Uptodai.com - Karier Edi Hafid Murtado mungkin tidak selalu menghiasi tajuk utama media olahraga layaknya bintang besar Persib Bandung lainnya. Namun, bagi para pendukung setia Maung Bandung, sosok bek serba bisa ini merupakan simbol loyalitas dan kerja keras yang nyata. Pria asli Ciparay ini menghabiskan lima musim berseragam biru kebanggaan Jawa Barat dengan dedikasi tinggi.

Edi Hafid Murtado sangat identik dengan nomor punggung 2 selama membela Persib Bandung di era Liga Indonesia. Meskipun lebih sering turun sebagai pemain pengganti, kemampuannya menempati berbagai posisi di lini pertahanan menjadi kartu as bagi pelatih. Ia mampu menjaga kedalaman skuad dengan sangat baik di tengah ketatnya persaingan tim utama saat itu.

Awal Mula Perjalanan dari Garut ke Bandung

Lahir di Bandung pada 21 Maret 1983, kecintaan Edi terhadap sepak bola sudah tumbuh sejak usia dini. Darah atlet mengalir kuat dalam dirinya, terutama berkat pengaruh sang paman, E. Syahroni, yang merupakan sosok penting dalam hidupnya. Sang paman pula yang mengarahkan Edi untuk menimba ilmu di SSB Karya Jaya demi mengasah bakat alaminya.

Sejak kecil, Edi memendam mimpi besar untuk bisa berseragam Persib Bandung suatu hari nanti. Ia tumbuh dengan menyaksikan kehebatan para legenda seperti Robi Darwis yang menjadi idolanya di lapangan hijau. Motivasi tersebut membawanya terus berpindah klub demi mencari jam terbang, mulai dari Saint Prima hingga akhirnya mendarat di Persigar Garut.

Penampilan apiknya bersama Persigar Garut pada tahun 2003 membuka jalan bagi karier profesionalnya yang lebih luas. Setelah sempat merantau ke ibu kota untuk membela Persitara Jakarta Utara, pintu menuju Persib akhirnya terbuka lebar. Pada Liga Indonesia 2005, Edi resmi mewujudkan impian masa kecilnya untuk membela tim kebanggaan warga Jawa Barat tersebut.

Loyalitas Tanpa Batas di Skuad Maung Bandung

Selama lima musim di Persib, Karier Edi Hafid Murtado diuji dengan persaingan ketat di lini belakang. Ia jarang mendapatkan tempat sebagai starter reguler karena komposisi pemain bintang yang selalu mengisi skuad Maung Bandung. Kendati demikian, Edi tidak pernah mengeluh dan selalu siap memberikan performa maksimal kapan pun instruksi pelatih datang.

Kesabaran Edi akhirnya menemui titik jenuh ketika ia memutuskan untuk mencari tantangan baru demi menit bermain yang lebih konsisten. Ia kemudian memilih hijrah ke Pelita Jaya pada tahun 2010, sebuah langkah berani untuk membuktikan kapasitasnya. Di klub ini, ia tetap bertahan meski tim mengalami transformasi identitas menjadi Pelita Bandung Raya (PBR).

Setelah bertahun-tahun berkompetisi di kasta tertinggi, Edi mulai melirik klub-klub di kasta bawah untuk berbagi pengalaman. Ia sempat memperkuat Perssu Sumenep pada tahun 2015 sebelum akhirnya memutuskan gantung sepatu di Persikabo Bogor setahun kemudian. Perjalanan panjang ini membentuk mentalitasnya sebagai pemain yang kenyang akan asam garam kompetisi nasional.

Transformasi Menjadi Mentor dan Pelatih di Sumedang

Dunia kepelatihan sebenarnya bukan hal baru bagi Edi, karena ia sudah mulai merintisnya saat kompetisi resmi berhenti pada 2015. Kala itu, dalam usia yang masih tergolong produktif yakni 32 tahun, ia sudah aktif membina talenta muda di Garut. Pengalaman lapangan yang mumpuni membuatnya memiliki visi yang tajam dalam melihat potensi pemain-pemain muda.

Kini, kabar terbaru menyebutkan bahwa Edi Hafid Murtado tengah mengemban amanah penting di Kabupaten Sumedang. Ia dipercaya menjadi juru taktik bagi Perses Sumedang, tim yang tengah berjuang membangun kejayaannya kembali. Kehadiran eks pemain Persib ini membawa angin segar sekaligus harapan baru bagi perkembangan sepak bola di wilayah tersebut.

Sebagai pelatih, Edi dikenal sebagai sosok yang disiplin namun tetap dekat dengan para pemainnya. Ia sering menekankan pentingnya mentalitas juara dan loyalitas kepada klub, nilai-nilai yang ia pegang teguh selama aktif bermain. Transformasi dari seorang bek tangguh menjadi pelatih visioner membuktikan bahwa dedikasinya terhadap sepak bola tidak pernah padam.