Uptodai.com - Startup AI DeepSeek asal China kini tengah mempersiapkan langkah besar untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO) dengan target valuasi fantastis mencapai Rp 1.300 triliun. Langkah agresif ini diambil setelah perusahaan rintisan yang berbasis di Hangzhou tersebut sukses mengamankan pendanaan jumbo pada Juni lalu. Rencana melantai di bursa teknologi STAR Market Shanghai ini diproyeksikan bakal memperkokoh posisi mereka di panggung global. Kehadiran mereka kian memperuncing persaingan teknologi antara raksasa Asia dan Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan internal, perusahaan besutan Liang Wenfeng ini menargetkan penghimpunan dana segar baru hingga 50 miliar yuan. Keputusan untuk melantai di bursa saham yang kerap dijuluki Nasdaq-nya China tersebut ditargetkan rampung pada akhir tahun ini. Meskipun demikian, beberapa sumber menyebutkan bahwa proses penggalangan dana dan rencana IPO ini masih berada pada tahap awal. Nilai investasi serta jadwal peluncuran saham perdana tersebut masih sangat dinamis dan berpotensi berubah.

Ancaman Nyata Bagi Dominasi Teknologi Amerika Serikat

Kehadiran model kecerdasan buatan R1 dari DeepSeek sebelumnya sempat memicu kepanikan luar biasa di kalangan raksasa teknologi Silicon Valley. Model AI besutan mereka terbukti mampu menandingi performa teknologi buatan AS, namun dengan biaya operasional yang jauh lebih murah. Fenomena ini langsung memicu aksi jual massal yang merontokkan nilai saham berbagai korporasi teknologi papan atas Amerika Serikat. Efisiensi biaya inilah yang menjadi senjata utama China dalam mendisrupsi pasar global.

Untuk mempertahankan keunggulan kompetitifnya, DeepSeek kini tengah gencar melakukan ekspansi besar-besaran di berbagai lini bisnis. Mereka berencana melipatgandakan jumlah tenaga kerja, khususnya untuk divisi pusat data dan pengembangan sistem AI agent pintar. Selain itu, mereka juga dilaporkan tengah mengembangkan chip AI khusus secara mandiri demi mengatasi ketergantungan pasokan global. Langkah ini sangat krusial di tengah ketatnya pembatasan ekspor teknologi semikonduktor yang diberlakukan oleh pemerintah Amerika Serikat.

Sebelumnya, pendiri DeepSeek mengandalkan modal pribadi dari perusahaan hedge fund kuantitatif miliknya, High-Flyer, untuk membiayai seluruh operasional awal. Namun, tingginya biaya riset dan pengembangan infrastruktur komputasi modern memaksa perusahaan untuk akhirnya membuka pintu bagi investor luar. Ambisi besar ini menandai babak baru dalam perang dingin teknologi modern antara Washington dan Beijing. Pasar kini menanti apakah langkah berani ini mampu meruntuhkan dominasi mutlak yang selama ini dipegang oleh OpenAI dan Google.