Statistik Buruk Ruben Amorim: Manajer MU Terburuk Abad Ini?
Uptodai.com - Kabar mengejutkan datang dari Old Trafford. Manchester United (MU) secara resmi mengumumkan pemutusan kerja sama dengan Ruben Amorim setelah sang manajer asal Portugal itu memimpin tim selama 14 bulan. Keputusan drastis ini diambil menyusul hasil imbang 1-1 yang mengecewakan melawan Leeds United, sebuah hasil yang membuat Setan Merah tertahan di urutan keenam klasemen Premier League.
Meskipun masa jabatannya relatif singkat, statistik buruk Ruben Amorim di Manchester United telah menjadi sorotan tajam. Ia mulai mengambil alih kemudi klub pada November 2024, menggantikan Erik Ten Hag yang saat itu dianggap gagal memenuhi ekspektasi. Namun demikian, rekam jejak yang ditinggalkan Amorim justru jauh lebih kelam.
Tekanan publik dan internal klub terus memuncak, terutama setelah musim perdananya berakhir dengan posisi yang jauh dari harapan. Amorim kini dicatat sebagai salah satu manajer dengan catatan terburuk dalam sejarah modern klub raksasa Inggris tersebut.
Statistik Buruk Ruben Amorim: Rata-Rata Poin Terendah
Selama periode kepemimpinannya, Ruben Amorim hanya mampu mencatatkan rata-rata 1,43 poin per pertandingan di seluruh kompetisi yang diikuti oleh Manchester United. Angka ini merupakan alarm bahaya yang menandakan kemunduran signifikan bagi klub sekelas MU.
Secara keseluruhan, Amorim memimpin 63 pertandingan. Dari jumlah tersebut, Setan Merah hanya berhasil mengamankan 25 kemenangan, 15 hasil imbang, dan harus menelan 23 kekalahan. Rasio kekalahan yang hampir menyentuh 36 persen ini jelas tidak dapat diterima oleh para pendukung dan manajemen klub.
Perolehan rata-rata 1,43 poin per laga tersebut bukan hanya buruk, tetapi juga tercatat sebagai angka terendah yang pernah diraih oleh manajer United mana pun sejak tahun 2013. Angka ini secara eksplisit menunjukkan betapa sulitnya Amorim menemukan formula kemenangan yang konsisten di Old Trafford.
Kemunduran Drastis di Liga Domestik
Musim pertama di bawah asuhan Amorim menjadi mimpi buruk bagi para penggemar Setan Merah. Tim sempat terpuruk hingga finis di urutan ke-15 klasemen domestik, sebuah posisi yang sangat jauh dari target lolos ke kompetisi Eropa. Hal ini menciptakan keraguan besar terhadap kapabilitas taktis manajer asal Portugal tersebut.
Di sisi lain, meskipun ia berhasil membawa tim melaju ke final UEFA Conference League, United harus mengakui keunggulan Tottenham Hotspur dengan skor tipis 0-1. Pencapaian ini, yang seharusnya menjadi penyelamat, justru dipandang sebagai catatan minor karena gagal membawa pulang trofi.
Kegagalan ini semakin diperparah ketika rekam jejak Amorim dibandingkan dengan warisan yang ditinggalkan oleh pendahulunya. Erik Ten Hag, meskipun kontroversial, setidaknya sempat memberikan trofi dan memastikan tim bermain di kompetisi Eropa.
Bayangan Kegagalan Historis di Old Trafford
Rekor buruk yang dicatatkan oleh Amorim ini memiliki resonansi historis yang mendalam. Perolehan poin per pertandingan yang sangat rendah tersebut bahkan dinilai lebih memprihatinkan dibandingkan dengan pencapaian Frank O’Farrell, manajer yang dipecat klub pada tahun 1972 silam.
Masa jabatan Amorim, yang diakhiri dengan pemecatan, menjadi peringatan keras bagi manajemen Manchester United mengenai pentingnya sistem perekrutan dan manajemen yang lebih efektif. Keputusan untuk merekrut Amorim, yang memiliki rekam jejak baik di Sporting CP, ternyata tidak berjalan mulus di atmosfer Liga Inggris yang lebih kompetitif.
Para pendukung Setan Merah telah menyuarakan kekecewaan mereka secara vokal melalui media sosial dan spanduk di stadion. Tekanan dari basis penggemar yang sangat besar ini pada akhirnya tidak dapat ditahan lagi oleh dewan direksi klub.
Dengan pemecatan ini, Manchester United kini kembali dihadapkan pada tantangan besar untuk mencari juru taktik baru. Klub harus segera menemukan sosok yang mampu mengembalikan marwah tim dan mengangkat performa di sisa musim, serta memastikan bahwa catatan kelam seperti yang ditinggalkan Amorim tidak terulang lagi di masa depan.