Uptodai.com - Penyesalan El Hadji Diouf di Liverpool menjadi salah satu kisah paling kontroversial dalam sejarah transfer Premier League di awal milenium. Mantan penyerang tajam asal Senegal ini secara blak-blakan mengakui bahwa keputusannya berlabuh di Anfield merupakan kesalahan terbesar dalam karier sepak bolanya. Padahal, saat itu ia berada di puncak popularitas setelah tampil memukau pada ajang Piala Dunia 2002.

Diouf datang ke Merseyside dengan ekspektasi yang sangat tinggi dari para pendukung The Reds. Pelatih Gerard Houllier bahkan rela merogoh kocek hingga 10 juta pounds untuk memboyongnya dari klub Prancis, Lens. Namun, alih-alih menjadi mesin gol yang mematikan, keberadaannya di Liverpool justru menjadi awal dari kehancuran reputasinya di tanah Inggris.

Pemain yang identik dengan rambut pirang ini mengungkapkan bahwa ia sebenarnya memiliki opsi lain yang jauh lebih menggiurkan saat itu. Manchester United, yang kala itu sedang mendominasi kompetisi domestik, sempat menunjukkan ketertarikan serius untuk meminangnya. Namun, pilihan akhirnya jatuh pada Liverpool, sebuah keputusan yang hingga kini terus menghantui pikirannya setiap kali mengenang masa lalu.

Kegagalan Total dan Statistik Buruk di Anfield

Awal perjalanan Diouf di Liverpool sebenarnya sempat memberikan secercah harapan bagi publik Anfield. Ia berhasil mencetak dua gol pada laga debutnya, yang membuat banyak orang percaya bahwa ia adalah suksesor yang tepat di lini depan. Sayangnya, kilatan performa apik tersebut tidak bertahan lama dan justru menurun drastis seiring berjalannya waktu.

Selama mengenakan seragam kebanggaan The Reds, statistik Diouf tergolong sangat memprihatinkan bagi seorang penyerang nomor sembilan. Ia hanya mampu mengoleksi 6 gol dari total 80 penampilan di berbagai kompetisi resmi. Bahkan, penyerang Timnas Senegal ini sempat melewati satu musim penuh di Premier League tanpa mencetak satu gol pun ke gawang lawan.

Kekecewaan manajemen dan suporter semakin memuncak karena perilaku Diouf di luar urusan teknis sering kali memicu masalah. Ia lebih sering menghiasi tajuk berita karena aksi kontroversialnya daripada prestasi di lapangan hijau. Hal inilah yang membuatnya perlahan kehilangan tempat di skuat utama dan mulai dibenci oleh lingkungan klubnya sendiri.

Insiden Meludahi Suporter dan Sanksi Berat

Momen paling kelam dalam karier Diouf terjadi saat Liverpool berhadapan dengan Celtic dalam laga Piala UEFA tahun 2003. Di tengah tensi pertandingan yang tinggi, ia tertangkap kamera meludahi pendukung tim lawan di tribun penonton. Tindakan tidak terpuji ini langsung memicu kemarahan luas dari komunitas sepak bola internasional dan mencoreng nama baik Liverpool.

Pihak klub bertindak tegas dengan memberikan denda sebesar dua minggu gaji serta skorsing pertandingan yang cukup lama. Insiden ini secara permanen merusak hubungannya dengan para pendukung dan staf pelatih di Melwood. Sejak saat itu, keberadaan Diouf di dalam tim dianggap sebagai beban moral bagi sejarah panjang klub yang menjunjung tinggi sportivitas.

Dalam sebuah wawancara terbaru, Diouf menegaskan bahwa jika ia bisa memutar kembali waktu, ia tidak akan pernah menginjakkan kaki di Anfield. Ia merasa gaya bermain dan kepribadiannya akan jauh lebih cocok jika berada di bawah asuhan Sir Alex Ferguson. “Jika saya bisa mengulang waktu, saya lebih baik bergabung dengan Manchester United,” ungkapnya dengan nada penuh kekecewaan.

Perseteruan Panas dengan Steven Gerrard dan Jamie Carragher

Ketidaksukaan Diouf terhadap Liverpool ternyata berbalas lebih kejam dari para legenda klub tersebut. Dua sosok ikonik, Jamie Carragher dan Steven Gerrard, secara terbuka menyatakan kebencian mereka terhadap perangai sang pemain. Mereka bahkan tidak ragu menyebut Diouf sebagai rekan setim terburuk yang pernah mereka miliki selama berkarier di dunia profesional.

Jamie Carragher sering mengejek rasio gol Diouf yang dianggap sangat memalukan bagi seorang striker mahal. Carragher bahkan menyindir bahwa Diouf adalah pemain yang selalu dipilih paling terakhir saat sesi latihan internal tim. Komentar pedas ini menunjukkan betapa rendahnya tingkat kepercayaan rekan setim terhadap kemampuan teknis yang dimiliki oleh Diouf kala itu.

Steven Gerrard juga memberikan kritik yang tidak kalah tajam dalam buku otobiografinya. Sang kapten legendaris menulis bahwa Diouf adalah sosok pemain yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak memiliki hati untuk berjuang demi klub. Menurut Gerrard, sikap arogan Diouf sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai kerja keras yang selalu ditekankan di Liverpool.