Mentan Amran Minta Petani Merauke Jawab Kritik Cetak Sawah
Uptodai.com - Pemerintah terus mendorong akselerasi program cetak sawah di Merauke guna memperkuat ketahanan pangan nasional di wilayah timur Indonesia. Saat melakukan kunjungan kerja di Desa Waninggap Kai, Distrik Semangga, Papua Selatan, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menerima aspirasi langsung dari para petani setempat. Salah satu petani, Yohanis Yandi, bahkan meminta pemerintah untuk menambah perluasan lahan sawah baru seluas 2.000 hektare di Kampung Urumb. Permintaan ini membuktikan tingginya antusiasme masyarakat lokal terhadap program pertanian tersebut.
Sinergi Pemerintah dan Petani Papua Selatan
Mendengar usulan tersebut, Mentan Amran Sulaiman menyambutnya dengan sangat positif dan langsung menyetujui rencana perluasan lahan tersebut. Namun, ia memberikan satu syarat khusus kepada para petani untuk membantu meluruskan opini publik di media sosial. Amran meminta warga aktif menjelaskan bahwa program ini berjalan murni atas aspirasi masyarakat, bukan karena paksaan dari pemerintah pusat. Langkah ini dinilai penting untuk meredam berbagai isu miring yang kerap beredar di platform digital.
Selama ini, Kementerian Pertanian sering kali diterpa tudingan negatif di media sosial, terutama TikTok, yang menyebut proyek ini merugikan masyarakat adat. Menanggapi hal tersebut, Yohanis Yandi menyatakan kesiapannya untuk pasang badan dan memberikan klarifikasi secara terbuka kepada siapa saja yang meragukan manfaat program ini. Ia bahkan menegaskan pintu rumahnya terbuka 24 jam bagi pihak-pihak yang ingin berdiskusi langsung mengenai kondisi riil di lapangan. Komitmen ini menunjukkan sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat Papua Selatan.
Modernisasi dan Potensi Lumbung Pangan Nasional
Merauke memang diproyeksikan menjadi salah satu lumbung pangan raksasa masa depan melalui konsep modernisasi pertanian terintegrasi. Selain pembukaan lahan baru, pemerintah juga gencar menyalurkan bantuan alat mesin pertanian modern untuk mempermudah proses masa tanam hingga panen. Transformasi dari sistem pertanian tradisional ke mekanisasi modern ini diharapkan mampu menarik minat generasi muda Papua untuk terjun ke sektor agribisnis. Dengan dukungan infrastruktur irigasi yang memadai, indeks pertanaman di wilayah ini ditargetkan meningkat signifikan.
Amran kembali menegaskan bahwa seluruh lahan sawah yang telah dicetak akan sepenuhnya menjadi hak milik masyarakat setempat. Pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator yang membantu proses pembukaan lahan, penyediaan pupuk, hingga penyerapan hasil panen melalui Perum Bulog. Skema pemberdayaan ini dirancang agar masyarakat Papua tidak hanya menjadi penonton, melainkan aktor utama dalam roda perekonomian daerah. Hal ini sekaligus menepis kekhawatiran adanya eksploitasi lahan oleh pihak luar.
Peningkatan Kesejahteraan dan Produktivitas Lahan
Dari sisi ekonomi, potensi pendapatan yang bisa diraih oleh para petani di Papua Selatan terbilang sangat menjanjikan. Dengan Harga Pembelian Pemerintah untuk gabah kering panen yang kini mencapai Rp6.500 per kilogram, kesejahteraan petani diproyeksikan meningkat tajam. Jika rata-rata produktivitas lahan mencapai 5 ton per hektare, maka petani berpotensi mengantongi pendapatan kotor hingga Rp32,5 juta dalam sekali musim panen. Keberhasilan ini diharapkan dapat menekan angka kemiskinan dan meningkatkan indeks pembangunan manusia di Merauke.
Berdasarkan data historis, produksi padi di Merauke terus menunjukkan tren positif seiring dengan berjalannya program optimalisasi lahan. Pada tahun 2023 saja, luas sawah di wilayah ini telah mencapai 44.808 hektare dengan total produksi gabah kering panen sebesar 222.579 ton. Angka tersebut setara dengan 104.668 ton beras berkualitas yang bernilai ratusan miliar rupiah. Dengan ekspansi lahan baru, Merauke optimis mampu menyuplai kebutuhan pangan tidak hanya untuk Papua, tetapi juga untuk kawasan nasional lainnya.