Uptodai.com - Dokumen perjalanan resmi, atau paspor, adalah syarat mutlak bagi siapa pun yang ingin melintasi batas negara. Namun, sejarah mencatat sebuah kasus yang sangat unik dan mungkin menjadi satu-satunya di dunia, di mana dokumen penting ini diterbitkan untuk seseorang yang sudah meninggal dunia, bahkan telah menjadi mumi selama lebih dari tiga milenium.

Kisah luar biasa ini melibatkan salah satu penguasa Mesir yang paling ikonik, Ramesses II. Untuk memenuhi persyaratan birokrasi internasional, pemerintah Mesir menerbitkan Paspor Firaun Ramesses II, sebuah tindakan yang diperlukan agar jenazah sang raja dapat terbang ke luar negeri.

Mengapa Paspor Firaun Ramesses II Diterbitkan?

Peristiwa bersejarah ini terjadi pada tahun 1974. Mumi Ramesses II, yang telah bersemayam selama ribuan tahun, mengalami kerusakan parah akibat pelapukan dan serangan jamur. Kondisi ini memaksa otoritas Mesir untuk mengirimnya ke Paris, Prancis, demi menjalani proses restorasi dan perawatan intensif oleh para ahli terbaik.

Kendala muncul ketika mumi tersebut akan diterbangkan. Hukum Prancis pada masa itu sangat ketat, mewajibkan setiap “penumpang” yang masuk ke wilayahnya, termasuk jenazah atau sisa-sisa manusia, harus memiliki dokumen identitas dan perjalanan resmi. Tanpa paspor, mumi Ramesses II tidak akan diizinkan mendarat di Paris.

Untuk menghormati hukum internasional sekaligus status sang Firaun, Mesir mengambil langkah yang belum pernah terpikirkan: menerbitkan paspor resmi atas nama Ramesses II. Dokumen tersebut diterbitkan 3.000 tahun setelah kematiannya, menjadikannya pemegang paspor tertua di dunia.

Status Diplomatik dan Pekerjaan ‘Raja (Almarhum)’

Paspor yang dikeluarkan oleh pemerintah Mesir tersebut bukanlah dokumen biasa. Dilaporkan bahwa paspor itu mencantumkan foto wajah mumi Ramesses II yang tampak jelas. Bagian yang paling menarik adalah deskripsi pekerjaan yang tertulis pada dokumen tersebut: “Raja (almarhum)” atau dalam beberapa versi disebutkan sebagai “Raja yang sudah meninggal”.

Perjalanan Ramesses II ke Prancis pada tahun 1976 (setelah proses birokrasi selesai) diperlakukan layaknya kunjungan kenegaraan seorang kepala negara. Mumi tersebut diterbangkan menggunakan pesawat militer Mesir dan disambut di Paris dengan upacara kehormatan militer penuh.

Garde Republicaine, pasukan pengawal kehormatan militer Prancis, berdiri tegak memberi hormat saat peti mati sang Firaun diturunkan dari pesawat. Penghormatan ini menegaskan bahwa, meskipun telah wafat ribuan tahun, Ramesses II tetap diakui sebagai sosok yang memiliki status diplomatik tertinggi.

Ramesses II: Firaun Agung yang Dihormati

Ramesses II, yang juga dikenal sebagai Ramesses Agung, merupakan salah satu Firaun paling kuat dan berumur panjang dalam sejarah Mesir. Ia memerintah selama Dinasti ke-19 dan hidup hingga usia 96 tahun, meninggalkan warisan arsitektur dan monumen yang luar biasa, termasuk kuil Abu Simbel.

Meskipun awalnya dimakamkan di Lembah Para Raja, muminya dipindahkan beberapa kali oleh para pendeta Mesir kuno. Pemindahan ini dilakukan secara rahasia untuk melindungi jenazah sang raja dari maraknya perampokan makam yang terjadi pada masa itu, menunjukkan betapa tingginya upaya konservasi yang dilakukan oleh peradaban Mesir.

Meluruskan Fakta Foto Paspor yang Viral

Meskipun kisah Paspor Firaun Ramesses II adalah fakta sejarah yang dikonfirmasi oleh arsip media besar seperti The New York Times dan National Geographic, terdapat kesalahpahaman yang sering beredar di media sosial.

Banyak gambar paspor mumi yang beredar luas di internet bukanlah foto dokumen resmi yang asli. Gambar-gambar tersebut umumnya merupakan ilustrasi atau rekonstruksi artistik yang dibuat oleh situs-situs sejarah, seperti yang pernah dipublikasikan oleh Heritage Daily pada tahun 2020.

Dokumen paspor asli Ramesses II memang pernah dibuat dan digunakan untuk perjalanan ke Paris. Namun, demi menjaga kehormatan dan sensitivitas, dokumen resmi tersebut tidak pernah dipublikasikan secara umum kepada khalayak luas, meninggalkan kisah ini sebagai salah satu anekdot paling unik dalam sejarah perjalanan internasional.