Uptodai.com - Mimpi Indonesia untuk tampil di panggung akbar Piala Dunia, khususnya pada edisi 2034, memerlukan perencanaan yang matang dan implementasi yang serius. Menanggapi ambisi besar tersebut, mantan pelatih Timnas Indonesia, Indra Sjafri, memberikan pandangan kritis sekaligus solusi konstruktif kepada induk sepak bola nasional.

Menurut Indra Sjafri, ada 5 langkah PSSI menuju Piala Dunia yang wajib diprioritaskan dan dijalankan secara fundamental. Tanpa perbaikan mendasar pada lima aspek ini, ia menilai cita-cita bersaing di level global akan sulit terwujud dan hanya akan menjadi angan-angan semata.

Infrastruktur Merata dan Kurikulum Sepak Bola Global

Langkah pertama yang harus menjadi fokus utama PSSI adalah pembenahan dan pembangunan infrastruktur sepak bola yang bersifat merata. Indra Sjafri menekankan bahwa infrastruktur tidak hanya berarti membangun stadion megah di kota-kota besar.

Justru, pembangunan harus menjangkau hingga ke level desa sebagai basis utama pembinaan pemain usia dini. Lapangan-lapangan sepak bola di daerah terpencil pun harus diperbaiki agar kualitas latihan dan penemuan bakat tidak terpusat hanya di ibu kota atau kota metropolitan.

Selain itu, Indra Sjafri menyoroti pentingnya pembaruan kurikulum sepak bola nasional. Kurikulum ini harus adaptif dan selaras dengan perkembangan serta tren permainan yang berlaku di level global.

Kurikulum yang mutakhir sangat krusial untuk memastikan metode latihan, pendekatan taktik, dan filosofi bermain Indonesia tidak tertinggal dari negara-negara yang sudah mapan dalam peta sepak bola dunia. Adaptasi kurikulum ini menjadi kunci agar talenta muda Indonesia siap bersaing secara teknis dan mental.

Mengejar Kualitas Pelatih Lisensi A Pro

Lebih lanjut, Indra Sjafri menegaskan bahwa peningkatan kuantitas dan kualitas pelatih adalah prasyarat mutlak bagi kemajuan pembangunan sepak bola nasional. Ia secara spesifik menyoroti kebutuhan mendesak untuk memperbanyak jumlah pelatih yang memegang lisensi A Pro.

Kesenjangan jumlah pelatih berlisensi ini menjadi indikator jelas betapa jauhnya Indonesia tertinggal dari negara-negara tetangga. Saat ini, Indonesia baru memiliki sekitar 44 pelatih berlisensi A Pro.

Indra Sjafri membandingkannya dengan Jepang yang sudah memiliki ribuan pelatih dengan lisensi serupa. Perbedaan angka yang sangat mencolok ini menunjukkan bahwa kualitas pembinaan di level akar rumput Indonesia belum didukung oleh tenaga pengajar yang memiliki kualifikasi tertinggi.

Fondasi Pembinaan Berjenjang dan Kompetisi Usia Muda

Langkah keempat yang tidak kalah vital adalah membangun jalur pembinaan pemain yang jelas, terstruktur, dan berkesinambungan. Sistem pembinaan berjenjang ini harus dirancang sedemikian rupa agar talenta muda dapat berkembang secara bertahap, mulai dari usia dini hingga mereka siap menembus level profesional.

Sistem yang terstruktur akan menjamin tidak adanya bakat yang terlewatkan dan memastikan setiap pemain mendapatkan program pengembangan yang sesuai dengan tahapan usia mereka.

Terakhir, Indra Sjafri menekankan pentingnya penguatan kompetisi usia muda sebagai fondasi regenerasi jangka panjang. Kompetisi yang rutin, berkualitas, dan terorganisir dengan baik akan memberikan jam terbang yang memadai bagi pemain muda.

Kompetisi yang ketat juga berfungsi untuk meningkatkan mental bertanding serta daya saing pemain muda Indonesia. Dalam hal ini, Indra Sjafri memberikan apresiasi kepada PSSI yang dinilainya telah mulai menjalankan langkah kelima ini dengan berbagai inisiatif turnamen usia muda.

Indra Sjafri menutup pernyataannya dengan pesan tegas bahwa kelima fondasi ini harus diperbaiki secara menyeluruh. Jika lima hal fundamental ini telah terbangun kokoh, barulah cita-cita besar untuk bersaing dan berbicara di Piala Dunia 2034 dapat didiskusikan secara realistis.