Krisis Energi di Filipina: Harga BBM Tembus Rp30 Ribu per Liter
Uptodai.com - Krisis energi di Filipina kini memasuki tahap yang sangat mengkhawatirkan setelah pemerintah setempat resmi menetapkan status darurat nasional. Presiden Ferdinand R. Marcos Jr. mengambil keputusan berani ini pada Selasa, 24 Maret 2026, menyusul guncangan hebat pada pasokan energi domestik. Lonjakan harga yang tidak terkendali menjadi alasan utama di balik penetapan status tersebut.
Situasi ini merupakan dampak langsung dari memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah yang terjadi sejak akhir Februari lalu. Ketegangan tersebut mengganggu jalur distribusi minyak mentah global, terutama di Selat Hormuz yang merupakan urat nadi energi dunia. Penutupan jalur oleh Iran memberikan tekanan besar bagi negara importir seperti Filipina.
Filipina memang sangat rentan terhadap gejolak pasar global karena ketergantungan impor minyaknya mencapai 90 persen. Saat pasokan di pasar internasional tersendat, harga di tingkat retail domestik langsung meroket tajam. Masyarakat kini harus menghadapi kenyataan pahit terkait biaya hidup yang melambung tinggi akibat keterbatasan stok.
Lonjakan Harga BBM dan Opsi Penggunaan Bahan Bakar Kotor
Laporan terbaru menyebutkan bahwa harga solar di Filipina telah melonjak hingga dua kali lipat dari harga normal. Saat ini, harga solar menembus angka 120 peso atau setara dengan Rp33.000 per liter di berbagai wilayah. Sementara itu, harga bensin di Filipina diperkirakan segera melampaui kisaran 110 peso atau sekitar Rp30.000 per liter.
Kenaikan harga yang drastis ini menghantam sektor transportasi publik secara langsung, terutama para pengemudi jeepney dan becak motor. Biaya operasional harian yang membengkak membuat pendapatan bersih mereka menurun secara drastis setiap harinya. Pemerintah pun mulai mempertimbangkan langkah-langkah ekstrem untuk menjaga ketersediaan stok di pasar tetap aman.
Salah satu kebijakan yang menuai sorotan tajam adalah rencana pembukaan opsi penggunaan BBM kotor dengan standar Euro II. Meskipun memiliki dampak lingkungan yang lebih besar, langkah ini dianggap perlu untuk memastikan kendaraan logistik tetap bisa beroperasi. Departemen Energi Filipina menegaskan bahwa situasi saat ini sudah berada pada titik yang sangat kritis.
Cadangan Menipis dan Strategi Impor Minyak dari Rusia
Data internal pemerintah menunjukkan bahwa cadangan bahan bakar nasional Filipina berada di level yang sangat mengkhawatirkan. Stok bensin tercatat hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional selama 53 hari ke depan. Sementara itu, stok diesel hanya tersisa untuk 46 hari dan bahan bakar jet untuk operasional penerbangan tersisa 39 hari.
Untuk mengatasi kekurangan pasokan yang akut, Manila mulai mencari sumber energi alternatif di luar kawasan Timur Tengah. Filipina akhirnya memutuskan untuk kembali mengimpor minyak dari Rusia setelah sempat terhenti selama lima tahun terakhir. Langkah diplomasi energi ini diambil sebagai strategi diversifikasi demi mengamankan ketahanan energi nasional yang mulai goyah.
Kapal tanker Sara Sky dilaporkan sedang menuju terminal Bataan dengan membawa muatan sekitar 750.000 barel minyak jenis ESPO Blend. Kehadiran pasokan dari Rusia ini diharapkan mampu memberikan napas lega bagi industri transportasi dan manufaktur dalam negeri. Pemerintah juga terus memantau pergerakan harga minyak dunia secara intensif setiap jamnya.
Kebijakan Penghematan Energi di Instansi Pemerintah
Selain mencari pasokan baru dari luar negeri, pemerintah Filipina juga mulai memberlakukan protokol penghematan energi yang sangat ketat. Sejumlah instansi pemerintah diminta untuk mengurangi konsumsi listrik dan membatasi penggunaan kendaraan dinas secara signifikan. Langkah ini bertujuan untuk menekan pengeluaran negara di tengah krisis ekonomi yang melanda.
Masyarakat luas juga diimbau untuk mulai beralih ke moda transportasi yang lebih efisien atau mengurangi mobilitas yang tidak mendesak. Krisis ini menjadi pengingat keras bagi Filipina tentang pentingnya kemandirian energi di masa depan. Upaya transisi menuju energi terbarukan kini mulai kembali menjadi perbincangan hangat di level kebijakan tertinggi.
Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan ketegangan di Selat Hormuz akan mereda dan harga minyak kembali stabil. Filipina harus bersiap menghadapi masa-masa sulit dalam beberapa bulan ke depan jika konflik global terus berlanjut. Sinergi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi kunci utama untuk melewati badai ekonomi yang dipicu oleh krisis energi ini.