Uptodai.com - Penemuan mengejutkan baru-baru ini mengungkap potensi besar dampak runtuhnya Gletser Thwaites, sebuah lempeng es raksasa di Antartika Barat yang dijuluki “Gletser Kiamat.” Para peneliti berhasil mendeteksi ratusan gempa bumi kecil yang sebelumnya tidak terdaftar oleh sistem pemantauan standar.

Aktivitas seismik yang intens ini menjadi indikasi jelas adanya “kegagalan struktural” di jantung gletser. Jika gletser ini benar-benar runtuh, konsekuensinya diperkirakan akan memicu bencana global yang mengancam jutaan nyawa manusia di seluruh dunia.

Misteri 360 Gempa di Bawah Bahaya Gletser Kiamat

Penelitian krusial ini dipimpin oleh Pham Thanh-Son dan tim dari Australian National University (ANU). Mereka menggunakan teknologi getaran frekuensi rendah, yang terbukti jauh lebih sensitif dibandingkan sistem pemantauan gempa bumi konvensional, untuk mengidentifikasi gempa-gempa mikro tersebut.

Data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa mayoritas gempa terjadi di area pertemuan kritis, yakni antara badan gletser dengan Laut Amundsen. Lokasi ini memang dikenal sebagai titik di mana bongkahan besar dari lempeng es raksasa tersebut sering retak, pecah, dan hancur ke lautan lepas.

Aktivitas gempa yang tersembunyi ini, yang didominasi oleh getaran mikro, memuncak intensitasnya antara tahun 2018 hingga 2020. Periode tersebut bertepatan dengan pergerakan gletser Thwaites yang sangat masif. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa air laut yang semakin hangat telah menggerus fondasi es dari bawah, mempercepat proses pelelehan yang kritis.

Para ilmuwan secara spesifik mengaitkan ratusan gempa tersebut dengan keretakan internal yang signifikan di dalam es. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena Thwaites tidak hanya besar, tetapi juga berfungsi sebagai jangkar penahan bagi seluruh lempeng es Antartika Barat yang ukurannya jauh lebih masif.

Ancaman Nyata Kenaikan Permukaan Air Laut Global

Thwaites dijuluki “Gletser Kiamat” bukan tanpa alasan; jika lempeng es seluas 192.000 kilometer persegi ini—ukurannya bahkan lebih besar dari Pulau Sulawesi—runtuh sepenuhnya, konsekuensinya akan menghancurkan. Proyeksi terburuk menunjukkan bahwa keruntuhan total dapat memicu kenaikan permukaan air laut global hingga 3 meter.

Kenaikan drastis setinggi itu diperkirakan akan menenggelamkan puluhan ribu kilometer persegi wilayah pesisir di seluruh dunia. Data menunjukkan bahwa dampak langsungnya akan menimpa setidaknya 12,3 juta penduduk global yang tinggal di wilayah dataran rendah.

Kota-kota metropolitan besar yang berada di tepi laut, seperti New York, Shanghai, hingga Jakarta, berada dalam risiko serius terendam air asin permanen. Hal ini menuntut perencanaan mitigasi yang ekstrem dari pemerintah seluruh dunia.

Misi ‘Rontgen’ Gletser Kiamat untuk Memahami Dampak Runtuhnya Gletser Thwaites

Menyadari urgensi ancaman ini, sebuah tim ekspedisi besar yang terdiri dari 40 peneliti baru-baru ini bertolak dari pelabuhan di Selandia Baru. Mereka menuju Thwaites Glacier untuk melakukan observasi dan serangkaian eksperimen yang kompleks dalam kondisi yang sangat sulit.

Misi ini bertujuan utama untuk mengukur seberapa cepat laju pencairan “gletser kiamat” tersebut. Tim yang dipimpin oleh Pierce ini akan bereksperimen menggunakan radar udara canggih untuk memindai seluruh tubuh gletser, layaknya melakukan rontgen skala raksasa.

Selain pemindaian udara, para ilmuwan juga menerapkan metode unik untuk mengumpulkan data suhu dan keasaman air laut. Mereka berencana menyematkan sensor pada anjing laut yang berenang di sekitar gletser. Data yang dikumpulkan kemudian secara otomatis dikirimkan kembali ke satelit.

Pengumpulan data real-time ini sangat krusial. Informasi yang dihasilkan akan menjadi dasar bagi komunitas ilmiah global untuk memprediksi secara akurat kapan keruntuhan masif Thwaites mungkin terjadi, serta mempersiapkan strategi mitigasi terbaik menghadapi ancaman kenaikan permukaan laut.