Uptodai.com - Kasus kebocoran data pembangkit nuklir India baru-baru ini mengguncang sektor keamanan siber internasional setelah kelompok peretas World Leaks mengunggah dokumen sensitif ke dark web. Kelompok ransomware tersebut menyebarkan hampir 19.000 file berukuran 14,3 gigabita yang berisi cetak biru fasilitas pendukung dan data pemasok komponen. Meskipun data tersebut telah tersebar luas, pihak berwenang berupaya meredam kepanikan publik dengan merilis pernyataan resmi terkait kondisi riil di lapangan.

Respons Resmi dan Sumber Kebocoran Data

Nuclear Power Corporation of India (NPCIL) menegaskan bahwa sistem keamanan utama reaktor nuklir mereka dipastikan tetap aman dan tidak terganggu sama sekali. Otoritas menjelaskan bahwa dokumen yang bocor hanya berkaitan dengan bagian konvensional yang serupa dengan pembangkit listrik termal biasa. Berdasarkan penyelidikan, data tersebut dicuri dari server eksternal milik Reliance Group yang dikelola oleh penyedia pusat data pihak ketiga, Yotta. Pihak Yotta sendiri mengeklaim telah mendeteksi aktivitas mencurigakan ini sejak akhir Mei lalu.

Ancaman Nyata pada Infrastruktur Kritis Global

Insiden ini menambah daftar panjang kerentanan sistem digital yang dihadapi oleh instalasi vital di kawasan Asia Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, pada tahun 2019, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Kudankulam di India juga pernah menjadi sasaran serangan siber serupa yang melibatkan malware canggih. Para ahli menilai bahwa ketergantungan yang tinggi pada vendor pihak ketiga sering kali menjadi pintu masuk utama bagi para peretas untuk menyusup ke jaringan yang lebih aman. Tren ini menunjukkan bahwa sektor energi global kini menjadi target empuk dalam perang siber modern.

Meskipun data yang bocor diklaim bukan bagian dari sistem kendali reaktor utama, para pengamat pertahanan tetap memperingatkan potensi bahaya jangka panjang. Nickolas Roth dari Nuclear Threat Initiative menyatakan bahwa hilangnya dokumen internal seperti cetak biru tetap membawa risiko keselamatan yang sangat serius. Informasi mengenai rantai pasok dan struktur fisik bangunan dapat dimanfaatkan oleh aktor jahat untuk merancang serangan fisik maupun digital yang lebih presisi di masa depan. Oleh karena itu, audit keamanan menyeluruh terhadap seluruh mitra kontraktor kini menjadi hal yang sangat mendesak untuk dilakukan.