Kenya-Somalia Buka Perbatasan Mandera Usai 15 Tahun Ditutup
Uptodai.com - Rencana pembukaan perbatasan Kenya dan Somalia di wilayah Mandera resmi diumumkan oleh Presiden William Ruto sebagai langkah strategis memulihkan hubungan kedua negara. Kebijakan ini bertujuan untuk membangkitkan kembali interaksi sosial dan aktivitas ekonomi masyarakat yang telah lama terhambat. Pemerintah Kenya menilai penutupan akses selama belasan tahun tersebut telah memutus tali silaturahmi antarwarga di kedua sisi perbatasan.
Presiden William Ruto menegaskan bahwa isolasi yang dialami warga Mandera terhadap kerabat mereka di Somalia sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Melalui pernyataan resminya, Ruto berkomitmen untuk mengakhiri keterputusan hubungan tersebut demi kesejahteraan bersama. Ia menjadwalkan pos perbatasan strategis itu akan mulai beroperasi penuh pada bulan April 2026 mendatang.
Langkah berani ini diambil setelah melalui pertimbangan panjang mengenai stabilitas kawasan di Afrika Timur. Sebelumnya, Kenya memutuskan untuk menutup total perbatasan daratnya sejak Oktober 2011 silam. Keputusan drastis tersebut merupakan respons atas rentetan serangan teror yang dilancarkan oleh kelompok militan Al-Shabaab di wilayah kedaulatan Kenya.
Sejarah Panjang Penutupan dan Ancaman Terorisme
Kelompok Al-Shabaab telah menjadi duri dalam daging bagi stabilitas keamanan di Somalia dan negara-negara tetangganya selama lebih dari 15 tahun. Organisasi yang berafiliasi dengan Al-Qaeda ini terus melakukan pemberontakan bersenjata terhadap pemerintah pusat di Mogadishu. Kenya, sebagai tetangga terdekat, sering kali menjadi sasaran empuk serangan lintas batas yang menyasar warga sipil maupun aparat keamanan.
Upaya untuk melakukan pembukaan perbatasan Kenya dan Somalia sebenarnya bukan pertama kali ini direncanakan oleh otoritas terkait. Pada Mei 2023, kedua negara sempat menyepakati pembukaan akses secara bertahap untuk menormalisasi keadaan. Namun, rencana tersebut terpaksa batal hanya dalam waktu dua bulan akibat eskalasi kekerasan yang kembali meningkat di zona perbatasan.
Serangan mematikan yang menewaskan lima warga sipil dan delapan polisi Kenya menjadi alasan utama pembatalan rencana tersebut pada tahun lalu. Kelompok Al-Shabaab dituding berada di balik aksi keji yang merusak momentum perdamaian tersebut. Kegagalan serupa juga pernah terjadi pada tahun 2022 saat Presiden Uhuru Kenyatta masih menjabat, meskipun kesepakatan tingkat tinggi telah tercapai.
Tantangan Keamanan dan Sengketa Wilayah Maritim
Kenya memegang peranan krusial dalam menjaga stabilitas kawasan dengan menjadi kontributor utama pasukan Uni Afrika. Militer Kenya aktif terlibat dalam operasi pembersihan sel-sel jihadis di wilayah Somalia guna menekan ruang gerak teroris. Kerja sama militer ini menjadi fondasi penting sebelum pemerintah berani mengambil risiko membuka kembali akses jalur darat sepanjang 680 kilometer.
Selain masalah terorisme, hubungan kedua negara juga kerap diwarnai ketegangan akibat sengketa wilayah maritim di Samudra Hindia. Wilayah yang diperebutkan tersebut disinyalir menyimpan cadangan minyak dan gas bumi dalam jumlah yang sangat besar. Persaingan memperebutkan sumber daya alam ini sempat membuat suhu diplomatik antara Nairobi dan Mogadishu memanas selama beberapa tahun terakhir.
Meskipun Mahkamah Internasional (ICJ) telah memenangkan sebagian besar wilayah sengketa kepada Somalia pada 2021, Kenya secara tegas menolak putusan tersebut. Kendati demikian, pengumuman terbaru mengenai pembukaan perbatasan Kenya dan Somalia memberikan sinyal positif bagi rekonsiliasi kedua negara. Publik kini berharap pembukaan akses pada April mendatang dapat berjalan lancar tanpa gangguan keamanan yang berarti.