Uptodai.com - Kegagalan Italia di Piala Dunia 2026 menjadi kejutan besar yang memicu gelombang simpati dari berbagai penjuru dunia sepak bola. Lionel Scaloni, pelatih tim nasional Argentina, secara terbuka mengungkapkan kesedihannya melihat nasib tragis yang menimpa Gli Azzurri. Sang pelatih merasa absennya kekuatan besar seperti Italia merupakan kerugian besar bagi panggung sepak bola global.

Italia dipastikan harus mengubur mimpi mereka setelah takluk dari Bosnia dan Herzegovina dalam drama adu penalti pada babak play-off. Kekalahan menyakitkan ini membuat pemegang empat gelar juara dunia tersebut absen untuk ketiga kalinya secara beruntun. Publik sepak bola internasional seolah tidak percaya melihat raksasa Eropa itu kembali terpuruk di fase krusial.

Lionel Scaloni memberikan pernyataan emosional ini usai membawa Argentina melumat Zambia dengan skor telak 5-0 dalam laga persahabatan. Sebagai sosok yang pernah merumput di Serie A bersama Lazio, Scaloni memiliki ikatan batin yang kuat dengan Negeri Pizza tersebut. Ia menegaskan bahwa hubungan antara Argentina dan Italia lebih dari sekadar rivalitas di lapangan hijau.

Komentar Emosional Lionel Scaloni Terkait Nasib Italia

Scaloni menyebut bahwa situasi yang menimpa Italia saat ini terasa sangat tidak adil bagi para pemain dan penggemarnya. Ia mengaku memiliki banyak kerabat di sana, sehingga berita kegagalan tersebut terasa sangat personal baginya. Baginya, Italia bukan sekadar tim nasional, melainkan representasi sejarah panjang sepak bola dunia.

“Negara itu sudah seperti saudara bagi Argentina, mereka selalu memberikan perhatian besar kepada kami,” ujar Scaloni dalam sebuah sesi konferensi pers. Ia menambahkan bahwa kenyataan Italia tidak hadir di turnamen sebesar Piala Dunia adalah sesuatu yang sangat sulit untuk diterima secara akal sehat. Hal ini mencerminkan betapa tingginya respek Scaloni terhadap tradisi sepak bola Italia.

Pelatih yang membawa Argentina juara dunia 2022 ini juga menyoroti cara Italia tersingkir yang dianggapnya penuh kontroversi. Menurutnya, perjuangan Gli Azzurri di lapangan seharusnya membuahkan hasil yang lebih baik daripada sekadar eliminasi lewat adu penalti. “Ini menyedihkan karena cara terjadinya terasa tidak adil; ini adalah kebenaran yang pahit,” tegas Scaloni dengan nada geram.

Krisis Internal Federasi Sepak Bola Italia Semakin Memanas

Sementara Argentina bersiap menghadapi Aljazair, Austria, dan Yordania di Grup J, Italia justru harus menghadapi badai internal yang hebat. Tekanan besar kini mengarah langsung kepada Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina. Banyak pihak menuntut tanggung jawab penuh atas kegagalan yang memalukan ini di level internasional.

Gelombang protes tidak hanya datang dari kalangan suporter, tetapi juga merambah hingga ke level pemerintahan. Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, secara terang-terangan mendesak adanya evaluasi total di tubuh federasi. Abodi memberikan sinyal kuat bahwa perubahan kepemimpinan mungkin menjadi satu-satunya jalan keluar untuk memulihkan martabat sepak bola Italia.

Bosnia dan Herzegovina, yang menjadi batu sandungan bagi Italia, kini bersiap menempati Grup B bersama Qatar, Kanada, dan Swiss. Keberhasilan mereka menjadi bukti bahwa peta kekuatan sepak bola dunia kini semakin merata dan tidak bisa diprediksi. Namun, bagi dunia, ketidakhadiran Italia tetap menyisakan lubang besar dalam kemeriahan pesta sepak bola empat tahunan tersebut.