Kemenekraf: Garena Game Jam 3 Dorong Penguatan Ekosistem Industri Gim
Uptodai.com - Jakarta—Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menegaskan komitmennya untuk mendorong Penguatan Ekosistem Industri Gim nasional. Salah satu pilar utama dalam upaya ini adalah melalui penyelenggaraan kompetisi pengembangan gim yang terstruktur dan berkelanjutan, seperti Garena Game Jam 3.
Muhammad Neil El Himam, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kemenekraf, menilai bahwa ajang semacam ini berfungsi sebagai fondasi vital untuk memastikan pertumbuhan industri gim yang sehat dan berkelanjutan di masa depan. Fokus utama terletak pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, yang siap bersaing di kancah global.
Menguji Ketahanan dan Kreativitas Talenta Muda
Neil El Himam menjelaskan bahwa kompetisi gim tidak hanya menguji kemampuan teknis peserta dalam pengkodean atau desain grafis semata. Lebih dari itu, Garena Game Jam menguji aspek fundamental yang sangat dibutuhkan oleh industri kreatif yang serba cepat.
Aspek-aspek tersebut mencakup kreativitas, kemampuan memecahkan masalah (problem solving) di bawah tekanan, kerja tim yang solid, hingga ketahanan mental dalam menghadapi tenggat waktu yang ketat. “Kegiatan ini adalah bagian penting dalam memperkuat ekosistem gim nasional. Di sinilah talenta-talenta muda diuji dan ditempa,” ujar Neil saat membuka kompetisi Garena Game Jam 3 di Binus University, Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Indonesia saat ini dihadapkan pada kenyataan bahwa pasar gim global terus bertumbuh secara eksponensial. Oleh karena itu, Indonesia tidak boleh hanya puas menjadi pasar konsumtif terbesar di Asia Tenggara, melainkan harus bertransformasi menjadi pemain aktif.
Menciptakan Kekayaan Intelektual (IP) Sendiri
Dengan potensi talenta, kreativitas, serta basis pasar domestik yang sangat besar, Indonesia memiliki modal kuat untuk memposisikan diri sebagai kekuatan baru dalam industri gim dunia. Kemenekraf berharap Garena Game Jam 3 dapat menumbuhkan semangat baru bagi generasi muda pengembang gim.
Semangat tersebut adalah dorongan untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan menjadi pencipta dan inovator. Para talenta gim nasional, menurut Neil, harus berani menciptakan karya orisinal, membangun intellectual property (IP) sendiri, dan memiliki ambisi besar untuk menembus pasar global.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton atau pasar. Kita harus menjadi pemain yang mampu mengekspor IP kita ke mancanegara,” tegasnya. Menciptakan IP lokal yang kuat menjadi kunci agar nilai tambah industri gim dapat dinikmati sepenuhnya oleh bangsa sendiri, bukan hanya menjadi lisensi asing.
Kunci Kolaborasi dan Kesiapan Komersialisasi
Pemerintah berkomitmen penuh untuk menghadirkan berbagai program pendukung, mulai dari motivasi, fasilitasi promosi, hingga pembukaan akses pasar bagi studio dan developer gim lokal. Namun, pembangunan industri gim tidak dapat dilakukan secara parsial hanya oleh satu pihak.
Neil menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah, industri, komunitas, perguruan tinggi, media, hingga akses permodalan menjadi kunci utama. Sinergi ini diperlukan agar talenta-talenta yang lahir dari kegiatan kompetisi seperti ini bisa terus bertumbuh, mendapatkan pendanaan, dan akhirnya naik kelas menjadi studio komersial yang sukses.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Gim Kemenekraf, Luat Sihombing, menambahkan bahwa kompetisi gim ibarat penyaring awal yang efektif. Ajang ini mampu memilah talenta dan produk yang pada akhirnya siap untuk dikomersialisasikan.
“Artinya, mereka siap untuk mendapatkan funding, dan siap untuk di-release ke publik. Ke depannya, kami usahakan agar talenta-talenta ini tersalurkan, menjadi pengembang yang benar-benar bisa membuat produk komersial yang menguntungkan,” tutup Luat, menyoroti pentingnya jalur transisi dari kompetisi menuju pasar profesional.