Uptodai.com - Kabar mengejutkan datang dari pasar modal global setelah saham Elon Musk diserang aksi jual kosong atau short selling secara masif oleh para investor. Langkah spekulatif ini memicu kekhawatiran besar di kalangan pelaku pasar yang memprediksi penurunan harga lebih lanjut. Berdasarkan data terbaru, aksi ini berhasil mendorong posisi bearish hingga sepertiga dari total saham yang beredar di publik.

Laporan dari S3 Partners mengungkapkan bahwa sekitar 185 juta lembar saham telah dijual dalam posisi bearish tersebut. Angka fantastis ini setara dengan 29% saham yang diperdagangkan secara publik dengan nilai taruhan mencapai US$25 miliar. Jumlah ini membengkak sangat drastis dari perkiraan awal yang hanya berkisar antara 40 juta saham saja.

Mengapa Investor Ramai-Ramai Melakukan Short Selling?

Fenomena short selling sendiri merupakan strategi perdagangan di mana investor meminjam saham untuk langsung dijual dengan harapan membelinya kembali saat harga jatuh. Dalam kasus emiten milik Elon Musk ini, sentimen negatif tampaknya dipicu oleh valuasi yang dianggap terlalu tinggi oleh sebagian analis. Selain itu, ketegangan geopolitik dan persaingan ketat di industri kedirgantaraan swasta turut memperburuk sentimen pasar.

Matthew Unterman selaku Kepala Riset S3 Partners menjelaskan bahwa permintaan dari para penjual pendek terus meningkat sejak penawaran umum perdana atau IPO. Momentum ini terjadi tepat sebelum jadwal penguncian saham (lock-up period) berakhir, yang biasanya diawasi sangat ketat oleh pelaku pasar. Berakhirnya masa penguncian ini berpotensi membanjiri pasar dengan pasokan saham baru dalam beberapa bulan ke depan.

Detail Distribusi Saham dan Dampak Lock-up

Menurut laporan dari KeyBanc Capital Markets, IPO SpaceX mewakili sekitar 5% dari total 13 miiliar saham yang beredar saat ini. Pelepasan saham secara besar-besaran diproyeksikan bakal terjadi bersamaan dengan rilis laporan pendapatan kuartal kedua. Pada momen krusial tersebut, sekitar 11% saham diperkirakan akan memenuhi syarat untuk langsung dijual bebas ke publik.

Tidak berhenti di situ, tambahan 4% saham lainnya kemungkinan baru akan dilepas ke pasar pada hari ke-70 pasca-IPO. Pergerakan likuiditas ini nantinya akan sangat bergantung pada pencapaian kinerja operasional serta laporan keuangan kuartal ketiga perusahaan. Di sisi lain, Elon Musk sendiri masih memegang kendali penuh sebagai pemilik saham mayoritas terbesar.

Pendiri SpaceX tersebut diketahui menguasai sekitar 42% dari seluruh saham beredar yang saat ini masih terkunci rapat hingga Juni 2027. Meskipun posisi Musk aman dalam jangka panjang, tekanan jangka pendek dari para short seller ini tetap menjadi ujian berat bagi kredibilitas perusahaannya di mata publik. Pasar kini bersiap mengantisipasi volatilitas tinggi yang mungkin terjadi dalam beberapa pekan mendatang.