Uptodai.com - Masyarakat belakangan ini dihebohkan dengan video viral yang memperlihatkan kondisi kamar kos memprihatinkan, sehingga penting bagi kita untuk mengenal gejala hoarding disorder agar lebih waspada. Dalam unggahan tersebut, tumpukan sampah dan barang bekas memenuhi setiap sudut ruangan hingga menutupi seluruh area lantai. Kondisi ini memicu keprihatinan publik karena dampaknya yang merusak fasilitas kamar secara permanen.

Pemilik kos yang melakukan inspeksi mendadak menemukan pemandangan yang sangat tidak higienis di dalam kamar penghuninya. Alat makan kotor dengan sisa makanan yang sudah membusuk dibiarkan begitu saja hingga menimbulkan bau menyengat. Warganet yang menyaksikan video tersebut segera mengaitkan perilaku penyewa kamar dengan gangguan psikologis tertentu.

Banyak pihak menduga kuat bahwa penghuni kamar tersebut mengidap kondisi medis yang disebut dengan hoarding disorder. Fenomena ini bukan sekadar masalah kebersihan, melainkan manifestasi dari masalah kesehatan mental yang serius. Kondisi ini memerlukan penanganan medis dan psikologis yang tepat agar tidak semakin memperburuk kualitas hidup penderitanya.

Apa Itu Hoarding Disorder Menurut Kemenkes RI?

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa hoarding disorder adalah gangguan kesehatan mental yang membuat seseorang memiliki dorongan kuat untuk menimbun barang. Penderita biasanya mengumpulkan benda-benda dalam jumlah berlebihan, bahkan untuk barang yang sudah tidak memiliki nilai guna lagi. Mereka merasa sangat tertekan jika harus membuang atau berpisah dengan barang-barang tersebut.

Perilaku menimbun ini sering kali membuat ruang gerak di dalam tempat tinggal menjadi sangat terbatas dan tidak sehat. Barang-barang yang menumpuk bisa berupa kertas, pakaian, sisa makanan, hingga sampah plastik yang sudah rusak. Mengenal gejala hoarding disorder sejak dini dapat membantu keluarga memberikan pertolongan sebelum kondisi hunian menjadi berbahaya.

Penderita gangguan ini sering kali merasa bahwa barang yang mereka simpan akan berguna di masa depan atau memiliki nilai sejarah yang mendalam. Perasaan aman muncul saat mereka dikelilingi oleh tumpukan barang tersebut, meskipun bagi orang lain terlihat seperti sampah. Hal inilah yang membuat mereka menolak keras jika ada orang lain yang mencoba merapikan ruangan mereka.

Berbagai Penyebab Hoarding Disorder yang Perlu Diketahui

Hingga saat ini, para ahli medis belum bisa memastikan secara tunggal apa yang menjadi penyebab hoarding disorder pada seseorang. Namun, terdapat kaitan erat antara gangguan ini dengan riwayat kesehatan mental lainnya yang pernah dialami pasien. Depresi berat, skizofrenia, serta gangguan obsesif kompulsif (OCD) sering kali menjadi latar belakang munculnya perilaku menimbun.

Selain faktor klinis, pengalaman traumatis di masa lalu juga memegang peranan penting dalam memicu kondisi ini. Kehilangan orang yang dicintai secara mendadak atau kehilangan harta benda akibat bencana sering kali membuat seseorang menjadi protektif terhadap barang. Mereka menganggap barang-barang tersebut sebagai pengganti rasa kehilangan yang mereka rasakan.

Faktor lingkungan dan pola asuh keluarga juga tidak bisa diabaikan dalam menelusuri pemicu gangguan mental menimbun ini. Seseorang yang tumbuh dalam keluarga dengan kebiasaan serupa memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan perilaku yang sama. Kesulitan ekonomi yang ekstrem di masa lalu terkadang membuat seseorang merasa harus menyimpan segala sesuatu demi bertahan hidup.

Tanda-Tanda dan Dampak Buruk pada Lingkungan

Seseorang yang mengidap hoarding disorder biasanya menunjukkan kesulitan yang luar biasa saat diminta mengambil keputusan sederhana. Mereka akan merasa cemas berlebihan dan stres jika dipaksa melepaskan satu barang kecil sekalipun dari koleksinya. Hal ini mengakibatkan tumpukan barang terus bertambah tinggi dari hari ke hari tanpa ada yang dibuang.

Dampak dari kondisi ini sangat merugikan, tidak hanya bagi penderita tetapi juga bagi lingkungan sekitar dan pemilik properti. Ruangan yang penuh sampah menjadi sarang bakteri, jamur, dan hama seperti tikus atau kecoa yang membawa penyakit. Selain itu, tumpukan barang yang mudah terbakar juga meningkatkan risiko kebakaran yang membahayakan nyawa penghuni gedung.

Sering kali, penderita tidak menyadari bahwa tindakan mereka adalah sebuah masalah besar yang membutuhkan bantuan profesional. Dukungan dari keluarga dan konsultasi dengan psikiater menjadi langkah krusial untuk memulai proses pemulihan. Tanpa penanganan yang tepat, isolasi sosial dan penurunan kesehatan fisik akan menjadi ancaman nyata bagi penderita.