Uptodai.com - SKK Migas menargetkan penyelesaian proyek gas Blok Masela melalui keputusan investasi final atau Final Investment Decision (FID) pada akhir tahun 2026 mendatang. Namun, pemerintah memberikan syarat ketat agar kepastian pembeli gas sudah tersedia sebelum proses tersebut tuntas sepenuhnya.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menekankan pentingnya kontrak Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) bagi keberlangsungan proyek raksasa ini. Ia berharap INPEX selaku operator dapat segera mengamankan komitmen dari para calon pembeli dalam waktu dekat. Langkah ini bertujuan untuk menjamin nilai keekonomian proyek sebelum dana investasi besar-besaran mulai mengalir.

Djoko menginginkan komitmen pembeli gas sudah mencapai kesepakatan sebelum target FID pada Desember 2026 tercapai. Setidaknya, pada awal atau pertengahan Desember tahun tersebut, identitas pembeli LNG sudah harus jelas secara legal. Hal ini ia sampaikan dalam Rapat Koordinasi Proyek Strategis Nasional Onshore LNG Abadi Masela di Kementerian Keuangan.

Urgensi Kepastian Pembeli Sebelum Keputusan Investasi

Kepastian pasar menjadi faktor krusial dalam industri hulu migas, terutama untuk proyek dengan skala sebesar Masela. Tanpa adanya pembeli yang terikat kontrak, risiko investasi akan meningkat tajam bagi para pemangku kepentingan. Oleh karena itu, SKK Migas terus mendorong akselerasi negosiasi komersial dengan berbagai pihak potensial.

Djoko kemudian membandingkan progres Masela dengan beberapa proyek migas lain yang menunjukkan pergerakan lebih cepat. Perusahaan energi global seperti Eni dan Mubadala menjadi contoh entitas yang mampu mempercepat proses FID mereka. Kecepatan tersebut terjadi karena mereka telah mengantongi kepastian harga dan memenangkan lelang pasar lebih awal.

Eni bahkan dijadwalkan menandatangani kesepakatan investasi dalam waktu dekat karena urusan pasar domestik dan luar negerinya sudah rampung. Pola efisiensi seperti inilah yang ingin diterapkan pada proyek gas Blok Masela agar tidak terus mengalami penundaan. Pemerintah berkomitmen memberikan dukungan penuh agar hambatan birokrasi dan komersial dapat segera teratasi.

Potensi Raksasa Lapangan Abadi di Laut Arafura

Lapangan Abadi yang berada di dalam Blok Masela merupakan aset strategis nasional dengan cadangan gas laut dalam terbesar di Indonesia. Lokasinya terletak sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman mencapai 800 meter. Potensi gas dari lapangan ini diperkirakan menembus angka 6,97 triliun kaki kubik (TCF).

Kontrak bagi hasil atau Production Sharing Contract (PSC) Masela sendiri telah mendapatkan perpanjangan masa kelola hingga tahun 2055. Proyek ini diproyeksikan mampu menghasilkan 9,5 juta metrik ton LNG per tahun (MMTPA) serta gas pipa sebesar 150 MMSCFD. Selain gas, Lapangan Abadi juga menyimpan potensi produksi kondensat hingga 35.000 barel per hari.

Pengembangan lapangan ini masuk dalam kategori greenfield yang memiliki tingkat kompleksitas teknologi sangat tinggi. Para kontraktor harus menghadapi tantangan pengeboran air dalam, pembangunan fasilitas subsea, hingga pengoperasian FPSO. Selain itu, pembangunan kilang LNG di darat (onshore) menjadi bagian tak terpisahkan dari skema pengembangan ini.

Dampak Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja

Meskipun penuh tantangan teknis, proyek ini menawarkan peluang besar bagi Pertamina Hulu Energi (PHE) dan mitra strategis lainnya. Keberhasilan pengembangan Blok Masela akan memperkuat ketahanan energi nasional secara signifikan dalam jangka panjang. Selain itu, proyek ini menjadi bukti kemampuan Indonesia dalam mengelola lapangan migas dengan risiko tinggi.

Dari sisi ekonomi makro, pengembangan lapangan ini berpotensi menyerap hingga 10.000 tenaga kerja selama masa konstruksi dan operasi. Hal ini tentu akan memberikan dampak pengganda (multiplier effect) yang positif bagi pertumbuhan ekonomi di wilayah Indonesia Timur. Pemerintah berharap proyek ini menjadi motor penggerak industri pendukung lainnya di sekitar Maluku.

Dengan target yang sudah ditetapkan, koordinasi antar-lembaga seperti Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan menjadi kunci utama. Kepastian regulasi dan insentif fiskal diharapkan mampu menjaga minat investor global untuk tetap berkomitmen pada proyek gas Blok Masela. Keberhasilan proyek ini nantinya akan menempatkan Indonesia kembali sebagai pemain utama dalam pasar LNG global.