PHRI Targetkan Okupansi Hotel Libur Nataru di Atas 80 Persen
Uptodai.com - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menargetkan angka okupansi hotel libur Nataru (Natal dan Tahun Baru) dapat mencapai rata-rata di atas 80 persen. Optimisme ini muncul seiring dengan proyeksi tingginya pergerakan masyarakat yang memanfaatkan masa libur panjang.
Peningkatan target tersebut didorong oleh adanya berbagai stimulus yang diharapkan mampu mengerek minat masyarakat untuk bepergian. Apalagi, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah mencatat potensi pergerakan masif hingga 119,5 juta orang, baik lintas provinsi maupun di dalam wilayah masing-masing.
PHRI Targetkan Okupansi Hotel Libur Nataru di Atas 80 Persen
Lonjakan pergerakan yang diprediksi Kemenhub tersebut secara langsung sejalan dengan peningkatan aktivitas sektor pariwisata, termasuk industri perhotelan. Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran, menjelaskan bahwa target rata-rata 80 persen tersebut berfokus pada hari-hari puncak menjelang pergantian tahun.
Maulana berharap, setidaknya ada empat hari krusial yang tersisa dalam periode Nataru yang mampu mendongkrak angka hunian secara signifikan. Walaupun demikian, Maulana mengakui bahwa kondisi okupansi di setiap daerah menunjukkan angka yang sangat bervariasi dan bersifat dinamis.
Variasi Okupansi Regional dan Daerah yang Sudah Melonjak
Hingga saat ini, beberapa daerah sudah melaporkan lonjakan okupansi yang cukup memuaskan. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Bandung di Jawa Barat, beberapa kawasan di Jawa Tengah, serta Jawa Timur, khususnya area wisata Batu dan Malang.
Pulau Dewata, Bali, sebagai destinasi favorit internasional, juga dilaporkan mengalami peningkatan hunian yang signifikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa destinasi wisata yang memiliki daya tarik alam dan hiburan yang kuat cenderung menjadi pilihan utama para pelancong akhir tahun.
Namun, tidak semua wilayah menunjukkan tren positif yang sama. Beberapa daerah masih mencatatkan angka okupansi yang relatif rendah. Misalnya, Sulawesi Selatan, terutama Makassar, yang huniannya masih berada di kisaran 30 persen.
Sumatera Barat dan Sumatera Utara juga menghadapi tantangan serupa, bahkan diperparah dengan dampak bencana alam yang terjadi di beberapa titik. Situasi ini membuat rencana perjalanan wisatawan ke daerah tersebut menjadi tertunda atau dibatalkan.
Tantangan Dinamis: Cuaca Ekstrem dan Pergeseran Pola Liburan
Maulana Yusran menilai bahwa tantangan untuk mencapai target 80 persen pada tahun ini tidaklah ringan. Salah satu faktor utama yang sangat memengaruhi keputusan wisatawan adalah cuaca ekstrem yang kerap terjadi di akhir tahun.
Cuaca yang tidak menentu tersebut sering menghambat aktivitas wisata, terutama bagi mereka yang melakukan perjalanan darat atau mengharapkan kenyamanan maksimal selama berlibur. Akibatnya, banyak rencana perjalanan yang terpaksa ditunda, bahkan dibatalkan.
Selain faktor cuaca, PHRI juga mencermati adanya pergeseran pola liburan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian besar wisatawan kini memilih untuk berangkat lebih awal demi menghindari kepadatan lalu lintas dan puncak keramaian.
Sebaliknya, ada pula kelompok yang justru menunda perjalanan hingga periode Nataru hampir berakhir. Perbedaan waktu keberangkatan ini membuat angka okupansi hotel menjadi tersebar dan tidak terkonsentrasi di satu titik waktu saja.
Dampak Daya Beli dan Harga Tiket Transportasi
Tantangan lain yang dihadapi industri perhotelan adalah masalah daya beli masyarakat. Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok dan harga tiket transportasi yang masih dianggap kurang terjangkau, masyarakat cenderung lebih selektif dalam memilih akomodasi.
Banyak wisatawan yang mulai beralih ke alternatif penginapan non-hotel atau memilih destinasi yang lebih dekat dengan domisili mereka. Kondisi ini menuntut pengelola hotel untuk semakin kreatif dalam menawarkan paket liburan yang kompetitif dan menarik, sehingga target okupansi hotel libur Nataru tetap bisa tercapai.