Fajar Listiyantoro Meninggal Dunia, Sepak Bola DIY Berduka
Uptodai.com - Dunia olahraga Tanah Air berduka setelah legenda lokal Fajar Listiyantoro meninggal dunia pada Sabtu (25/7/2026) dini hari WIB. Mantan pemain PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta tersebut mengembuskan napas terakhirnya pada usia 45 tahun. Sosok yang juga adik kandung dari pelatih kawakan Seto Nurdiyantoro ini tutup usia usai berjuang melawan penyakit ginjal kronis.
Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka yang berlokasi di Glondong, Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Pihak keluarga memakamkan almarhum di TPU Sasono Loyo, Tegal Kalibening, pada hari yang sama pukul 14.00 WIB. Kepergian sosok rendah hati ini meninggalkan duka mendalam bagi sanak keluarga serta seluruh pencinta sepak bola Yogyakarta.
Perjuangan Melawan Penyakit Ginjal Kronis
Sebelum tutup usia, almarhum sempat berjuang melawan komplikasi penyakit ginjal selama kurang lebih lima bulan terakhir. Kondisi kesehatan yang terus menurun memaksa almarhum harus rutin menjalani prosedur cuci darah atau hemodialisis secara berkala. Aktivitasnya membina pemain muda di SSB Potorono U-15 pun terpaksa dihentikan sementara demi perawatan medis.
Almarhum pertama kali merasakan gejala abnormal saat hadir menonton pertandingan PSS dan PSIM secara langsung di stadion. Ia mengaku tubuhnya sangat cepat lelah walau hanya menaiki tangga tribun hingga mengalami sesak napas. Hasil pemeriksaan laboratorium pada pertengahan Maret menunjukkan kadar kreatinin serta tekanan darahnya melonjak sangat drastis.
Ungkapan belasungkawa mendalam disampaikan oleh sang kakak, Seto Nurdiyantoro, melalui akun media sosial pribadinya. Momen kebersamaan kedua bersaudara ini memang sangat erat, baik di dalam maupun di luar lapangan hijau. Para pendukung klub lokal Sleman dan Yogyakarta turut membanjiri kolom komentar dengan doa terbaik bagi almarhum.
Jejak Karier dan Legasi Lemparan Dalam Spesial
Membahas mengenai karier Fajar Listiyantoro, pria asli Kalasan ini mengawali kiprah profesionalnya bersama PSS Sleman pada musim 1999/2000. Saat itu, ia turut membawa tim berjuluk Super Elang Jawa berjuang di kompetisi tertinggi Divisi Utama. Dedikasi dan loyalitasnya di lapangan hijau menjadikannya salah satu sosok pemain yang sangat disegani kawan maupun lawan.
Selain membela PSS Sleman selama lima musim, ia juga sempat mengenakan kostum PSIM Yogyakarta selama dua tahun. Performa konsisten di tingkat klub mengantarkannya mendapat panggilan membela Timnas Indonesia U-23. Kehadirannya di lini tengah maupun belakang selalu memberikan rasa aman bagi skuat yang dibelanya.
Semasa aktif bermain, gelandang bernomor punggung 27 ini sangat identik dengan keahlian lemparan ke dalam jarak jauh. Senjata rahasia tersebut kerap menjadi ancaman mematikan bagi lini pertahanan lawan dalam situasi bola mati. Karakter permainannya yang lugas namun sportif selalu menjadi panutan bagi para juniornya.
Sepak bola Yogyakarta kini kehilangan salah satu putra terbaik yang pernah mendedikasikan hidupnya untuk si kulit bundar. Warisan semangat pantang menyerah serta dedikasinya dalam membina pemain usia dini akan selalu dikenang. Selamat jalan Fajar Listiyantoro, karya dan dedikasimu untuk sepak bola Indonesia takkan pernah terhapus sejarah.