Uptodai.com - Perkembangan teknologi REEV dan series hybrid kini tengah menjadi sorotan utama dalam industri otomotif global yang sedang bertransisi menuju era elektrifikasi. Kedua sistem ini menawarkan solusi cerdas bagi konsumen yang menginginkan sensasi berkendara layaknya mobil listrik murni namun tanpa kecemasan akan daya jangkau baterai. Dengan mengandalkan motor listrik sebagai penggerak utama roda, pengemudi dapat merasakan respons torsi instan yang sangat halus. Kehadiran teknologi ini dinilai sangat relevan untuk pasar berkembang seperti Indonesia yang infrastruktur pengisian dayanya belum merata.

Beberapa contoh kendaraan yang menerapkan sistem ini adalah Changan Deepal S05 REEV dan Mazda MX-30 R-EV untuk kategori REEV. Sementara itu, untuk kategori series hybrid, kita dapat melihat performa tangguh dari Daihatsu Rocky e-Smart Hybrid dan Nissan Kicks e-POWER. Meskipun berada dalam kategori yang sedikit berbeda, keempat model ini memiliki kesamaan mendasar pada sistem mekanisnya. Mesin pembakaran internal yang disematkan sama sekali tidak terhubung ke roda, melainkan hanya bertugas sebagai generator pengisi daya baterai.

Perbedaan Mendasar REEV dan Series Hybrid

Meskipun serupa, terdapat perbedaan kunci yang membedakan kedua teknologi ramah lingkungan ini dalam penggunaan sehari-hari. Kendaraan jenis series hybrid murni hanya mengandalkan bahan bakar bensin untuk mengaktifkan generator tanpa opsi pengisian daya eksternal. Sebaliknya, sistem REEV dibekali dengan kapasitas baterai yang jauh lebih besar dan memiliki soket pengisian daya layaknya mobil listrik murni. Keunggulan REEV ini memungkinkan mobil berjalan lebih jauh dan senyap hanya dengan mengandalkan daya baterai yang telah dicas.

Arsitektur Simpel Sebagai Kunci Sukses Utama

Kunci sukses utama dari kedua sistem ini terletak pada kesederhanaan arsitektur mekanis yang diusungnya. Berbeda dengan mobil PHEV atau HEV konvensional, sistem ini tidak memerlukan Dedicated Hybrid Transmission (DHT) yang rumit dan mahal. Ketiadaan transmisi khusus ini secara signifikan memangkas biaya produksi pabrikan otomotif di seluruh dunia. Alhasil, harga jual kendaraan ke konsumen akhir dapat ditekan menjadi jauh lebih kompetitif di pasaran.

Menurut Dwi Setiyoko selaku Technical Sales Changan Indonesia, efisiensi biaya produksi ini memberikan ruang bagi pabrikan untuk memaksimalkan fitur harian lainnya. Selain hemat biaya, kelebihan lain dari arsitektur yang ringkas ini adalah fleksibilitas desain ruang mesin yang sangat kompak. Contoh nyata dari efisiensi ruang ini dapat kita temukan pada model legendaris BMW i3 REx. Mobil kompak tersebut sukses memanfaatkan mesin dua silinder berkapasitas hanya 647 cc sebagai generator cadangan.

Solusi Transisi Menuju Era Elektrifikasi Penuh

Bagi konsumen, memilih kendaraan dengan sistem ini juga berarti mendapatkan biaya perawatan yang jauh lebih murah dalam jangka panjang. Minimnya komponen bergerak pada sistem transmisi mengurangi risiko kerusakan mekanis yang sering terjadi pada mobil konvensional. Selain itu, efisiensi bahan bakar yang dihasilkan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mobil bermesin bensin biasa. Oleh karena itu, teknologi ini diprediksi akan terus mendominasi pasar sebelum transisi menuju kendaraan listrik berbasis baterai sepenuhnya terwujud.