Uptodai.com - Nama Lorenzo Cabanas idola Persib mungkin kini hanya menjadi nostalgia bagi sebagian generasi baru penggemar sepak bola nasional. Namun, bagi para Bobotoh era pertengahan 2000-an, sosok gelandang asal Paraguay ini adalah ikon sejati yang mendefinisikan lini tengah Maung Bandung.

Menariknya, sebelum namanya dielu-elukan di Kota Kembang, Cabanas justru menjejakkan kaki pertama kali di Indonesia bersama rival abadi mereka, Persija Jakarta. Perjalanan karier Cabanas di Tanah Air menjadi salah satu kisah transfer paling kontroversial sekaligus paling sukses dalam sejarah El Clasico Indonesia.

Awal Mula di Ibu Kota: Dua Final Bersama Persija

Lorenzo Cabanas tiba di Indonesia pada tahun 2005. Ia langsung bergabung dengan Persija Jakarta dan menjadi bagian penting dari skuad Macan Kemayoran yang saat itu dipenuhi ambisi besar. Dengan kepala plontos dan nomor punggung 11, Cabanas segera menarik perhatian publik Ibu Kota.

Perannya sebagai pengatur serangan tidak terbantahkan. Visi bermainnya yang matang mampu menghubungkan lini tengah dan depan Persija dengan sangat baik. Kontribusinya membawa Persija melaju ke dua partai final sekaligus dalam satu musim yang krusial.

Pada musim 2005 itu, Persija berhasil menembus final Liga Indonesia dan final Copa Indonesia. Sayangnya, meski tampil dominan, Macan Kemayoran harus puas menjadi runner-up di kedua kompetisi tersebut, gagal membawa pulang trofi juara.

Setelah semusim yang penuh drama di Jakarta, Cabanas sempat melanjutkan petualangannya ke Kalimantan Timur. Ia membela Persiba Balikpapan, namun kiprahnya di sana tidak sefenomenal saat ia masih berseragam oranye.

Langkah Kontroversial Menuju Rival Abadi

Keputusan besar yang mengubah peta karier Cabanas di Indonesia terjadi pada tahun 2007. Secara mengejutkan, playmaker asal Paraguay ini memilih bergabung dengan Persib Bandung, klub yang notabene adalah musuh bebuyutan Persija Jakarta.

Transfer ini tentu saja memicu reaksi keras dari suporter Persija. Di sisi lain, kedatangan pemain yang pernah membawa rival mereka ke final disambut dengan skeptis sekaligus antusiasme tinggi oleh Bobotoh.

Meskipun sempat menimbulkan pro dan kontra di awal kedatangannya, Cabanas membuktikan bahwa keputusannya adalah langkah yang tepat. Ia berhasil meredam keraguan dengan performa yang konsisten dan berkelas di lapangan hijau.

Transformasi Menjadi Playmaker Pembeda Maung Bandung

Di Persib, Lorenzo Cabanas menemukan panggung terbaiknya untuk bersinar. Ia menjadi jenderal lapangan tengah yang diandalkan, berkolaborasi apik dengan bintang-bintang lokal seperti Eka Ramdani dan Nova Arianto, serta rekan senegaranya, Hilton Moreira.

Gaya bermain Cabanas sangat khas: tenang, memiliki akurasi umpan yang tajam, serta tendangan bebas yang mematikan. Kemampuannya dalam menciptakan peluang dan mencetak gol-gol krusial dari bola mati menjadikannya pembeda di setiap pertandingan Maung Bandung.

Selama dua musim penuh membela Pangeran Biru, Cabanas mencatatkan total 60 penampilan dan menyumbang 12 gol. Angka tersebut mungkin tidak fantastis, tetapi dampak kepemimpinannya di lini tengah jauh lebih besar daripada sekadar statistik.

Cabanas benar-benar mendedikasikan dirinya untuk klub. Ia menunjukkan kecintaan yang mendalam terhadap Persib Bandung, sebuah ikatan emosional yang kuat dengan Bobotoh.

Kesetiaan yang Mengakhiri Karier di Indonesia

Ketika kontraknya dengan Persib berakhir pada tahun 2009, Cabanas dihadapkan pada pilihan untuk mencari klub baru di Indonesia. Namun, ia membuat keputusan yang menunjukkan kesetiaannya pada Maung Bandung.

Cabanas menolak tawaran dari klub-klub Indonesia lainnya. Bagi dirinya, jika tidak bermain untuk Persib, maka ia memilih untuk kembali ke kampung halamannya di Paraguay. Keputusan ini semakin mengukuhkan statusnya sebagai legenda dan Lorenzo Cabanas idola Persib sejati.

Setelah kembali ke Paraguay, Cabanas memutuskan untuk gantung sepatu setahun kemudian, tepatnya pada 2010. Persib Bandung pun tercatat sebagai klub profesional terakhir yang ia bela, menutup perjalanan karier salah satu playmaker asing paling ikonik dan berkarakter di era Liga Indonesia.