Uptodai.com - Mobil listrik baterai sodium-ion kini menjadi sorotan dunia otomotif setelah BAIC Group memperkenalkan terobosan teknologi terbaru mereka. Perusahaan otomotif raksasa asal China tersebut mengklaim telah berhasil mengembangkan baterai generasi masa depan yang mampu terisi penuh dalam waktu sangat singkat. Kehadiran inovasi ini diprediksi akan mengubah peta persaingan kendaraan ramah lingkungan secara global.

Hanya butuh waktu sekitar 11 menit bagi baterai ini untuk mencapai daya 100 persen dari kondisi kosong. Kecepatan pengisian tersebut bahkan melampaui rata-rata durasi pengisian daya ponsel pintar yang banyak beredar di pasaran saat ini. Pencapaian ini menjadi angin segar bagi para pengguna kendaraan listrik yang selama ini sering mengeluhkan durasi pengisian daya yang lama di stasiun pengisian.

Selama beberapa tahun terakhir, industri kendaraan listrik dunia memang menghadapi tantangan besar terkait biaya produksi baterai yang tinggi. Ketergantungan terhadap bahan baku lithium yang mahal dan langka menjadi hambatan utama dalam menekan harga jual kendaraan. Kondisi inilah yang mendorong para produsen untuk mencari alternatif material lain yang lebih efisien dan ekonomis.

Keunggulan Material Sodium-ion Dibandingkan Lithium

Penggunaan material sodium-ion hadir sebagai solusi strategis karena ketersediaannya yang melimpah di alam dan harga yang jauh lebih murah. Selain faktor ekonomi, teknologi pengisian daya cepat EV berbasis sodium ini dinilai jauh lebih stabil secara kimiawi. Hal ini memberikan tingkat keamanan yang lebih tinggi bagi pengguna dibandingkan dengan baterai berbasis lithium-ion konvensional.

Sebelum BAIC memperkenalkan inovasinya, pemain besar seperti CATL yang bekerja sama dengan Changan Automobile sudah lebih dulu bergerak. Mereka telah meluncurkan mobil listrik produksi massal berbasis sodium-ion pada awal tahun 2026. Namun, BAIC kini mengambil langkah lebih maju dengan memfokuskan pengembangan pada aspek kecepatan pengisian daya yang ekstrem.

Inovasi BAIC tidak hanya terpaku pada kecepatan, tetapi juga ketahanan baterai terhadap perubahan suhu yang drastis. Perusahaan mengklaim bahwa baterai mereka tetap bekerja optimal mulai dari suhu sangat dingin hingga panas yang menyengat. Bahkan, baterai ini masih mampu menyimpan lebih dari 90 persen kapasitas energinya meskipun berada dalam kondisi suhu beku.

Tantangan Kepadatan Energi dan Pengembangan Masa Depan

Meskipun memiliki keunggulan dalam hal kecepatan dan suhu, kendaraan listrik sodium-ion masih menghadapi kendala pada aspek kepadatan energi. Kepadatan energi atau energy density merupakan jumlah energi yang dapat disimpan dibandingkan dengan berat total baterai tersebut. Saat ini, angka kepadatan energi sodium-ion masih berada di bawah baterai lithium modern.

Prototipe yang dikembangkan oleh BAIC menggunakan desain sel prismatik dengan kepadatan energi sebesar 170 Wh/kg. Sebagai perbandingan, baterai lithium generasi terbaru saat ini rata-rata memiliki kepadatan energi di kisaran 200 hingga 300 Wh/kg. Hal ini berarti baterai sodium-ion memerlukan ruang yang sedikit lebih besar untuk menghasilkan jarak tempuh yang sama.

BAIC terus berupaya keras meningkatkan performa siklus jangka panjang agar baterai ini memiliki umur pakai yang lebih lama. Hingga saat ini, perusahaan telah mengajukan sedikitnya 20 paten terkait teknologi sodium-ion yang mencakup berbagai aspek teknis. Paten tersebut meliputi desain material, proses produksi massal, hingga metode pengujian kualitas yang ketat.

Proyeksi Pasar Kendaraan Listrik China 2026

Hingga saat ini, manajemen BAIC belum memberikan jadwal pasti mengenai peluncuran komersial kendaraan dengan waktu pengisian 11 menit ini. Namun, pasar otomotif China diperkirakan akan segera melihat kendaraan listrik produksi massal pertama dengan baterai sodium-ion pada pertengahan 2026. Inovasi fast charging mobil listrik ini diharapkan menjadi standar baru dalam industri otomotif global.

Investasi besar-besaran dalam riset baterai memang terus meningkat secara signifikan dalam dua tahun terakhir. Pada akhir 2025, para peneliti telah menemukan metode baru untuk mempercepat pergerakan ion dalam sel baterai sodium. Terobosan yang dibawa oleh BAIC ini menjadi langkah krusial bagi transisi energi hijau yang lebih terjangkau bagi masyarakat luas.

Dengan dukungan infrastruktur pengisian daya yang semakin masif, teknologi ini berpotensi mengakhiri dominasi mesin pembakaran internal. Jika masalah kepadatan energi dapat segera teratasi, bukan tidak mungkin harga mobil listrik akan setara dengan mobil bensin konvensional. Langkah China ini sekali lagi membuktikan dominasi mereka dalam memimpin revolusi teknologi transportasi dunia.