Ketika Inter Milan Kehilangan Ketajaman di Depan Gawang Arsenal
Uptodai.com - Malam pahit kembali menghampiri Nerazzurri. Inter Milan kehilangan ketajaman yang sangat vital ketika menjamu Arsenal dalam lanjutan Liga Champions 2025/2026.
Kekalahan telak 1-3 di Giuseppe Meazza pada matchday ketujuh fase liga ini bukan hanya sekadar hasil, tetapi juga alarm serius bagi ambisi klub di Eropa. Ini merupakan kekalahan ketiga beruntun yang diderita Inter Milan di kompetisi elite tersebut.
Laga ini seharusnya menjadi momen kebangkitan bagi skuad asuhan Cristian Chivu setelah menelan dua kekalahan beruntun sebelumnya. Sayangnya, alih-alih meraih poin penuh, Inter justru harus mengakui keunggulan tim tamu yang tampil jauh lebih klinis dan efektif.
Inter Milan Tumpul di Depan Gawang, Statistik Menipu
Secara statistik, dominasi Inter Milan terlihat jelas. Mereka mencatatkan total 18 tembakan sepanjang pertandingan, menghasilkan nilai expected goals (xG) mencapai 1,36. Angka ini menunjukkan bahwa peluang yang diciptakan seharusnya cukup untuk mencetak lebih dari satu gol.
Namun, kiper Arsenal, David Raya, hanya dipaksa memungut bola sekali sepanjang 90 menit. Satu-satunya gol tuan rumah tercipta melalui tembakan jarak menengah Petar Sucic yang menggetarkan gawang Arsenal, sebuah momen kejeniusan individu yang tidak didukung oleh efektivitas tim.
Selebihnya, peluang emas yang dibangun oleh Marcus Thuram dan kolega selalu mentah di hadapan pertahanan The Gunners atau melenceng dari target. Disparitas antara jumlah peluang dan konversi gol menjadi masalah krusial yang harus segera diatasi Chivu.
Federico Dimarco, bek sayap andalan Inter, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya seusai pertandingan. Ia menegaskan bahwa masalah utama tim terletak pada efektivitas penyelesaian akhir.
“Kami kekurangan gol, dan saya pikir itu hal utama,” ujar Dimarco, menggarisbawahi kegagalan timnya memanfaatkan momentum. “Kami menghadapi tim kuat di Liga Champions dan juga Premier League, jadi hasil ini sangat disayangkan.”
Efisiensi Brutal Arsenal dan Kutukan Bola Mati
Berbeda dengan tuan rumah, Arsenal menunjukkan efisiensi yang brutal. Mereka menghukum setiap kelengahan Inter dengan penyelesaian yang tajam, terutama melalui situasi bola mati yang kini menjadi senjata andalan Mikel Arteta.
Gol kedua Arsenal yang dicetak Gabriel Jesus pada menit ke-31 menjadi bukti nyata betapa berbahayanya The Gunners dalam situasi tersebut. Gol tersebut lahir dari skema sepak pojok yang tidak dijaga dengan baik oleh lini belakang Nerazzurri.
Dimarco secara spesifik menyoroti kelemahan ini. Ia bahkan menyiratkan bahwa kelemahan Inter pada set piece lawan adalah masalah yang sudah terulang dan terprediksi, mengingat rekam jejak Arsenal di bawah Arteta.
“Saya tidak tahu berapa banyak gol yang mereka cetak dari situasi seperti itu dalam tiga tahun terakhir bersama Arteta,” kata Dimarco. Komentar tersebut menyoroti bahwa Inter gagal belajar dari kelemahan tim lawan.
Nasib Inter Milan di Ujung Tanduk
Hasil Liga Champions Inter Milan ini membuat posisi mereka kian sulit dalam perburuan tiket delapan besar fase liga. Tiga kekalahan beruntun memaksa mereka berada di ambang kegagalan lolos langsung ke babak 16 besar.
Pelatih Cristian Chivu kini harus memutar otak keras untuk memulihkan mental dan ketajaman timnya. Jika performa tumpul ini terus berlanjut, Nerazzurri harus siap menghadapi skenario terburuk, yaitu tampil di babak playoff yang sangat melelahkan dan penuh risiko.
Peluang lolos langsung ke babak 16 besar kini berada di ujung tanduk. Laga terakhir fase liga akan menjadi penentu nasib Inter Milan di kompetisi elite Eropa musim ini, dan mereka harus menemukan kembali insting mencetak gol yang hilang.