Uptodai.com - Kondisi tidak kondusif yang dialami Timnas Iran di Piala Dunia 2026 memicu kemarahan sang pelatih kepala, Amir Ghalenoei. Ia mengecam keras perlakuan diskriminatif dan tidak adil yang diterima oleh anak asuhnya sepanjang turnamen bergengsi ini berlangsung. Ghalenoei menegaskan bahwa sepak bola seharusnya steril dari kepentingan politik global yang merugikan sportivitas.

Akibat ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat, skuad Team Melli dilarang mendirikan markas latihan di wilayah AS. Mereka terpaksa mengungsi dan menetap di Meksiko, sehingga harus melakukan perjalanan udara jarak jauh setiap kali jadwal pertandingan tiba. Mobilitas yang sangat tinggi ini menguras fisik serta mental para pemain sebelum bertanding.

Diskriminasi Logistik dan Pembatasan Waktu Tinggal

Sebagai contoh, saat menghadapi Selandia Baru di laga pembuka, rombongan tim baru mendarat di Amerika Serikat beberapa jam sebelum sepak mula. Setelah laga usai, otoritas setempat langsung meminta mereka segera angkat kaki dari wilayah AS tanpa waktu istirahat yang cukup. Pola perjalanan yang tergesa-gesa ini dinilai sangat tidak manusiawi bagi atlet profesional.

Perjalanan lintas batas negara ini juga melibatkan proses imigrasi dan pemeriksaan keamanan yang sangat ketat di bandara. Para pemain harus melewati pemeriksaan berlapis yang memakan waktu berjam-jam dan menguras energi mereka. Hal ini menciptakan tekanan psikologis tambahan yang tidak perlu bagi tim yang sedang fokus berkompetisi.

Janji FIFA dan Pengawasan Ketat yang Mengganggu

Meskipun Presiden FIFA Gianni Infantino sempat menjanjikan perbaikan fasilitas setelah menerima protes keras, kenyataan di lapangan tidak banyak berubah. Menjelang laga krusial melawan Belgia, Mehdi Taremi dan rekan-rekannya hanya diberi izin berada di AS sekitar 16 jam sebelum laga. Diskriminasi waktu ini jelas merugikan persiapan taktis yang telah dirancang oleh tim pelatih.

Situasi ini kontras dengan prinsip netralitas politik yang selalu dikampanyekan oleh FIFA dalam setiap turnamen resmi. Sejarah mencatat laga Iran melawan AS pada Piala Dunia 1998 berlangsung damai dan dijuluki sebagai pertandingan paling bersahabat. Namun, ketegangan diplomatik saat ini tampaknya telah merusak esensi perdamaian yang diusung oleh sepak bola.

Ghalenoei kini mengetuk pintu hati para pelatih dari negara peserta lain untuk menyuarakan solidaritas mereka. Ia berharap komunitas sepak bola internasional tidak menutup mata terhadap ketidakadilan yang murni disebabkan oleh faktor non-teknis ini. Baginya, jika diskriminasi ini dibiarkan, maka nilai sportivitas dalam olahraga terancam runtuh sepenuhnya.