Uptodai.com - Proyek Gas Blok Masela kini memasuki babak baru dengan target investasi raksasa yang mencapai US$ 21 miliar atau setara Rp352 triliun. Pemerintah Indonesia melalui SKK Migas terus mematangkan persiapan agar keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) bisa terlaksana tepat waktu. Target besar ini diharapkan dapat terealisasi sepenuhnya pada akhir tahun 2026 mendatang.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menegaskan bahwa kepastian kontrak penjualan menjadi syarat mutlak sebelum proyek ini benar-benar berjalan. Pihaknya mendorong Inpex Masela Ltd selaku operator untuk segera mengamankan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG). Kepastian ini sangat krusial guna menjamin keberlangsungan operasional dan finansial proyek dalam jangka panjang.

Djoko menjelaskan bahwa idealnya pembeli gas sudah harus tersedia sebelum status FID ditetapkan oleh para investor. Jika target FID jatuh pada akhir Desember 2026, maka kesepakatan dengan pembeli LNG setidaknya harus rampung pada awal bulan yang sama. Hal ini bertujuan untuk memberikan rasa aman bagi para pemegang saham terkait serapan produksi gas nantinya.

Daftar Calon Pembeli Proyek Gas Masela di Pasar Domestik

Saat ini, Inpex tengah menjajaki kesepakatan awal atau Heads of Agreement (HOA) dengan sejumlah raksasa industri dalam negeri. Daftar Pembeli Gas Masela untuk lingkup domestik mencakup PT PLN (Persero), PT PGN Tbk, hingga PT Pupuk Indonesia. Meski saat ini statusnya masih bersifat non-binding atau tidak mengikat, komunikasi terus berjalan intensif.

Pemerintah berharap serapan gas dari Lapangan Abadi ini dapat memperkuat ketahanan energi nasional secara signifikan. Selain untuk kebutuhan pembangkit listrik, gas tersebut juga akan dialokasikan untuk mendukung industri pupuk dan manufaktur lainnya. Langkah ini sejalan dengan visi hilirisasi industri yang tengah digalakkan oleh pemerintah pusat.

Menteri terkait juga sempat mempertanyakan kemungkinan keterlibatan sektor industri lain di luar PGN dan PLN. Diversifikasi pembeli dianggap penting agar risiko pasar tidak bertumpu pada satu atau dua entitas saja. Dengan demikian, ekosistem pemanfaatan gas di Indonesia akan menjadi lebih kompetitif dan stabil di masa depan.

Ekspansi ke Pasar Global dan Persaingan Proyek Migas

Selain fokus pada kebutuhan dalam negeri, Investasi LNG Abadi Masela juga melirik potensi pasar internasional. Djoko Siswanto menyebutkan bahwa pencarian pembeli dari luar negeri menjadi agenda penting dalam strategi pemasaran mereka. Lingkup global tetap menjadi target utama mengingat kapasitas produksi gas Masela yang sangat besar.

Jika dibandingkan dengan proyek migas lain, tantangan yang dihadapi Blok Masela tergolong cukup besar namun menjanjikan. Sebagai contoh, proyek yang dikelola oleh Eni dan Mubadala cenderung bergerak lebih cepat dalam mencapai tahapan FID. Hal ini disebabkan oleh proses lelang dalam dan luar negeri yang sudah mencapai tahap finalisasi harga.

Pemerintah optimis bahwa Masela akan segera menyusul kesuksesan proyek-proyek migas lainnya di Indonesia. Percepatan kesepakatan pengembangan LNG (LDA) ditargetkan bisa rampung sepenuhnya pada akhir tahun ini. Langkah ini akan menjadi fondasi kuat bagi Inpex untuk menetapkan langkah strategis berikutnya di Laut Arafura.

Potensi Raksasa Lapangan Abadi di Laut Arafura

Lapangan Abadi yang berada di dalam Blok Masela merupakan salah satu cadangan gas laut dalam terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia. Lokasinya terletak sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena dengan kedalaman laut mencapai 400 hingga 800 meter. Kondisi geografis ini menuntut teknologi tinggi dalam proses eksplorasi dan produksinya.

Berdasarkan data teknis, potensi cadangan gas di lapangan ini diperkirakan mencapai 6,97 triliun kaki kubik (TCF). Melalui kontrak bagi hasil yang telah diperpanjang hingga tahun 2055, proyek ini diproyeksikan menghasilkan 9,5 MMTPA LNG. Selain itu, terdapat potensi gas pipa sebesar 150 MMSCFD yang bisa dimanfaatkan untuk industri lokal.

Tidak hanya gas, Lapangan Abadi juga diperkirakan mampu memproduksi kondensat sebanyak 35.000 barel per hari. Kehadiran proyek ini diharapkan memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat di sekitar wilayah Maluku. Pengembangan lapangan migas baru atau greenfield ini akan menjadi tonggak sejarah bagi industri energi di tanah air.