Uptodai.com - Kemampuan Shayne Pattynama bahasa Indonesia memang belum selancar beberapa rekan setimnya di skuad Garuda. Meskipun menyandang status sebagai pemain naturalisasi, Shayne sebenarnya memiliki ikatan batin dan darah yang sangat kuat dengan tanah air melalui sang ayah.

Berbeda dengan pemain keturunan lain yang biasanya mendapatkan darah Indonesia dari kakek atau nenek, Shayne merupakan keturunan langsung. Ayah kandungnya lahir dan besar di Semarang, Jawa Tengah, sebelum akhirnya berpindah dan menetap di Belanda.

Darah Semarang dan Maluku yang Kental

Shayne menjelaskan bahwa identitas dirinya sangat lekat dengan budaya Nusantara sejak ia masih kecil. Nama belakang Pattynama yang ia sandang merupakan marga dari Maluku, namun secara genetik ia mengaku lebih banyak memiliki darah Jawa.

Pemain yang kini merintis karier di kancah internasional ini menyebutkan bahwa ayahnya sering menceritakan masa kecilnya di Semarang. Hal inilah yang membuat Shayne merasa sudah sangat mengenal Indonesia jauh sebelum ia resmi mengantongi paspor hijau.

Budaya Indonesia bukan hal asing baginya karena sang ayah membesarkannya dengan nilai-nilai tradisional tersebut. Mulai dari kebiasaan sehari-hari hingga makanan khas Indonesia selalu menghiasi meja makan di rumahnya selama di Belanda.

Alasan Unik di Balik Kendala Bahasa

Banyak penggemar bertanya-tanya mengapa Shayne Pattynama bahasa Indonesia-nya tidak sefasih pemain lain yang punya latar belakang serupa. Shayne akhirnya membongkar alasan unik yang melibatkan dinamika keluarganya di masa lalu.

Pada awalnya, sang ayah memiliki keinginan kuat untuk mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anaknya. Sementara itu, ibunya yang merupakan warga negara Belanda tetap berkomunikasi menggunakan bahasa lokal setempat agar terjadi keseimbangan bahasa di rumah.

Namun, rencana tersebut berubah total ketika anggota keluarga mereka mulai bertambah banyak. Shayne tumbuh dalam keluarga besar dengan lima orang anak, termasuk saudara kembarnya dan tiga saudara lainnya yang sangat aktif.

Tantangan Mengatur Lima Anak

Kondisi rumah yang ramai dengan lima anak kecil ternyata membuat sang ayah kewalahan dalam menerapkan aturan komunikasi dua bahasa. Ayahnya merasa kesulitan untuk menertibkan anak-anaknya yang sering rewel jika harus berganti-ganti bahasa antara Indonesia dan Belanda.

Demi menjaga ketertiban dan memastikan pesan disiplin tersampaikan dengan cepat, sang ayah akhirnya memutuskan untuk sepenuhnya menggunakan bahasa Belanda. Keputusan praktis ini diambil agar komunikasi di dalam rumah menjadi lebih efisien dan mudah dipahami oleh semua anak.

Shayne mengenang momen ketika ayahnya mencoba mengomel dalam bahasa Indonesia, namun justru merasa tidak efektif karena anak-anaknya tidak merespons dengan cepat. Akhirnya, bahasa Belanda menjadi bahasa utama yang menyatukan mereka dalam keseharian.

Kedekatan Emosional dengan Budaya Nusantara

Meskipun terkendala dalam komunikasi verbal, Shayne menegaskan bahwa ia sangat memahami akar budayanya. Ia sering bertemu dengan kerabat dari Indonesia yang berkunjung ke Belanda, sehingga ia tetap merasa dekat dengan identitas keindonesiaannya.

Kesadaran akan jati dirinya sebagai orang Indonesia sudah tertanam sejak ia masih sangat muda. Hal inilah yang menjadi motivasi terbesarnya ketika memutuskan untuk membela Timnas Indonesia di panggung internasional.

Kini, Shayne terus berusaha memperbaiki kemampuan bahasanya demi mempermudah komunikasi dengan rekan setim dan pelatih. Baginya, tidak fasih berbahasa bukan berarti tidak cinta, karena hatinya sudah lama tertambat pada tanah kelahiran sang ayah.