Rencana Belanja OpenAI Tembus Rp10.118 Triliun Jelang IPO
Uptodai.com - Rencana belanja OpenAI yang menyentuh angka fantastis kini menjadi sorotan tajam di jagat teknologi global. Perusahaan pengembang ChatGPT ini bersiap menggelontorkan dana hingga US$ 600 miliar atau setara Rp 10.118 triliun untuk kebutuhan komputasi hingga tahun 2030 mendatang. Langkah agresif ini merupakan bagian dari strategi besar perusahaan dalam mempersiapkan diri menuju penawaran umum perdana atau IPO.
Manajemen OpenAI menargetkan valuasi perusahaan menembus angka psikologis US$ 1 triliun saat melantai di bursa saham nanti. Laporan mengenai ambisi belanja modal ini pertama kali mencuat melalui data internal yang beredar pada akhir Februari 2026. Angka investasi tersebut menunjukkan betapa seriusnya perusahaan dalam mendominasi pasar kecerdasan buatan di masa depan.
Meskipun rencana pengeluaran tersebut terlihat sangat besar, performa keuangan OpenAI sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren yang positif. Perusahaan berhasil membukukan pendapatan sebesar US$ 13 miliar atau sekitar Rp 219 triliun, melampaui proyeksi awal yang hanya US$ 10 miliar. Selain itu, mereka sukses menekan biaya operasional menjadi US$ 8 miliar, lebih rendah dari estimasi sebelumnya sebesar US$ 9 miliar.
Ambisi IPO dan Valuasi Fantastis OpenAI
Demi mendukung rencana belanja OpenAI yang masif, perusahaan terus berburu suntikan modal dari investor eksternal. Raksasa pembuat chip, Nvidia, dikabarkan sedang mematangkan komitmen investasi senilai US$ 30 miliar dalam putaran pendanaan terbaru. Dukungan dari Nvidia menjadi sinyal kuat bahwa infrastruktur perangkat keras tetap menjadi tulang punggung utama pengembangan AI.
CEO OpenAI, Sam Altman, kini tengah mengincar modal segar tambahan senilai US$ 100 miliar dari berbagai investor global. Jika penggalangan dana ini berhasil, valuasi OpenAI diprediksi akan meroket hingga melampaui US$ 830 miliar atau setara Rp 13.997 triliun. Angka ini akan menempatkan OpenAI sebagai salah satu perusahaan teknologi dengan pertumbuhan nilai tercepat dalam sejarah modern.
Target jangka panjang perusahaan juga tidak kalah ambisius dalam hal perolehan laba. Melalui divisi bisnis konsumer dan enterprise, OpenAI memproyeksikan pendapatan tahunan sebesar US$ 280 miliar pada tahun 2030. Transformasi dari sekadar laboratorium riset menjadi raksasa komersial kini sedang berlangsung dengan kecepatan penuh.
Pembangunan Infrastruktur Energi dan Komputasi Masif
Selain fokus pada perangkat lunak, investasi komputasi OpenAI juga mencakup pembangunan infrastruktur fisik yang sangat luas. Sam Altman sebelumnya menyatakan komitmen untuk mengucurkan dana sebesar US$ 1,4 triliun guna mengembangkan kapasitas komputasi sebesar 30 Gigawatt (GW). Kapasitas energi sebesar itu diperlukan untuk memastikan operasional model AI mereka tetap stabil dan responsif.
Sebagai gambaran, daya listrik sebesar 30 GW setara dengan kebutuhan energi untuk menyuplai sekitar 25 juta rumah tangga di Amerika Serikat. Besarnya kebutuhan energi ini mencerminkan betapa kompleksnya proses pelatihan dan pemeliharaan model bahasa besar (LLM) di masa depan. OpenAI menyadari bahwa ketersediaan energi menjadi kunci utama dalam memenangkan persaingan teknologi global.
Lonjakan Biaya Operasional dan Proses Inference
Pihak internal perusahaan mengungkapkan bahwa biaya untuk menjalankan proses inference akan mengalami kenaikan signifikan. Inference sendiri merupakan proses di mana model AI mengolah data baru setelah melalui tahap pelatihan awal. Para petinggi OpenAI memperkirakan biaya pada sektor ini akan melonjak hingga empat kali lipat sepanjang tahun 2025.
Kenaikan biaya ini berkaitan erat dengan pengembangan model AI generasi terbaru yang membutuhkan daya komputasi lebih tinggi. Namun, OpenAI optimis bahwa efisiensi yang dihasilkan dari skala ekonomi akan membantu menjaga margin keuntungan tetap sehat. Dengan dukungan finansial yang kuat, mereka yakin valuasi OpenAI menuju IPO akan berjalan sesuai rencana tanpa hambatan berarti.