Alarm Industri Otomotif: Produksi Hino Merosot Imbas Truk Impor China
Uptodai.com - Periode 2025 tercatat sebagai tahun yang sangat menantang bagi PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI). Tekanan permintaan pasar yang lesu diperparah oleh maraknya Truk Impor China Tekan Hino, menyebabkan kinerja produksi pabrikan asal Jepang ini merosot tajam.
Direktur HMSI, Harianto, secara terbuka mengakui bahwa tahun tersebut adalah periode paling suram yang pernah dialami perseroan. Kompetisi yang tidak seimbang ini mengancam keberlangsungan investasi jangka panjang yang sudah ditanamkan Hino di Tanah Air.
Anjloknya Utilisasi Pabrik Hino di Purwakarta
Gempuran produk impor China secara utuh (CBU) menyebabkan fasilitas manufaktur Hino tidak dapat beroperasi optimal. Harianto menjelaskan bahwa utilisasi pabrik Hino di Purwakarta, Jawa Barat, hanya mencapai sekitar 25% sepanjang tahun 2025.
Kondisi ini sangat memprihatinkan, mengingat PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) memiliki kapasitas produksi terpasang hingga 75.000 unit kendaraan per tahun. Artinya, hanya seperempat dari potensi produksi maksimal yang berhasil terpakai.
Data Produksi Hino 2025: Penurunan Drastis
Data resmi dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memvalidasi situasi sulit ini. Total Produksi Hino Merosot signifikan, hanya tercatat sebanyak 18.450 unit sepanjang 2025.
Angka tersebut menunjukkan penurunan drastis sebesar 22,6% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sebagai perbandingan, pada tahun 2024, Hino masih mampu mencatatkan produksi sebanyak 23.823 unit.
Dampak Serius pada Rantai Pasok Nasional
Masuknya truk impor China tidak hanya memukul Hino sebagai produsen utama, tetapi juga menimbulkan efek domino yang serius terhadap industri pendukung nasional. Hino telah membangun rantai pasok produksi yang panjang, melibatkan ratusan pemasok lokal.
Harianto menegaskan bahwa dampak dari impor ini cukup serius bagi kelangsungan industri kendaraan niaga nasional secara keseluruhan. Investasi pabrikan Jepang ini di Indonesia sudah berjalan selama 43 tahun, dengan total investasi mencapai US$112,5 juta.
Fasilitas manufaktur terintegrasi Hino di Indonesia membentang di lahan sekitar 296.000 meter persegi dan mempekerjakan sebanyak 1.548 tenaga kerja. Ketika produksi anjlok, nasib ratusan pemasok dan ribuan pekerja lokal otomatis berada di ujung tanduk.
Nilai Fantastis Impor Truk Utuh dari Tiongkok
Di saat pabrikan domestik seperti Hino berjuang mempertahankan utilisasi, volume impor truk utuh dari China justru melonjak drastis. Data dari General Administration of Customs of The People’s Republic of China (GACC) menunjukkan volume impor mencapai 13.669 unit pada tahun 2024.
Bukan hanya volume, nilai importasi kendaraan niaga dari Tiongkok ini pun sangat fantastis. Total nilai impor tercatat mencapai sekitar US$647 juta, sebuah angka yang menunjukkan dominasi agresif produk asing di segmen truk domestik.
Kontribusi Global Hino Indonesia Terancam
Padahal, fasilitas produksi Hino di Indonesia sudah berstandar global dan tidak hanya melayani pasar domestik. Pabrik ini memproduksi kendaraan niaga ringan, menengah, hingga bus, dan menjadi basis ekspor penting.
Sejak ekspor perdana pada 2011, Hino Indonesia secara konsisten mengirimkan kendaraan utuh (CBU), CKD, serta komponen ke berbagai negara. Pasar ekspor Hino mencakup Asia Tenggara, Amerika Selatan, hingga Asia Timur, termasuk Vietnam, Filipina, Bolivia, hingga Jepang.
Ancaman dari gempuran impor ini dikhawatirkan tidak hanya merusak pasar dalam negeri, tetapi juga mengganggu peran strategis Indonesia sebagai basis produksi dan ekspor kendaraan niaga regional yang telah dibangun selama puluhan tahun.