Tren Puasa Seks Gen Z: Korbankan Hubungan Demi Startup Sukses
Uptodai.com - Dunia startup global dikenal kejam dan menuntut dedikasi yang hampir tak terbatas. Untuk mencapai status unicorn, para pendiri perusahaan rintisan sering kali harus menukar waktu pribadi mereka dengan jam kerja yang ekstrem.
Fenomena ini kini melahirkan sebuah tren baru yang ekstrem di kalangan para pendiri muda, yakni Tren puasa seks Gen Z. Mereka secara sadar memilih menunda atau menghentikan aktivitas romantis dan seksual demi memaksimalkan fokus dan produktivitas kerja.
Mahalnya Harga Sebuah Kesempatan di Silicon Valley
Mahir Laul, pendiri startup perangkat lunak HR Velric, secara gamblang menggambarkan pergeseran prioritas ini. Menurutnya, hiruk-pikuk kehidupan sosial dan hubungan asmara khas usia muda kini sepenuhnya dikalahkan oleh notifikasi Slack, sesi pitching ke investor, dan jadwal kebugaran yang ketat.
“Ada dua hal yang paling saya pedulikan: gym dan pekerjaan,” ujar Laul. Ia mengaku terobsesi dengan pekerjaannya, bahkan sampai mengorbankan kehidupan percintaannya yang disebutnya berantakan. Situasi ini, menurut Laul, bukan hanya dialami oleh dirinya sendiri.
Banyak pendiri startup lain berada dalam fase yang sama, yakni menjalani gaya hidup yang hampir tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk hubungan romantis, baik yang sifatnya kasual maupun serius. Tekanan untuk membangun startup unicorn berikutnya membuat pilihan waktu menjadi sangat mahal dan tidak bisa ditawar.
Annie Liao, pendiri perusahaan edukasi AI Build Club, mengamini pandangan tersebut. Ia menjelaskan bahwa “harga untuk sebuah kesempatan sangat tinggi” di lingkungan teknologi yang kompetitif. Setiap malam yang dihabiskan untuk keluar dan bersosialisasi dianggap sebagai waktu berharga yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan startup.
Mengapa Gen Z Memilih Gaya Hidup ‘Purity’?
Keputusan untuk menghindari aplikasi kencan dan hubungan romantis yang berpotensi mengganggu bukanlah keputusan emosional, melainkan perhitungan strategis. Para pendiri Gen Z melihat romansa sebagai variabel tak terduga yang dapat mengganggu alur kerja yang sudah terstruktur dengan baik.
Gaya hidup para calon taipan teknologi ini juga ditandai dengan tren disiplin yang menyeluruh. Tidak hanya puasa seks, mereka juga menerapkan hidup tanpa alkohol, disiplin kebugaran yang intensif, serta hubungan yang sangat terukur terhadap makanan yang mereka konsumsi.
Semua aspek kehidupan mereka diarahkan pada bentuk baru dari “kemurnian” atau optimasi diri. Analis melihat fenomena ini sebagai sisi lain dari ambisi besar; mereka memandang tubuh dan pikiran sebagai mesin yang harus berjalan pada efisiensi puncak 24/7.
Pengorbanan ini dilakukan demi mengejar kekayaan dan status secara sistematis. Generasi mogul abad ke-21 ini rela meninggalkan berbagai kenikmatan sosial dan hubungan interpersonal demi satu tujuan utama: kesuksesan finansial dan dominasi pasar.
Hubungan yang Tepat Justru Menjadi Aset
Meskipun mayoritas pendiri memilih jalur isolasi fokus, tidak semua berjalan sendiri. Mereka yang sudah memiliki pasangan yang suportif sejak sebelum masa membangun perusahaan justru merasakan keuntungan yang signifikan.
Yang Fan Yun, cofounder Composite, perusahaan penyedia agen AI di browser web, menegaskan bahwa menjalin hubungan yang stabil justru sangat membantu dalam proses membangun perusahaan. Ia bertemu pasangannya sejak kuliah di Stanford, dan kini sang kekasih ikut membantu dalam proses penting seperti uji produk dan memberikan perspektif objektif.
Laul sendiri mengatakan bahwa ia tidak menolak berpasangan. Namun, ia menekankan bahwa pasangan hidup yang tepat—yang memahami dan mendukung tingkat obsesi terhadap pekerjaan—sangat sulit ditemukan ketika fokus utama seseorang ada pada pekerjaan, bukan pada romansa.
Pada akhirnya, Tren puasa seks Gen Z ini mencerminkan pertukaran sosial yang menarik. Demi mendapatkan return tertinggi dari investasi waktu dan energi mereka, para pendiri muda ini rela menanggalkan hubungan intim, membuktikan bahwa bagi mereka, waktu adalah modal paling berharga, dan gangguan adalah musuh terbesar dalam perjalanan menuju status unicorn.