciptakan ekosistem transportasi daring yang lebih adil dan manusiawi.

Transformasi kebijakan ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi digital tidak boleh mengorbankan keselamatan nyawa manusia. Pemerintah Indonesia perlu mempertimbangkan regulasi serupa agar para mitra pengemudi mendapatkan perlindungan yang nyata. Keseimbangan antara inovasi teknologi dan hak asasi pekerja harus menjadi prioritas utama dalam membangun ekonomi masa depan.