Soroti Perjalanan Meraih Mimpi, Cerita Musikal Perahu Kertas Tampil Beda
Uptodai.com - Adaptasi dari novel legendaris Dee Lestari kembali hadir, namun kali ini dalam format panggung yang berbeda. Cerita Musikal Perahu Kertas dipastikan akan menyajikan sudut pandang yang jauh berbeda dari versi layar lebarnya yang sukses besar beberapa tahun silam. Pementasan ini tidak hanya mengeksplorasi kisah cinta Kugy dan Keenan, melainkan lebih dalam menyoroti perjalanan personal mereka dalam mengejar cita-cita yang sempat tertunda.
Produser musikal, Billy Gamaliel, menjelaskan bahwa tim produksi sengaja menggeser fokus utama penceritaan. Jika dalam versi film aspek romansa menjadi inti, dalam adaptasi musikal ini unsur tersebut justru ditempatkan sebagai lapisan pendukung saja. Billy menegaskan bahwa tema sentral yang diangkat adalah “Hidupkan Lagi Mimpi-Mimpi,” sebuah pesan yang lebih universal dan relevan bagi banyak penonton.
Menggeser Fokus Romansa dalam Cerita Musikal Perahu Kertas
Alur cerita musikal ini diarahkan sepenuhnya pada perjuangan individu dalam mewujudkan impian-impiannya yang sempat meredup akibat realitas hidup. Pendekatan penceritaan yang berbeda ini membuka ruang bagi kemunculan sejumlah adegan yang belum sempat divisualisasikan dalam medium film sebelumnya.
Perbedaan sudut pandang tersebut memungkinkan pementasan musikal mengeksplorasi bagian-bagian cerita lain yang terdapat dalam novel aslinya. Billy menekankan bahwa meskipun mengambil jalur yang berbeda dari film, mereka tetap berkomitmen untuk setia pada akar cerita yang ditulis oleh Dee Lestari.
“Ini akan jadi satu sajian baru. Film dan musikal tentu memiliki pendekatan yang berbeda dalam penyampaiannya. Namun, yang pasti kami tetap setia pada novelnya, dan berusaha menampilkan ruh cerita yang mungkin terlewat dalam adaptasi layar lebar,” ungkap Billy.
Eksplorasi Adegan Unik dan Elemen Ikonik Novel
Billy menjelaskan bahwa pemilihan adegan untuk panggung tidak dilakukan secara sembarangan. Perbedaan medium antara novel dan pementasan panggung mendorong tim kreatif dan sutradara untuk mempertimbangkan secara matang adegan mana yang kuat secara visual dan mana yang lebih tepat disampaikan lewat dialog dan lantunan musik.
Salah satu elemen ikonik di dalam novel yang dibocorkan oleh Billy adalah pemadam kelaparan. Unsur ini akan muncul di dalam Pementasan Perahu Kertas 2024 dengan cara yang unik. Visual pemadam kelaparan tidak akan ditampilkan secara harfiah di panggung, tetapi kehadirannya tetap terasa kuat melalui dialog dan naskah para pemain.
Menggali Akar Cerita untuk Adaptasi Musikal Perahu Kertas
Proses penulisan naskah musikal ini berlangsung cukup panjang dan mendalam. Widya Arifianti selaku penulis naskah mengungkapkan bahwa pada tahap awal, ia bersama tim bahkan bertemu langsung dengan Dee Lestari untuk menggali lebih dalam latar dan asal-usul cerita.
Dalam proses adaptasi awal tersebut, Widya bahkan melakukan riset hingga ke titik awal bagaimana cerita ini ditulis oleh sang novelis. Dee Lestari kemudian membagikan perjalanan panjang cerita ini, sejak masih berjudul Kugy dan Keenan hingga akhirnya dikenal luas sebagai Perahu Kertas.
Widya menemukan satu hal menarik, yakni bagaimana karakter Kugy digambarkan sebagai seorang pendongeng andal. Di dalam musikal nanti, dunia imajinatif Kugy juga akan ditonjolkan menjadi elemen penting, memanfaatkan kelebihan medium panggung untuk menciptakan visualisasi fantasi yang memukau.
“Banyak bagian menarik yang tetap merujuk pada novel untuk menjaga ruh cerita. Bahkan, karakter Kugy dan Keenan juga merepresentasikan sisi-sisi personal dari Ibu Dee sendiri. Itulah yang kami jaga agar tetap terasa dalam pementasan musikal ini,” tutup Widya, memastikan bahwa adaptasi ini akan menawarkan kedalaman emosional yang berbeda dari versi film.
Musikal Adaptasi Musikal Perahu Kertas dijadwalkan akan dipentaskan pada 30 Agustus hingga 1 September 2024 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, menjanjikan sebuah sajian panggung yang penuh makna tentang perjuangan dan mimpi.