Drama Penalti Al Nassr Kontroversial vs Al Kholood, Pengamat Angkat Bicara
Uptodai.com - Kemenangan telak Al Nassr dengan skor 3-0 atas Al Kholood pada Sabtu (31/1/2026) dini hari WIB, seharusnya menjadi perayaan dominasi tim raksasa tersebut di lapangan hijau. Namun, alih-alih sorotan tertuju pada performa impresif, jalannya pertandingan justru didominasi oleh perdebatan sengit mengenai keputusan wasit.
Insiden krusial yang paling memicu polemik adalah drama penalti Al Nassr kontroversial dan kartu merah yang dikeluarkan wasit Abdullah Fahad Al Owaydan di babak kedua. Keputusan-keputusan tersebut dinilai mengubah arah permainan dan memunculkan pertanyaan besar tentang standar perwasitan, bahkan memicu reaksi keras dari para pengamat sepak bola internasional.
Insiden Krusial yang Mengubah Arah Pertandingan
Dua momen penting terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan di paruh kedua laga, keduanya melibatkan intervensi Video Assistant Referee (VAR). Insiden pertama adalah dikeluarkannya kartu merah langsung untuk Kapten Al Kholood, Hattan Bahebri, pada menit ke-72.
Bahebri dianggap melakukan pelanggaran keras terhadap bek Al Nassr, Mohamed Simakan. Setelah meninjau layar VAR, wasit memutuskan bahwa intensitas terjangan Bahebri masuk dalam kategori pelanggaran serius yang membahayakan lawan.
Tak lama berselang, kontroversi kembali memuncak ketika wasit memberikan hadiah penalti kepada Al Nassr. Keputusan ini diambil setelah kontak fisik antara pemain bertahan Al Kholood dengan salah satu penyerang Al Nassr di dalam kotak terlarang.
Kartu Merah untuk Bahebri Dinilai Tindakan Tidak Sportif
Mengenai keputusan pengusiran Bahebri, analis wasit asal Mesir, Mohamed Kamal Risha, memberikan pandangan yang mendukung. Risha, yang juga merupakan komentator untuk surat kabar Arriyadiyah, menegaskan bahwa tindakan Bahebri memenuhi kriteria permainan kasar yang serius (serious foul play).
Meskipun kontak fisik yang terjadi dinilai minimal, Risha menekankan bahwa tindakan Bahebri yang menyikut dada Simakan menunjukkan intensitas yang tidak sportif. Ia berpendapat, kartu merah tersebut bukanlah keputusan yang dilebih-lebihkan karena pelanggaran tersebut membahayakan keselamatan lawan.
“Bahebri menyikut dada Simakan, tetapi dengan kekuatan minimal. Ini adalah tindakan tidak sportif, yang pantas mendapatkan kartu kuning kedua diikuti kartu merah, karena pemain tersebut sudah menerima kartu kuning di babak pertama,” ujar Risha, seorang mantan wasit internasional.
Namun, Risha juga mengakui bahwa kartu merah langsung yang dikeluarkan oleh wasit mungkin terasa terlalu keras. Walaupun demikian, wasit jelas menganggap insiden yang ditinjaunya melalui monitor VAR sebagai tindakan yang secara eksplisit tidak sportif, sehingga sanksi tegas harus dijatuhkan.
Kontroversi Penalti Al Nassr: Kontak Minim yang Diperdebatkan
Jika Risha mendukung keputusan kartu merah, kritik tajam justru datang dari pengamat perwasitan asal Yordania, Ahmed Abu Khadija, terkait hadiah penalti. Menurut Abu Khadija, keputusan wasit memberikan penalti kepada Al Nassr adalah langkah yang keliru dan tidak perlu.
Abu Khadija menyatakan bahwa kontak yang terjadi antara pemain bertahan Al Kholood dengan pemain Al Nassr sangat minim. Kontak tersebut, menurutnya, tidak cukup untuk dikategorikan sebagai pelanggaran yang layak diganjar penalti.
Pengamat tersebut berargumen bahwa insiden tersebut seharusnya dianggap sebagai kontak normal yang wajar terjadi dalam duel satu lawan satu di area pertahanan. Ia menyimpulkan, penalti tersebut tidak pantas diberikan dan wasit seharusnya membiarkan pertandingan terus berjalan, tanpa intervensi yang berlebihan.
Kontroversi ini semakin memperkuat pandangan bahwa penggunaan VAR, meskipun bertujuan meningkatkan akurasi, seringkali justru memicu perdebatan baru. Keputusan wasit dalam laga ini dinilai telah merusak fokus pertandingan dan menempatkan integritas perwasitan dalam sorotan tajam.