Saingan Starlink di Indonesia Mulai Diproses, Ini Bocorannya
Uptodai.com - Kemunculan saingan Starlink di Indonesia kini mulai menemui titik terang setelah pemerintah mengonfirmasi adanya pengajuan izin satelit baru. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan bahwa dua operator lokal tengah memproses slot orbit ke International Telecommunication Union (ITU). Langkah strategis ini diambil guna menghadirkan layanan internet berbasis satelit Low Earth Orbit (LEO) yang mandiri. Proyek ambisius ini diharapkan mampu memperkecil kesenjangan digital di wilayah pelosok Nusantara.
Dua raksasa telekomunikasi dalam negeri, yaitu PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) dan Telkomsat, menjadi aktor utama di balik inisiatif ini. Kedua perusahaan tersebut sedang mempersiapkan infrastruktur teknologi serta pendanaan yang sangat besar untuk bersaing di kancah global. Komdigi sendiri berperan aktif dalam memfasilitasi koordinasi frekuensi internasional agar tidak terjadi interferensi sinyal. Kendati demikian, proses regulasi di tingkat global ini dikenal sangat ketat dan membutuhkan ketelitian tinggi.
Masyarakat tampaknya harus bersabar karena peluncuran satelit ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Berdasarkan ketentuan regulasi dari ITU, dibutuhkan waktu sekitar tujuh tahun sejak pengajuan awal hingga satelit benar-benar mengorbit. Regulasi yang panjang ini bertujuan untuk memastikan kesiapan teknis serta keamanan jalur orbit rendah bumi yang kian padat. Oleh karena itu, kehadiran kompetitor lokal ini diproyeksikan baru akan terealisasi sepenuhnya beberapa tahun mendatang.
Mengenal Teknologi Satelit LEO Lokal
Satelit LEO atau Low Earth Orbit merupakan teknologi pemancar yang beroperasi pada ketinggian 300 hingga 2.000 kilometer di atas permukaan bumi. Keunggulan utama dari teknologi ini adalah latensi yang sangat rendah, sehingga mampu menghasilkan koneksi internet yang jauh lebih cepat. Sebenarnya, Indonesia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sudah memiliki satelit di orbit LEO ini sejak lama. Satelit seri LAPAN-A1 hingga LAPAN-A3 telah aktif mengudara untuk misi pemantauan lingkungan.
Meskipun berada di orbit yang sama dengan Starlink, satelit milik LAPAN memiliki fungsi yang sangat berbeda. Satelit lokal tersebut dirancang khusus untuk analisis wilayah, mitigasi bencana, serta pemantauan sumber daya alam nasional. Sementara itu, konstelasi satelit yang sedang diajukan oleh PSN dan Telkomsat nantinya akan fokus pada penyediaan jaringan internet pita lebar. Dengan sinergi teknologi ini, kedaulatan digital Indonesia di ruang angkasa diharapkan dapat terjaga dengan baik.
Tantangan dan Kebutuhan Internet Satelit
Kebutuhan akan internet cepat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menjadi pendorong utama proyek satelit LEO ini. Selama ini, topografi Indonesia yang berpulau-pulau menjadi tantangan besar bagi pembangunan kabel serat optik darat. Kehadiran alternatif layanan satelit lokal tentu akan memberikan pilihan yang lebih kompetitif bagi masyarakat. Pemerintah berharap kolaborasi antara regulator dan operator swasta ini dapat mempercepat transformasi digital nasional secara merata.