Uptodai.com - Amerika Serikat tengah menghadapi fenomena mengerikan di sektor energi, di mana kenaikan tarif listrik ekstrem melanda kawasan pesisir timur dan Mid-Atlantik. Harga energi melonjak hingga sembilan kali lipat dalam semalam, memicu kekhawatiran besar mengenai ketahanan infrastruktur nasional.

Situasi genting ini dipicu oleh gabungan antara badai musim dingin yang parah dan peningkatan permintaan listrik yang tak terduga. Para operator jaringan harus berjuang keras menjaga stabilitas pasokan di tengah cuaca beku yang menekan kapasitas pembangkit.

Harga Listrik Melonjak 900 Persen dalam Semalam

Lonjakan harga ini bukan sekadar kenaikan biasa, melainkan sebuah anomali pasar yang mengejutkan. Tarif listrik di jaringan PJM Interconnection, operator yang melayani 67 juta penduduk di kawasan Timur AS, meroket tajam. Harga melonjak dari US$200 per Megawatt hour (MWh) menjadi US$1.800 per MWh.

Kenaikan drastis sebesar 900% ini terjadi hanya dalam kurun waktu 24 jam. Kenaikan harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan awal, menunjukkan betapa rentannya sistem energi saat menghadapi tekanan ganda dari alam dan teknologi.

Badai Salju dan ‘Harta Karun’ Baru Pemicu Krisis

Pemicu utama lonjakan permintaan adalah Badai Musim Dingin Fern yang menyelimuti sejumlah wilayah Amerika Serikat. PJM Interconnection memproyeksikan bahwa permintaan listrik musim dingin kali ini bisa mencapai rekor 147,2 Gigawatt (GW). Angka tersebut melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada Januari 2025 sebesar 143,7 GW.

Permintaan yang gila-gilaan ini tidak hanya didorong oleh kebutuhan pemanas rumah tangga akibat cuaca dingin berkepanjangan. Lonjakan konsumsi energi dari pusat data (data center) di kawasan tersebut juga memainkan peran krusial.

Kehadiran ‘harta karun’ teknologi baru, terutama yang berfokus pada Kecerdasan Buatan (AI), menuntut pasokan listrik yang stabil dan masif. Sayangnya, kebutuhan energi yang besar ini berbenturan langsung dengan kondisi cuaca ekstrem, menciptakan badai sempurna bagi sistem energi.

Infrastruktur Renta dan Gangguan Pembangkit

Sayangnya, lonjakan permintaan tidak diimbangi oleh kesiapan pasokan yang memadai. PJM melaporkan adanya peningkatan tajam gangguan pembangkit listrik di sepanjang kawasan timur AS. Mereka mencatat hampir 21 GW pembangkit listrik mengalami gangguan, setara dengan 16 persen dari total permintaan siang hari sebesar 127,4 GW.

Gangguan pasokan ini diperparah oleh keterbatasan pasokan gas alam. Kawasan pesisir timur AS, menurut pakar jaringan PA Consulting, sangat bergantung pada jaringan pipa yang rentan tersumbat saat periode cuaca beku berkepanjangan.

Tekanan pada pasokan gas sangat terasa, di mana permintaan gas domestik tercatat mencapai 146,7 miliar kaki kubik per hari. Angka ini masuk dalam 10 permintaan tertinggi sepanjang sejarah, menunjukkan betapa parahnya tekanan infrastruktur yang ada.

Langkah Darurat dan Masa Depan Pasokan Listrik AS

Untuk meredam krisis energi Amerika Serikat ini, PJM terpaksa mengeluarkan perintah pra-darurat. Perintah tersebut mewajibkan sebagian pelanggan yang terdaftar dalam program pengurangan beban untuk menekan konsumsi listrik mereka pada periode kritis.

Program ini memberikan kompensasi finansial bagi pelanggan yang bersedia mengurangi penggunaan listrik. Tujuannya adalah membantu PJM meredam lonjakan permintaan dan menjaga ketersediaan pembangkit menghadapi perkiraan suhu dingin yang bertahan lama.

Fleksibilitas pasokan listrik di kawasan tersebut juga semakin menurun drastis. Hal ini disebabkan oleh pensiun dini sejumlah pembangkit listrik tua dan terus meningkatnya kebutuhan listrik dari pusat data. Pembangkit energi surya pun kehilangan produksi maksimal akibat tutupan awan tebal, salju, dan hujan es yang melanda kota-kota besar seperti Boston, New York, dan Washington DC.

Situasi ini diperburuk oleh kemacetan jaringan transmisi di kawasan PJM. Akibatnya, pasokan listrik yang relatif lebih murah dari kawasan barat tidak dapat dialirkan secara efisien ke timur. Meskipun badai saat ini dinilai tidak seberat Badai Uri atau Elliott di tahun-tahun sebelumnya, para ahli memperingatkan bahwa risiko pasokan tetap tinggi selama suhu dingin diperkirakan bertahan dalam beberapa pekan ke depan.