Uptodai.com - Dunia sepak bola kembali diguncang oleh pernyataan kontroversial dari mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter. Pada Senin (26/1/2026), Blatter secara tegas menyatakan dukungannya terhadap gerakan Boikot Piala Dunia 2026 AS, sebuah turnamen yang dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Dukungan Blatter ini berakar dari kekhawatiran serius terkait isu keamanan dan kebijakan domestik Amerika Serikat yang dianggapnya semakin tidak kondusif bagi pendatang dan penggemar sepak bola internasional. Ia memperkuat seruan yang sebelumnya dilontarkan oleh pengacara anti-korupsi Swiss, Mark Pieth, sosok yang pernah bekerja erat dengan FIFA di masa kepemimpinan Blatter.

Sepp Blatter Perkuat Seruan Boikot Piala Dunia 2026 AS

Mark Pieth, yang menjadi rujukan utama Blatter, menyarankan para penggemar sepak bola global untuk mempertimbangkan ulang perjalanan mereka ke Amerika Serikat. Pieth berpendapat bahwa pengalaman menonton pertandingan melalui layar televisi akan jauh lebih aman dan nyaman dibandingkan harus menghadapi potensi risiko di lapangan.

Kekhawatiran utama yang disorot Pieth adalah meningkatnya insiden kekerasan di AS, terutama yang melibatkan aparat keamanan. Ia secara spesifik menyebut kasus pembunuhan demonstran Renee Good oleh agen imigrasi di Minneapolis.

Selain itu, Pieth juga menyoroti kematian Alex Pretti, warga negara AS kedua yang tewas ditembak saat sedang merekam sebuah aksi protes. Insiden-insiden ini, menurut Pieth, mencerminkan lingkungan yang tidak ramah dan berpotensi berbahaya bagi pendatang, termasuk suporter yang datang hanya untuk menikmati olahraga.

Blatter menambahkan bahwa perlakuan aparat di Amerika Serikat terhadap warga asing semakin mengkhawatirkan. Pieth bahkan mengeluarkan peringatan keras bahwa penggemar harus siap dideportasi sewaktu-waktu jika mereka dianggap tidak ‘berperilaku baik’ di mata pihak berwenang.

Kritik Blatter terhadap Arah Sepak Bola dan Isu Keamanan Piala Dunia 2026

Dukungan Blatter terhadap boikot ini juga tidak terlepas dari posisinya sebagai kritikus vokal terhadap kepemimpinan FIFA saat ini. Blatter, yang memimpin FIFA dari 1998 hingga 2015 sebelum tersandung skandal korupsi, sering melontarkan kritik pedas kepada penerusnya, Gianni Infantino.

Blatter menilai bahwa Infantino telah membawa organisasi sepak bola global tersebut menyimpang dari nilai-nilai inti olahraga. Ia seringkali mempertanyakan keputusan-keputusan strategis yang diambil FIFA di bawah kepemimpinan Infantino, termasuk penunjukan tuan rumah turnamen besar.

Dengan mengangkat isu keamanan di AS, Blatter seolah ingin menunjukkan bahwa FIFA telah mengabaikan faktor-faktor krusial non-finansial dalam memilih lokasi turnamen. Fokus Blatter terhadap Isu keamanan Piala Dunia 2026 menjadi cara untuk menyerang kebijakan FIFA saat ini.

Piala Dunia 2026 sendiri merupakan turnamen akbar yang akan digelar di tiga negara Amerika Utara, berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juli. Meskipun demikian, sorotan tajam dan kekhawatiran utama diarahkan pada Amerika Serikat, mengingat insiden-insiden domestik yang memicu seruan boikot ini.

Tentu saja, pernyataan dari mantan orang nomor satu di FIFA ini menambah tekanan signifikan terhadap penyelenggara. Hal ini memaksa pihak Amerika Serikat untuk memberikan jaminan keamanan yang lebih transparan dan konkret kepada jutaan penggemar yang berencana menghadiri pesta sepak bola empat tahunan tersebut.