Jack Ma: Guru Harus Ubah Cara Mengajar di Era AI, Fokus Kreativitas
Uptodai.com - Pendiri raksasa teknologi Alibaba, Jack Ma, kembali menyuarakan pandangannya mengenai masa depan pendidikan di tengah gelombang revolusi Kecerdasan Buatan (AI). Fokus utamanya kini tertuju pada para pendidik, khususnya guru-guru di wilayah pedesaan yang dinilai paling rentan menghadapi disrupsi teknologi.
Dalam pesan terbarunya, Ma meminta para guru untuk segera melakukan transformasi mendasar dalam metode pengajaran. Ia menegaskan bahwa kurikulum harus bergeser dari sekadar menghafal dan berhitung, menuju penekanan pada pengembangan rasa ingin tahu dan kreativitas siswa.
Jack Ma Pendidikan Era AI: Kembali ke Dasar Pendidikan
Melalui pernyataan yang dirilis oleh Jack Ma Foundation, miliarder asal China itu menjelaskan bahwa munculnya era AI memang membawa tantangan besar bagi sistem pendidikan, terutama di daerah terpencil. Namun, kondisi ini justru menjadi peluang emas untuk kembali menguatkan fondasi pendidikan yang sesungguhnya.
Ma menegaskan bahwa perdebatan kini tidak lagi berkisar pada apakah AI harus digunakan, melainkan bagaimana guru dapat mengajarkan anak-anak untuk memanfaatkan AI secara tepat. Hal ini disampaikannya dalam konferensi video kepada ratusan guru yang merupakan peserta program inisiatif yayasannya.
“Pendidikan seharusnya tidak lagi berfokus pada upaya membuat anak-anak bersaing dengan AI dalam hal daya ingat atau kemampuan komputasi,” ujar Ma, seperti dikutip dari laporan pada Sabtu (31/1/2026). “Sebaliknya, kita wajib membantu anak-anak mempertahankan rasa ingin tahu, karena keingintahuan adalah sumber utama dari ‘kekuatan komputasi’ manusia.”
Kesenjangan Sebenarnya Bukan Teknologi, Tapi Imajinasi
Komentar terbaru Ma ini muncul sebagai respons atas kekhawatiran para peserta program Rural Teachers Initiative yang merasa sistem pendidikan di pedesaan akan semakin tertinggal di tengah perkembangan AI. Ma menanggapi kekhawatiran tersebut dengan sudut pandang yang berbeda.
Menurutnya, kesenjangan yang paling krusial di era AI bukanlah kesenjangan teknologi semata. Ia berpendapat bahwa kesenjangan sebenarnya terletak pada minimnya rasa ingin tahu, imajinasi, kreativitas, kemampuan penilaian, dan kolaborasi.
Mantan guru bahasa Inggris ini lantas mengkritik model pendidikan tradisional yang masih berorientasi pada keseragaman jawaban. Ia menekankan perlunya perubahan paradigma yang radikal di dalam kelas.
“Di era AI, sistem pendidikan kita tidak boleh lagi menargetkan seribu siswa untuk memberikan jawaban benar yang sama,” imbuh Ma. “Sebaliknya, tujuan kita adalah mengajarkan seribu siswa tersebut agar mereka mampu mengajukan sepuluh ribu pertanyaan yang berbeda dan berkualitas.”
Misi Jack Ma Foundation dan Implementasi Praktis
Sejak tahun 2015, Jack Ma Foundation secara konsisten menjalankan program Rural Teachers Initiative. Program ini mencari guru-guru pedesaan yang berpotensi di seluruh China untuk diberikan dukungan pendanaan serta pelatihan profesional berkelanjutan.
Inisiatif ini bertujuan memastikan bahwa meskipun berada di daerah terpencil, guru-guru tetap memiliki akses terhadap pemikiran dan alat pengajaran modern. Langkah ini sejalan dengan pandangan Ma yang sebelumnya pernah ia sampaikan di ajang Alibaba Cloud pada April 2025.
Saat itu, Ma menyatakan bahwa tanggung jawab para pakar teknologi adalah mengembangkan sistem AI yang dapat memahami dan melayani manusia dengan lebih baik, bukan menciptakan AI yang dirancang untuk menggantikan peran manusia sepenuhnya.
Sebagai langkah konkret, Jack Ma Foundation baru-baru ini bekerja sama dengan startup AI Qwen. Keduanya menyumbangkan berbagai perangkat AI, termasuk kacamata AI Quark, kepada sekolah-sekolah pedesaan di Yibin, China.
Donasi ini bertujuan membantu siswa menjadi lebih akrab dan familiar dengan teknologi kecerdasan buatan sejak dini. Harapannya, pengenalan dini ini dapat memicu kreativitas dan membuat siswa tidak takut, melainkan terinspirasi oleh potensi kolaborasi antara manusia dan AI.