Uptodai.com - Kisah pilu Norida Akmal Ayob, seorang perempuan Malaysia di Lombok, Nusa Tenggara Barat, akhirnya menemui titik terang setelah hampir dua dekade terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Kehidupannya berubah drastis dari impian pernikahan yang indah menjadi perjuangan bertahan hidup yang sangat berat di tanah rantau. Norida harus menelan pil pahit ketika mahligai rumah tangganya bersama pria asal Indonesia hancur di tengah jalan.

Selama 18 tahun, Norida menghabiskan hari-harinya dengan kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan. Setelah bercerai, ia harus berjuang sendirian tanpa dukungan finansial yang memadai dari mantan suaminya. Sementara itu, sang mantan suami dilaporkan telah membangun lembaran baru dan menikah lagi dengan perempuan lain, meninggalkan Norida dalam kesulitan.

Bertahan Hidup Sebagai Petugas Kebersihan di Lombok

Untuk menyambung hidup dan memberi makan anak-anaknya, Norida bekerja sebagai petugas kebersihan atau tukang sapu. Pekerjaan kasar ini ia lakoni setiap hari demi memastikan kedua buah hatinya tetap bisa makan meskipun dalam keterbatasan. Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia, Shamsul Anuar Nasarah, mengungkapkan bahwa Norida hidup dalam kondisi yang benar-benar kekurangan selama bertahun-tahun.

Kondisi ini semakin diperparah dengan status kewarganegaraan anak-anaknya yang berbeda. Anak pertamanya lahir di Malaysia dan memegang status warga negara Malaysia, sedangkan anak keduanya lahir di Indonesia dan menjadi WNI. Perbedaan status hukum ini menambah kompleksitas masalah yang harus dihadapi Norida selama menetap di Lombok.

Pihak keluarga Norida di Kampung Bukit Sapi, Malaysia, akhirnya mengetahui penderitaan ini dan segera mencari bantuan. Mereka menemui otoritas terkait untuk melaporkan bahwa Norida ingin segera pulang ke tanah kelahirannya. Laporan tersebut menggambarkan betapa mendesaknya situasi Norida karena anak-anaknya sudah tidak mampu lagi melanjutkan pendidikan.

Upaya Repatriasi dan Kepulangan ke Malaysia

Pemerintah Malaysia melalui Kementerian Dalam Negeri segera merespons laporan tersebut dengan langkah taktis. Shamsul Anuar Nasarah menginstruksikan tim khusus untuk berangkat ke Lombok guna mengurus proses pemulangan atau repatriasi warga Malaysia tersebut. Kerja sama lintas instansi pun dilakukan, melibatkan Wisma Putra, Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia, hingga Departemen Imigrasi Malaysia.

Proses administrasi dengan otoritas Indonesia berjalan intensif agar Norida dan anak-anaknya bisa segera meninggalkan Lombok. Tim yang dipimpin oleh Dazma Shah Daud bekerja cepat untuk memastikan semua dokumen perjalanan lengkap. Langkah ini diambil karena kondisi kesehatan mental dan ekonomi keluarga tersebut sudah berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan.

Kembali ke Tanah Air Setelah Dua Dekade

Setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan, Norida Akmal Ayob akhirnya berhasil menginjakkan kaki kembali di Malaysia pada Sabtu, 14 Februari 2026. Kepulangannya disambut dengan rasa haru oleh keluarga besar yang telah lama menantinya. Kini, Norida diharapkan dapat memulai hidup baru yang lebih layak di bawah pengawasan otoritas sosial di Malaysia.

Kasus ini menjadi pengingat penting mengenai risiko sosial yang sering dihadapi dalam pernikahan lintas negara tanpa perlindungan hukum yang kuat. Pemerintah Malaysia berkomitmen untuk terus memantau kondisi Norida dan memastikan anak-anaknya mendapatkan akses pendidikan yang sempat terputus. Keberhasilan pemulangan warga Malaysia di Indonesia ini menjadi bukti nyata kehadiran negara bagi warganya yang mengalami kesulitan di luar negeri.