Uptodai.com - Insiden menegangkan kembali terjadi setelah serangan siber bank Iran berhasil melumpuhkan total infrastruktur keuangan di negara tersebut. Tiga lembaga keuangan raksasa, yakni Bank Melli, Bank Saderat, dan Bank Tejarat, terpaksa menghentikan seluruh transaksi berbasis kartu secara mendadak. Langkah darurat ini diambil demi mencegah kebocoran data yang lebih masif akibat penetrasi peretas yang belum teridentifikasi.

Informatics Services Corporation selaku penyedia teknologi perbankan nasional segera mengonfirmasi gangguan ini kepada stasiun televisi pemerintah setempat. Akibat serangan ini, layanan vital seperti mesin ATM, terminal pembayaran Point-of-Sales (POS), hingga aplikasi mobile banking tidak dapat diakses oleh jutaan nasabah. Pihak otoritas mengklaim bahwa tim tanggap darurat siber sedang bekerja keras di lapangan untuk memulihkan stabilitas sistem.

Ketegangan Geopolitik dan Sejarah Perang Siber

Sektor finansial Iran memang kerap menjadi sasaran empuk dalam perang asimetris yang melibatkan kekuatan geopolitik di Timur Tengah. Sejarah mencatat bahwa infrastruktur penting Iran, termasuk fasilitas nuklir dan sistem distribusi bahan bakar, pernah lumpuh akibat serangan siber canggih di masa lalu. Para analis menilai bahwa serangan terkoordinasi ini bukan sekadar sabotase teknis biasa, melainkan bagian dari tekanan politik luar negeri yang sistematis.

Sebelum petaka terbaru ini terjadi pada 23 Juni 2026, gangguan serupa yang sangat masif juga sempat dilaporkan menghantam jaringan komunikasi perbankan pada pertengahan Juni lalu. Kala itu, Export Development Bank of Iran turut menjadi korban dari operasi siber yang sangat terstruktur tersebut. Dewan Koordinasi Perbankan Iran menyatakan bahwa pola serangan ini menunjukkan tingkat keahlian militer siber yang sangat tinggi.

Dampak Terhadap Masyarakat dan Tuduhan Global

Meskipun bank sentral Iran menjanjikan pemulihan cepat, kepanikan sempat melanda masyarakat yang kesulitan melakukan transaksi harian untuk kebutuhan pokok. Di sisi lain, pemerintah Teheran sering kali menunjuk musuh bebuyutan mereka, seperti Israel dan sekutunya, sebagai dalang di balik kekacauan digital ini. Hingga saat ini, pihak Tel Aviv memilih untuk bungkam dan tidak memberikan komentar resmi terkait tuduhan keterlibatan mereka.

Para ahli keamanan siber internasional mengingatkan bahwa insiden berulang ini menunjukkan adanya celah kerentanan yang serius dalam sistem pertahanan digital Iran. Tanpa adanya pembaruan enkripsi yang kuat dan kerja sama keamanan global, sektor perbankan negara tersebut akan terus berada di bawah bayang-bayang ancaman kelumpuhan total. Kasus ini sekaligus menjadi alarm keras bagi negara-negara berkembang lainnya tentang pentingnya kedaulatan digital nasional.