Uptodai.com - Aturan head-to-head BRI Super League kembali menjadi sorotan utama seiring semakin sengitnya persaingan di papan atas klasemen musim ini. Persaingan antara Persib Bandung dan Borneo FC kini memasuki fase krusial yang mengingatkan publik pada drama perebutan juara di masa lalu. Kedua tim papan atas ini terus saling sikut demi mengamankan posisi puncak hingga pekan-pekan terakhir kompetisi.

Regulasi ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan penentu nasib yang sangat krusial bagi klub-klub besar di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa sistem ini pernah memicu perdebatan panjang sekaligus menjadi mimpi buruk bagi tim yang sebenarnya unggul dalam produktivitas gol. Kini, bayang-bayang sejarah tersebut kembali menghantui jalannya kompetisi kasta tertinggi tanah air yang semakin sulit diprediksi.

Kilas Balik Drama Bhayangkara FC dan Bali United

Penerapan aturan rekor pertemuan ini sebenarnya sudah mulai konsisten digunakan sejak musim 2014 untuk menentukan peringkat tim dengan poin sama. Salah satu momen paling ikonik terjadi pada edisi 2017 saat Bhayangkara FC keluar sebagai juara mengungguli Bali United. Padahal, jika menilik selisih gol, Bali United memiliki catatan yang jauh lebih impresif dibandingkan sang rival.

Kala itu, The Guardians dan Serdadu Tridatu sama-sama mengoleksi 68 poin di akhir musim yang sangat melelahkan. Bali United memimpin dengan selisih gol mencapai +38, sementara Bhayangkara FC hanya mengantongi selisih gol sebesar +21. Namun, kemenangan Bhayangkara FC dalam dua pertemuan langsung membuat mereka berhak mengangkat trofi juara yang prestisius tersebut.

Kejadian serupa juga terulang pada musim 2021/2022, namun kali ini konteksnya adalah perjuangan untuk menghindari zona degradasi. Barito Putera dan Persipura Jayapura terjebak dalam perolehan poin yang identik, yakni 36 angka di klasemen akhir. Meskipun persaingan sangat ketat, Barito Putera akhirnya selamat berkat keunggulan rekor pertemuan atas tim Mutiara Hitam.

Persib Bandung Ungguli Borneo FC Secara Teknis

Memasuki pekan ke-29 musim ini, potensi penggunaan aturan head-to-head BRI Super League kembali terbuka lebar bagi Persib dan Borneo FC. Saat ini, sang juara bertahan Persib Bandung dan sang penantang kuat Borneo FC sama-sama mengoleksi 66 poin. Ketegangan meningkat karena setiap kesalahan kecil di sisa laga bisa berakibat fatal bagi ambisi juara kedua tim.

Persib Bandung saat ini berada dalam posisi yang sedikit lebih menguntungkan jika poin kedua tim tetap sama hingga akhir musim. Maung Bandung sukses menumbangkan Borneo FC dengan skor telak 3-1 pada pertemuan pertama mereka musim ini. Sementara itu, pada laga tandang ke Samarinda, anak asuh Bojan Hodak berhasil memaksakan hasil imbang 1-1 yang sangat berharga.

Catatan positif ini membuat Persib tetap berada di atas Borneo FC meskipun tim Pesut Etam unggul tipis dalam selisih gol. Borneo FC saat ini mencatatkan selisih gol +33, sedangkan Persib Bandung membuntuti dengan selisih gol +32. Situasi ini membuktikan bahwa kemenangan dalam duel langsung antar tim papan atas memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada sekadar mencetak banyak gol ke gawang tim lain.

Skenario Lima Pertandingan Sisa yang Menentukan

Meskipun Persib unggul secara regulasi pertemuan, masih ada lima pertandingan sisa yang bisa mengubah peta persaingan secara drastis. Persib Bandung memiliki jadwal yang cukup menantang dengan melakoni laga tandang melawan Bhayangkara FC dan Persija Jakarta. Selain itu, mereka harus menjamu PSIM Yogyakarta serta Persijap Jepara di kandang sendiri sebelum menutup musim melawan PSM Makassar.

Di sisi lain, Borneo FC juga harus melewati hadangan berat demi menjaga asa meraih gelar juara musim ini. Mereka dijadwalkan bertandang ke markas Persik Kediri, Bali United, dan Persijap Jepara dalam waktu yang berdekatan. Laga kandang melawan Persita Tangerang dan Malut United menjadi kesempatan emas bagi tim asuhan Pieter Huistra untuk terus menekan posisi Persib.

Para pelatih dari kedua kubu tentu harus memutar otak untuk menjaga kebugaran pemain di tengah jadwal yang sangat padat. Konsistensi menjadi kunci utama karena terpeleset di satu pertandingan saja bisa membuat keunggulan head-to-head menjadi tidak relevan. Publik sepak bola nasional kini menanti siapa yang akan tetap berdiri tegak saat peluit akhir musim dibunyikan.