Uptodai.com - Masalah antrean solar di Bandar Lampung kini semakin memprihatinkan dan mengganggu produktivitas para sopir truk logistik. Selama hampir dua bulan terakhir, para pengemudi kendaraan niaga harus rela menghabiskan waktu hingga 10 jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar bersubsidi. Kondisi ini memicu penumpukan kendaraan yang luar biasa di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kota tersebut.

Seasok pagi buta, deretan truk bertonase besar telah memadati bahu Jalan Yos Sudarso, Kecamatan Panjang, hingga mengular hampir satu kilometer. Pemandangan serupa juga terlihat jelas di SPBU Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Bumi Waras, di mana kendaraan berat mengantre dengan mesin dimatikan demi menghemat bahan bakar. Para sopir terpaksa turun ke jalan, menyeduh kopi, dan beristirahat di emperan demi menunggu antrean yang bergerak sangat lambat.

Dampak dari kemacetan jalur pengisian ini sangat memukul sektor logistik dan distribusi barang di wilayah Sumatra. Banyak perusahaan angkutan mengeluhkan penurunan produktivitas armada karena truk mereka tertahan seharian di SPBU. Keterlambatan pengiriman barang ini tidak hanya merugikan pengusaha, tetapi juga berpotensi memicu kenaikan harga bahan pokok akibat tersendatnya rantai pasok.

Dampak Kerusakan Jalan dan Gangguan Lalu Lintas

Selain merugikan secara ekonomi, kehadiran puluhan truk yang parkir darurat di bahu jalan juga mempercepat kerusakan infrastruktur jalan raya. Beban muatan yang sangat berat dari kendaraan yang berhenti dan melaju perlahan secara berulang membuat aspal jalan cepat berlubang. Kondisi ini juga mempersempit ruang jalan, sehingga pengguna jalan lain harus ekstra waspada dan bergantian saat melintas.

Situasi yang kian tidak kondusif ini akhirnya memicu perhatian serius dari aparat kepolisian setempat. Personel Satlantas Polresta Bandar Lampung terpaksa turun langsung ke lapangan untuk menertibkan barisan truk agar tidak menutup akses jalan utama. Polisi terus mengimbau para sopir untuk tetap tertib dan tidak memarkir kendaraan secara berlapis demi menjaga kelancaran arus lalu lintas.

Akar Masalah Distribusi Biosolar

Fenomena kelangkaan ini memicu desakan dari berbagai asosiasi transportasi darat kepada Pertamina dan pemerintah daerah untuk segera mengevaluasi kuota harian. Diduga, ada ketidakseimbangan antara pasokan Biosolar bersubsidi dengan jumlah kendaraan logistik yang terus meningkat setiap tahunnya. Tanpa adanya solusi sistemik seperti pengawasan ketat digitalisasi tangki atau penambahan kuota, krisis bahan bakar ini diprediksi akan terus berulang dan melumpuhkan ekonomi daerah.