Uptodai.com - Potensi gempa bumi Pulau Jawa kini menjadi perhatian serius para ahli geologi karena wilayah ini dikepung oleh berbagai sumber seismik aktif. Selain ancaman zona subduksi megathrust di selatan, daratan Jawa juga menyimpan jaringan sesar aktif yang belum sepenuhnya terpetakan dengan detail. Kompleksitas struktur geologi ini membuat tingkat kerawanan bencana di pulau terpadat di Indonesia ini sangat tinggi. Hal ini diungkapkan dalam lokakarya kebencanaan yang dihadiri oleh para peneliti nasional dan internasional baru-baru ini.

Danny Hilman Natawidjaja, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa pemahaman mengenai sesar aktif di daratan Jawa masih dipenuhi ketidakpastian. Banyak patahan yang sudah teridentifikasi namun karakteristik krusialnya, seperti laju pergeseran tahunan dan magnitudo maksimum, belum diketahui secara pasti. Ketidaktahuan ini menjadi tantangan besar dalam menyusun mitigasi bencana yang efektif. Akibatnya, estimasi dampak kerusakan di wilayah perkotaan padat penduduk masih sulit diprediksi dengan akurat.

Secara historis, Pulau Jawa telah berulang kali diguncang gempa merusak yang bersumber dari sesar darat, seperti gempa Yogyakarta 2006 dan gempa Cianjur 2022. Peristiwa-peristiwa masa lalu tersebut membuktikan bahwa sesar aktif lokal dengan magnitudo sedang pun dapat menimbulkan korban jiwa yang sangat besar. Kepadatan penduduk yang tinggi dan banyaknya bangunan non-engineered memperparah risiko kerentanan sosial-ekonomi di wilayah terdampak. Oleh karena itu, pemutakhiran data kegempaan secara berkala menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.

Ancaman Nyata Sesar Java Back-Arc Thrust

Salah satu struktur geologi raksasa yang kini diwaspadai adalah Java Back-Arc Thrust, sebuah sesar naik yang membentang dari Jakarta hingga Surabaya. Keberadaan sesar ini mematahkan asumsi lama bahwa wilayah utara Jawa relatif lebih aman dari ancaman gempa dibanding wilayah selatan. Aktivitas sesar naik ini berpotensi memicu guncangan hebat di sepanjang jalur ekonomi utama utara Jawa. Kota-kota besar yang berada di jalur ini harus mulai mempersiapkan infrastruktur yang lebih tahan gempa.

Peta bahaya gempa nasional saat ini terus mengalami pembaruan seiring ditemukannya data-data geologi terbaru di lapangan. Tim peneliti BRIN baru-baru ini melakukan pemetaan detail di sekitar kawasan Gunung Ciremai, Jawa Barat. Penelitian tersebut berhasil mengungkap keberadaan sesar aktif baru serta perubahan segmentasi pada patahan yang sudah ada sebelumnya. Temuan lokal seperti ini sangat penting karena dapat mengubah analisis risiko bencana pada skala wilayah yang lebih spesifik.

Bahaya Ikutan dan Perlindungan Infrastruktur

Dampak dari pergerakan sesar aktif tidak hanya terbatas pada guncangan tanah yang merusak bangunan di atasnya. Sesar aktif juga dapat memicu bahaya ikutan seperti rekahan permukaan tanah, tanah longsor, likuefaksi, hingga tsunami lokal di wilayah pesisir. Sayangnya, aspek rekahan permukaan sering kali diabaikan dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan infrastruktur penting. Padahal, pembangunan jalan tol, bendungan, dan jalur kereta cepat sangat rentan terhadap pergeseran tanah langsung di zona patahan.

Pemerintah daerah di seluruh Pulau Jawa diharapkan segera mengintegrasikan peta sesar aktif terbaru ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Penerapan standar bangunan tahan gempa yang ketat harus ditegakkan tanpa kompromi untuk meminimalkan korban jiwa di masa depan. Edukasi dan simulasi kebencanaan bagi masyarakat juga perlu ditingkatkan agar kesiapsiagaan publik terbentuk secara alami. Melalui kolaborasi antara peneliti, pemerintah, dan masyarakat, risiko bencana gempa besar di Jawa diharapkan dapat ditekan seminimal mungkin.