Reijnders Ogah Dibandingkan Kevin De Bruyne: Ingin Jadi Diri Sendiri
Uptodai.com - Keputusan Tijjani Reijnders untuk berlabuh di Etihad Stadium pada awal musim ini membawa konsekuensi besar, terutama terkait perubahan peran taktis di lapangan. Sejak kepindahannya dari AC Milan ke Manchester City, Reijnders ogah dibandingkan Kevin De Bruyne, menegaskan bahwa dirinya harus fokus pada identitas dan gaya bermainnya sendiri.
Gelandang internasional Belanda ini tiba di Inggris dengan label harga yang fantastis. City merogoh kocek sebesar 57 juta euro, yang berpotensi meningkat hingga lebih dari 70 juta euro, sebuah angka yang mencerminkan ekspektasi tinggi dari manajemen klub dan Pep Guardiola.
Meskipun demikian, transisi dari Serie A ke Liga Inggris tidak selalu berjalan mulus, terutama dalam hal statistik individu. Reijnders mengakui bahwa kontribusi golnya menurun drastis, sebuah fenomena yang ia pahami sebagai bagian dari adaptasi peran baru di bawah sistem Pep Guardiola.
Perubahan Peran: Dari Bebas ke Terstruktur
Musim 2024/2025 merupakan puncak karier Reijnders di AC Milan, di mana ia menjadi motor serangan utama Rossoneri. Di Italia, ia menikmati kebebasan bergerak penuh sebagai gelandang box-to-box, yang memungkinkannya sering merangsek ke kotak penalti dan mencetak gol.
Namun, atmosfer kompetisi di Manchester City jauh berbeda. Persaingan ketat di lini tengah, yang diisi oleh gelandang-gelandang kelas dunia, menuntut Reijnders untuk beradaptasi dengan tuntutan taktik yang jauh lebih spesifik dan terstruktur.
Hingga akhir Desember 2025, Reijnders telah mencatatkan 27 penampilan bersama The Citizens. Meskipun sembilan kontribusi gol yang ia bukukan terbilang solid, angka ini belum menyamai catatan produktifnya saat masih berseragam merah-hitam.
Dalam wawancaranya dengan media Belanda, De Telegraaf, Reijnders menjelaskan bahwa penurunan jumlah gol bukan berarti kualitasnya menurun. Ia menegaskan bahwa hal itu merupakan konsekuensi langsung dari perubahan fungsi di lapangan.
Menolak Label ‘De Bruyne Baru’
Sejak penampilan debutnya yang impresif, Reijnders sempat mendapat julukan sebagai “De Bruyne baru” oleh beberapa pengamat sepak bola Inggris. Namun, ia memilih bersikap realistis dan menolak larut dalam perbandingan yang menurutnya berlebihan dan tidak adil.
Tijjani Reijnders menilai Kevin De Bruyne adalah pemain dengan karakter dan kualitas yang unik, yang hampir mustahil untuk disamai. Ia menegaskan bahwa dirinya memiliki gaya bermain yang berbeda dan tidak bisa disamakan begitu saja dengan maestro Belgia tersebut.
“Saya adalah pemain nomor delapan yang komplet, namun peran saya di sini (City) berbeda dari Milan. Saya harus lebih disiplin secara posisi,” ujar Reijnders. “City sejak awal sudah menjelaskan apa yang mereka harapkan dari saya, dan saya harus menanamkan pemahaman itu pada diri sendiri.”
Menurut Reijnders, menjadi diri sendiri adalah kunci sukses di klub sebesar Manchester City. Alih-alih terbebani dengan ekspektasi untuk menjadi pengganti atau tiruan De Bruyne, ia memilih fokus untuk mengukir warisannya sendiri di Etihad.
Di bawah asuhan Guardiola, peran Reijnders lebih menuntut keseimbangan antara menyerang dan bertahan. Ia kini lebih sering terlibat dalam fase pembangunan serangan dan menjaga sirkulasi bola, sebuah tugas yang menuntut kedewasaan taktis dan konsistensi tinggi.