Uptodai.com - Fenomena ribuan ATM Bitcoin bangkrut kini menjadi kenyataan pahit setelah pemerintah di berbagai negara memperketat aturan operasional aset digital ini. Kebijakan baru yang mencakup batasan transaksi hingga larangan langsung membuat para operator kelabakan. Salah satu raksasa industri, Bitcoin Depot, bahkan secara terbuka menyatakan bahwa model bisnis mereka tidak lagi mampu bertahan dalam ekosistem regulasi saat ini.

CEO Bitcoin Depot, Alex Holmes, mengungkapkan bahwa tekanan kepatuhan hukum yang meningkat drastis berdampak langsung pada stabilitas keuangan perusahaan. Aturan baru ini tidak hanya membatasi ruang gerak bisnis, tetapi juga memicu lonjakan biaya litigasi yang signifikan. Akibatnya, perusahaan yang sempat berjaya ini terpaksa mengambil langkah restrukturisasi dan penutupan mesin secara massal.

Mengapa ATM Bitcoin Menjadi Target Regulasi?

Mesin ATM Bitcoin atau BTM sebenarnya dirancang untuk memudahkan masyarakat umum mengonversi uang tunai langsung menjadi aset kripto tanpa perlu mendaftar di bursa online yang rumit. Namun, kemudahan transaksi fisik tanpa verifikasi identitas yang ketat ini sering kali disalahgunakan oleh sindikat kriminal global. Celah keamanan inilah yang membuat mesin-mesin tersebut menjadi alat utama dalam berbagai skema pencucian uang dan penipuan terorganisir.

Para korban penipuan, yang sebagian besar merupakan masyarakat awam dan lansia, kerap kali dimanipulasi secara psikologis untuk mengirimkan tabungan mereka melalui mesin fisik ini. Setelah uang tunai dimasukkan ke dalam mesin, aset kripto akan langsung dikirim ke dompet digital milik pelaku kejahatan tanpa bisa dilacak kembali. Kerugian akibat kejahatan jenis ini terus meroket setiap tahunnya, memaksa otoritas keuangan mengambil tindakan drastis.

Dampak dari penutupan massal ini tentu sangat dirasakan oleh pengguna ritel yang mengandalkan transaksi tunai untuk membeli mata uang digital. Hilangnya akses fisik ini diprediksi akan menurunkan adopsi kripto di kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah yang belum terbiasa dengan transaksi perbankan digital. Hal ini juga menandai pergeseran besar di mana industri kripto dipaksa untuk sepenuhnya tunduk pada sistem pengawasan perbankan konvensional.

Gugatan Hukum dan Penutupan Operasional

Sebelum memutuskan untuk gulung tikar, Bitcoin Depot sendiri telah menghadapi rentetan gugatan hukum di wilayah Massachusetts dan Iowa atas tuduhan memfasilitasi penipuan. Padahal, perusahaan ini sebelumnya mengoperasikan jaringan raksasa sebanyak 9.276 kios yang tersebar di Amerika Serikat, Kanada, hingga Australia. Kini, proses kebangkrutan entitas mereka di Kanada telah resmi masuk ke meja hijau pengadilan Amerika Serikat.

Laporan keuangan kuartal pertama tahun 2026 menunjukkan kemerosotan kinerja Bitcoin Depot yang sangat tajam dengan penurunan pendapatan hingga 49 persen. Perusahaan harus menelan pil pahit berupa kerugian bersih sebesar US$9,5 juta, berbanding terbalik dengan laba bersih tahun lalu yang mencapai US$12,2 juta. Kemerosotan laba kotor hingga 85 persen menjadi sinyal kuat bahwa era kejayaan ATM kripto fisik mungkin segera berakhir.