Uptodai.com - Penerapan aturan screen time anak menjadi hal yang sangat krusial di era digital saat ini. Layar elektronik seperti ponsel pintar, tablet, hingga televisi memang sulit dipisahkan dari aktivitas harian balita. Namun, penggunaan gadget tanpa batasan yang jelas berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan fisik maupun tumbuh kembang anak.

Pengalaman ini dirasakan oleh Fitri (32), seorang ibu yang membatasi akses gadget untuk anaknya, Zoya (2). Fitri memilih tidak memberikan ponsel genggam sama sekali, melainkan menggantinya dengan tontonan di televisi. Ia secara ketat membatasi durasi menonton tersebut maksimal 30 menit dalam sehari.

Lewat tayangan televisi terpilih, ia menilai si kecil tetap bisa mempelajari hal baru seperti bahasa, tarian, dan musik. Kunci utama dari strategi ini adalah pendampingan aktif selama anak berada di depan layar. Fitri memastikan dirinya selalu ada di samping Zoya untuk mengontrol serta mengarahkan konten yang ditonton.

Strategi Batasi Gadget pada Akhir Pekan

Pendekatan berbeda diterapkan oleh Rahma (23) dalam mengatur penggunaan gawai untuk buah hatinya, Rasafah (3). Ia memberlakukan aturan khusus di mana akses gadget hanya diperbolehkan saat akhir pekan saja. Pada hari sekolah dari Senin hingga Kamis, anak sama sekali tidak diizinkan menyentuh layar digital.

Rahma memberikan kesempatan bermain gadget sebanyak dua kali di hari Sabtu atau Minggu dengan durasi masing-masing 30 menit. Meski tayangan edukasi seperti di YouTube membantu anak menghafal lagu, ia mengakui adanya dampak negatif. Salah satunya adalah anak menjadi sulit merespons atau fokus saat dipanggil ketika sedang asyik menonton.

Rekomendasi Pakar dan Dampak Penggunaan Gadget Berlebihan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebenarnya tidak merekomendasikan pemberian tontonan layar pada anak di bawah usia dua tahun. Sementara untuk anak usia dua hingga lima tahun, durasi ideal yang disarankan adalah maksimal satu jam per hari. Pembatasan ini bertujuan untuk mencegah risiko keterlambatan bicara, gangguan tidur, serta penurunan interaksi sosial.

Orang tua disarankan untuk menyediakan aktivitas alternatif yang melibatkan stimulasi motorik dan sensorik anak secara langsung. Bermain balok susun, membaca buku cerita, serta beraktivitas di luar ruangan dapat menjadi pilihan efektif. Interaksi dua arah dengan orang sekitar tetap menjadi sarana belajar terbaik bagi tumbuh kembang balita.