Uptodai.com - Media sosial kembali ramai setelah dr Tirta kritik lingkaran Mohan Hazian yang dinilai bersikap pasif di tengah mencuatnya kasus dugaan pelecehan seksual. Melalui akun media sosial pribadinya, dokter sekaligus pengusaha ini memberikan teguran keras terhadap lingkungan pertemanan mantan pemilik merek Thanksinsomnia tersebut.

Ia menyoroti bagaimana para kolega di sekitar Mohan justru terkesan membiarkan situasi berkembang tanpa adanya sikap tegas yang berpihak pada korban. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas dinamika di industri kreatif dan fesyen yang kini tengah menjadi sorotan publik akibat skandal tersebut.

Sikap Netral yang Dinilai Membahayakan Korban

Dalam unggahannya di akun X @tirta_cipeng pada Selasa, 10 Februari 2026, dr Tirta mengungkapkan kekecewaannya terhadap sirkel pertemanan Mohan. Ia menilai mereka sengaja menggunakan pembanding kasus hukum lain untuk membenarkan sikap netral yang mereka ambil saat ini.

Menurutnya, lingkaran pertemanan tersebut sering kali membawa-bawa kronologi kasus Gofar Hilman sebagai alasan untuk tidak segera mengambil posisi. Padahal, dr Tirta menegaskan bahwa dalam isu sensitif seperti ini, dukungan moral seharusnya diberikan sepenuhnya kepada pihak yang mengaku sebagai korban terlebih dahulu.

“Intinya circle Mohan bawa-bawa kasus Gofar sebagai alesan mereka netral. Udah kujelasin, kena stay with victim dulu. Ya tetap ngeyel,” tulis dr Tirta dengan nada tegas. Ia menyayangkan sikap para pemilik jenama lokal dan pemengaruh yang justru memilih jalur aman di tengah isu kemanusiaan.

Tudingan Enabler bagi Pelaku Industri Fesyen

Kritik yang dilontarkan dr Tirta tidak berhenti pada soal sikap netral semata, melainkan merambah pada dampak sistemik di industri kreatif. Ia mengkhawatirkan bahwa sikap diam para tokoh berpengaruh ini akan menciptakan citra buruk bagi ekosistem brand lokal di Indonesia.

Dokter Tirta secara spesifik menyebut bahwa mereka yang tidak bersuara atau justru membela secara terselubung dapat dikategorikan sebagai enabler. Istilah ini merujuk pada pihak-pihak yang secara tidak langsung memfasilitasi atau membiarkan perilaku bermasalah tetap berlangsung tanpa konsekuensi sosial.

“Ini yang jadi masalah. Kesannya owner-owner brand lokal jadi enabler,” lanjutnya dalam unggahan yang sama. Ia merasa miris melihat bagaimana sirkel yang didominasi oleh pelaku industri fesyen ini seolah tidak belajar dari preseden buruk yang pernah terjadi sebelumnya.

Reaksi Publik dan Dampak Terhadap Citra Brand Lokal

Pernyataan dr Tirta tersebut langsung memicu gelombang diskusi yang luas di berbagai platform media sosial. Banyak warganet yang sepakat bahwa sikap diam dari lingkaran terdekat terduga pelaku justru memperburuk trauma yang dialami oleh korban.

Publik kini mulai mempertanyakan integritas para pemilik brand lokal yang selama ini memiliki basis massa besar namun bungkam dalam kasus ini. Hal ini dikhawatirkan akan memicu kampanye boikot atau penurunan kepercayaan konsumen terhadap produk-produk dari industri fesyen dalam negeri.

Hingga saat ini, diskusi mengenai peran sirkel pertemanan dalam kasus pelecehan seksual terus bergulir panas. Masyarakat menuntut adanya transparansi dan keberanian dari para figur publik untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan seksual.