22 Negara Kecam Iran Atas Dugaan Operasi Intelijen Gelap
Uptodai.com - Sebanyak 22 negara kecam Iran secara terbuka setelah badan intelijen negara tersebut diduga kuat terlibat dalam berbagai operasi gelap di luar negeri. Koalisi internasional ini menuduh Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) dan Pasukan Quds merancang plot pembunuhan serta penculikan di Eropa, Amerika Utara, dan Australia. Tindakan tersebut dinilai telah mencederai kedaulatan nasional masing-masing negara serta melanggar hukum internasional secara terang-terangan.
Ancaman Terorisme Global dan Keterlibatan Proksi
Pernyataan bersama ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, di mana Iran sering dituduh menggunakan kekuatan proksi untuk memperluas pengaruhnya. Negara-negara penandatangan, termasuk Inggris, Kanada, dan Australia, mendesak Teheran untuk segera menghentikan intimidasi terhadap warga sipil di wilayah mereka. Mereka menegaskan komitmen bersama untuk melindungi masyarakat dari ancaman spionase asing yang kian agresif.
Selain tuduhan spionase, koalisi tersebut juga mengungkap keterlibatan kelompok pro-Iran bernama Harakat Ashab al-Yamin al-Islamiya (HAYI). Kelompok ini mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian aksi pembakaran sinagoga dan penyerangan terhadap komunitas Yahudi di Inggris, Belgia, dan Belanda. Target lain dari operasi terselubung ini meliputi jurnalis independen asal Iran dan Amerika Serikat yang vokal mengkritik rezim Teheran.
Ketegangan Diplomatik Australia dan Iran
Hubungan diplomatik antara Australia dan Iran bahkan berada di titik terendah setelah Canberra mengusir duta besar Iran pada Agustus tahun lalu. Langkah tegas ini diambil setelah intelijen Australia mendeteksi adanya plot pembakaran sinagoga di Melbourne dan sebuah kafe di Sydney. Sebagai respons lanjutan, Australia secara resmi memasukkan IRGC ke dalam daftar organisasi sponsor terorisme pada November lalu.
Kementerian Luar Negeri Iran membantah keras tuduhan tersebut dan menyebut keputusan Australia serta negara Barat lainnya sebagai tindakan yang menghina. Teheran balik menuduh bahwa kampanye diplomatik ini sengaja dirancang untuk mengisolasi Iran secara politik di panggung global. Di sisi lain, para analis menilai bahwa eskalasi ini akan mempersulit upaya diplomasi nuklir yang selama ini berjalan buntu.
Sanksi Internasional yang Kian Mengetat
Meskipun Iran membantah, tekanan internasional dipastikan akan terus meningkat seiring dengan solidnya aliansi 22 negara ini. Beberapa negara yang turut menandatangani petisi ini antara lain Albania, Belgia, Bulgaria, Republik Ceko, hingga Kanada. Ke depan, sanksi ekonomi baru kemungkinan besar akan dijatuhkan guna membatasi ruang gerak finansial IRGC di luar negeri.