Legenda Belanda Bela Maarten Paes dari Kritik Tajam di Ajax
Uptodai.com - Performa Maarten Paes di Ajax Amsterdam kini tengah menjadi sorotan tajam publik sepak bola Belanda setelah laga pekan ke-25 Eredivisie. Meski berhasil menjaga gawangnya tetap perawan saat menghadapi PEC Zwolle, kiper andalan Timnas Indonesia ini justru banjir kritik.
Pertandingan yang berlangsung di Stadion Marc 3 Park pada Minggu (1/3/2026) tersebut berakhir dengan skor kacamata 0-0. Paes sebenarnya tampil cukup gemilang dalam menghalau serangan lawan dan melakukan beberapa penyelamatan krusial yang menyelamatkan wajah Ajax.
Namun, hasil imbang tanpa gol tersebut rupanya tidak cukup untuk memuaskan para pengamat sepak bola di Negeri Kincir Angin. Sorotan utama para analis justru tertuju pada kemampuan distribusi bola Paes yang dianggap tidak sesuai dengan filosofi permainan De Godenzonen.
Kritik Pedas Kenneth Perez dan Masalah Distribusi Bola
Mantan pemain Barcelona yang kini aktif sebagai analis, Kenneth Perez, melontarkan komentar yang cukup pedas terhadap kiper berusia 27 tahun tersebut. Perez menilai kehadiran Paes di bawah mistar gawang justru menimbulkan masalah baru dalam skema serangan balik tim.
Ia menyoroti bagaimana Paes seringkali melepaskan umpan-umpan yang dianggap berisiko dan tidak akurat bagi rekan setimnya. Menurut Perez, Ajax sudah lama tidak memiliki masalah sebesar ini di posisi penjaga gawang, terutama dalam hal memulai serangan dari lini belakang.
Statistik pertandingan memang menunjukkan angka yang kurang menggembirakan bagi sang kiper dalam aspek permainan kaki. Dari 14 percobaan operan jarak jauh, Paes hanya mampu mencatatkan 6 umpan yang tepat sasaran ke arah rekan setimnya.
Statistik Buruk Penguasaan Bola Ajax
Analis Marciano Vink juga memberikan pandangan kritis terhadap performa Maarten Paes di Ajax secara keseluruhan dalam program “Dit Was Het Weekend”. Vink mencatat bahwa Ajax kehilangan penguasaan bola sebanyak 157 kali sepanjang pertandingan melawan PEC Zwolle.
Angka ini jauh melampaui rata-rata tim papan bawah Eredivisie yang biasanya hanya kehilangan sekitar 120 bola dalam satu laga. Ketidakmampuan menjaga ritme permainan ini membuat Ajax kesulitan mendominasi jalannya pertandingan meski unggul secara materi pemain.
Meskipun Paes mencatatkan 32 operan pendek sukses dari 41 percobaan, gaya bermainnya dianggap masih sangat kaku. Hal ini menjadi bahan diskusi hangat karena Ajax merupakan tim yang sangat mengandalkan skema build-up dari area pertahanan sendiri.
Pembelaan untuk Adaptasi Maarten Paes
Di tengah derasnya kritik Kenneth Perez untuk Maarten Paes, Marciano Vink mencoba memberikan sudut pandang yang lebih objektif. Vink memahami bahwa kesulitan yang dialami Paes merupakan bagian dari proses adaptasi yang wajar bagi pemain baru.
Ia menegaskan bahwa gaya bermain yang menuntut kiper aktif dalam permainan kaki adalah hal baru bagi penjaga gawang kelahiran Nijmegen tersebut. Selama berkarier di MLS bersama FC Dallas, Paes lebih sering diinstruksikan untuk fokus pada penyelamatan gawang daripada distribusi bola.
Sistem permainan di Ajax menuntut seorang kiper untuk memiliki ketenangan layaknya seorang gelandang saat memegang bola. Perubahan peran ini tentu membutuhkan waktu penyesuaian yang tidak sebentar, terutama di liga dengan intensitas tinggi seperti Eredivisie.
Dukungan juga mengalir dari para penggemar yang melihat bahwa aspek pertahanan Ajax jauh lebih stabil sejak Paes bergabung. Keberhasilan mencatatkan clean sheet dalam laga tersebut menjadi bukti nyata bahwa kualitas teknisnya dalam menghalau bola tetap berada di level tertinggi.
Kini, tantangan besar berada di pundak Maarten Paes untuk membuktikan bahwa ia mampu mengasah kemampuan kakinya demi memenuhi standar Ajax. Dengan dukungan staf pelatih dan pengalaman internasionalnya, Paes diharapkan mampu membungkam kritik pada pertandingan-pertandingan mendatang.