Bukti Gen Z Lebih Kaya dari Milenial di Usia yang Sama
Uptodai.com - Sebuah laporan terbaru mengungkapkan bahwa Gen Z lebih kaya dari milenial saat mereka berada di rentang usia yang sama. Fenomena menarik ini terjadi karena generasi terbaru ini memasuki pasar kerja di tengah kondisi ekonomi yang mulai pulih dari krisis masa lalu. Berbeda dengan milenial yang harus menghadapi hantaman krisis keuangan global tahun 2008, Gen Z justru menikmati peningkatan upah riil yang cukup signifikan di awal karier mereka.
Laporan dari Resolution Foundation menunjukkan bahwa upah mingguan riil pekerja berusia 24 tahun yang lahir pada akhir 1990-an tercatat 12% lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Bahkan, mereka yang lahir di awal tahun 2000-an kini mengantongi pendapatan yang jauh lebih besar dibandingkan generasi mana pun sejak kelompok kelahiran 1950-an. Hal ini mematahkan kekhawatiran awal bahwa stagnasi standar hidup milenial akan terus berlanjut ke generasi berikutnya.
Mengapa Milenial Tertinggal dan Gen Z Melesat?
Untuk memahami ketimpangan ini, kita harus melihat kembali lanskap ekonomi global saat milenial pertama kali mencari pekerjaan. Pada tahun 2008, pasar tenaga kerja hancur akibat krisis finansial, memaksa banyak lulusan baru menerima pekerjaan dengan upah rendah atau bahkan magang tanpa dibayar selama bertahun-tahun. Sementara itu, Gen Z diuntungkan oleh transformasi digital yang cepat dan adopsi teknologi yang membuka banyak lapangan kerja baru berpenghasilan tinggi. Fleksibilitas kerja modern juga memungkinkan generasi muda ini mengambil beberapa pekerjaan sampingan sekaligus.
Kenaikan pendapatan terbesar justru dirasakan oleh kelompok pekerja berpenghasilan terendah di kalangan Gen Z. Pekerja di desil 10% terbawah menikmati lonjakan upah riil hingga 36% sepanjang periode 2012 hingga 2025. Peningkatan drastis ini didorong oleh kebijakan kenaikan upah minimum yang diterapkan secara bertahap di berbagai negara maju sejak tahun 2016. Di sisi lain, pekerja usia 22 hingga 29 tahun dengan pendapatan median juga mencatat kenaikan upah per jam sebesar 15%.
Angka pertumbuhan upah anak muda ini jauh melampaui pekerja yang berusia lebih tua di atas mereka. Sebagai perbandingan, pekerja yang saat ini berusia 30-an tahun hanya mencatat pertumbuhan gaji sebesar 4% dalam periode yang sama. Sementara itu, rata-rata kenaikan upah untuk seluruh kelompok pekerja secara umum hanya berada di angka 11%. Ketimpangan pertumbuhan ini menunjukkan adanya pergeseran prioritas pemberi kerja yang kini lebih menghargai keterampilan digital baru.
Tantangan Baru dan Ancaman Krisis NEET
Meskipun tren ini terlihat sangat positif, Resolution Foundation memperingatkan adanya badai ekonomi baru yang mengintai masa depan Gen Z. Tekanan inflasi global yang dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi menggerus daya beli dan menahan pertumbuhan upah riil ke depan. Selain itu, ada ancaman nyata dari fenomena NEET (Not in Employment, Education, or Training) yang terus meningkat di kalangan anak muda. Saat ini, diperkirakan ada sekitar 1 juta anak muda di Inggris yang tidak bekerja maupun menempuh pendidikan.
Jika masalah pengangguran struktural ini tidak segera diatasi, jumlah kelompok NEET diprediksi bisa melonjak hingga 1,25 juta orang pada awal 2030-an. Kondisi ini tentu menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk segera merumuskan kebijakan pelatihan kerja yang lebih adaptif. Tanpa intervensi yang tepat, jurang pemisah antara Gen Z yang sukses secara finansial dan mereka yang terjebak dalam lingkaran pengangguran akan semakin melebar. Masa depan ekonomi yang cerah bagi generasi muda ini pun bisa terancam mandek di tengah jalan.