Influencer Terancam Miskin? Sinyal Penghasilan Kreator Konten Menurun di AS
Uptodai.com - Gemerlap dunia digital sering kali menyajikan ilusi kemewahan dan kekayaan instan. Kita mengenal nama-nama besar seperti YouTuber Mr. Beast, TikToker Charli D’Amelio, hingga selebritas Indonesia Raffi Ahmad, yang memiliki jutaan pengikut dan pundi-pundi uang yang melimpah. Namun, di balik sorotan kamera, sinyal bahwa penghasilan kreator konten menurun drastis kini mulai terlihat jelas, khususnya di Amerika Serikat.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa industri kreator konten kini makin sesak, memicu persaingan yang sangat ketat hanya untuk mendapatkan perhatian dan cuan. Platform media sosial yang dulunya royal membagikan komisi kini mulai mengetatkan ikat pinggang. Sementara itu, para brand besar juga semakin selektif dalam memilih siapa yang layak mereka sponsori.
Realita Pahit di Balik Jutaan Pengikut
Kondisi ini terangkum dalam laporan Wall Street Journal (WSJ) yang berjudul ‘Social Media Influencers Aren’t Getting Rich – They’re Barely Getting By’. Laporan tersebut menyoroti bagaimana sebagian besar kreator konten full-time, meskipun memiliki basis pengikut yang besar, kesulitan mencapai stabilitas finansial.
Ambil contoh Clint Brantley, seorang kreator konten yang berfokus penuh pada pekerjaannya sejak tahun 2021. Brantley aktif membagikan konten di TikTok, YouTube, dan Twitch, mayoritas membahas tren yang berkaitan dengan game populer seperti Fortnite.
Meskipun ia memiliki lebih dari 400.000 pengikut dan rata-rata view kontennya melampaui 100.000, penghasilan Brantley tahun lalu justru lebih kecil daripada gaji median tahunan pekerja full-time di AS. Sebagai informasi, gaji median tersebut pada tahun 2023 mencapai US$ 58.084, atau setara dengan sekitar Rp 950 jutaan.
Pria berusia 29 tahun itu bahkan tidak berani berkomitmen untuk menyewa apartemen sendiri karena penghasilannya yang tidak menentu. Saat ini, Brantley masih tinggal bersama ibunya di Washington. “Saya sangat rentan,” ujarnya, menggambarkan betapa rapuhnya situasi keuangan para kreator konten level menengah.
Platform Mulai Pelit, Brand Makin Selektif
WSJ menekankan bahwa mencapai pendapatan yang layak dan stabil sebagai kreator konten adalah hal yang sulit, dan tren ini diperkirakan akan semakin memburuk. Ada dua faktor utama yang mendorong penurunan pendapatan ini.
Pertama, platform media sosial secara bertahap mengurangi porsi pembagian uang untuk postingan populer. Algoritma kini lebih mengutamakan konten yang mendorong interaksi mendalam, bukan sekadar jumlah view, membuat monetisasi menjadi lebih sulit.
Kedua, terjadi pergeseran strategi pemasaran dari pihak brand. Mereka tidak lagi hanya mencari kreator dengan jumlah pengikut masif, tetapi lebih memilih kesepakatan yang sangat spesifik dan terukur dengan micro-influencer atau kreator yang sangat fokus pada niche tertentu.
Ancaman Regulasi dan Ledakan Jumlah Kreator
Kondisi sulit ini diperparah dengan ancaman regulasi yang membayangi industri digital, khususnya di Amerika Serikat. Wacana pemblokiran TikTok pada tahun 2025 telah menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan kreator konten.
Bagi banyak kreator, TikTok adalah salah satu saluran utama sumber pendapatan mereka. Jika platform tersebut dihapus, mereka harus segera mencari alternatif, yang tentu saja akan mengganggu arus kas dan stabilitas karier.
Di sisi lain, jumlah orang yang ingin menjadi kreator konten terus meledak. Laporan Goldman Sachs pada tahun 2023 menyebutkan bahwa ratusan juta orang di seluruh dunia kini memposting konten di media sosial, dan sekitar 50 juta orang menghasilkan uang dari aktivitas tersebut.
Bank investasi tersebut memperkirakan bahwa jumlah kreator yang menghasilkan pendapatan akan terus tumbuh pada tingkat tahunan 10% hingga 20% hingga tahun 2028. Penambahan jumlah pencari nafkah ini, meskipun Departemen Tenaga Kerja AS tidak melacak gaji para influencer, secara otomatis meningkatkan saturasi pasar.
Strategi Bertahan di Tengah Badai Ekonomi Digital
Meningkatnya persaingan dan menurunnya pembagian komisi memaksa para kreator untuk beradaptasi secara cepat. Era di mana kreator hanya mengandalkan satu platform atau satu jenis konten telah berakhir.
Para kreator kini dituntut untuk menjadi pengusaha digital sejati, yang mampu mendiversifikasi sumber pendapatan. Ini termasuk menjual produk digital mereka sendiri, menawarkan jasa konsultasi, atau membangun komunitas berbayar (gated community) di luar kendali algoritma media sosial.
Secara rata-rata, kreator konten membutuhkan waktu bulanan bahkan tahunan untuk membangun audiens yang cukup loyal agar pendapatan mereka bisa diandalkan. Fenomena penghasilan kreator konten menurun ini menjadi peringatan keras bahwa glamor industri digital hanyalah milik segelintir orang di puncak piramida, sementara sisanya berjuang keras untuk sekadar bertahan hidup.