Uptodai.com - Keberadaan hantavirus di Indonesia ternyata bukan merupakan fenomena kesehatan baru yang muncul secara tiba-tiba di tengah masyarakat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa jejak virus ini sebenarnya telah terdeteksi di tanah air sejak tahun 1991 silam.

Meskipun sempat memicu kekhawatiran, pemerintah memastikan bahwa jenis yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan kasus fatal di luar negeri. Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai penularan tipe berbahaya seperti yang pernah terjadi pada insiden kapal pesiar MV Hondius.

Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, memberikan penjelasan mendalam mengenai karakteristik virus ini. Ia menyebutkan bahwa hantavirus memiliki sekitar 50 strain yang tersebar di seluruh dunia.

Dari puluhan varian tersebut, setidaknya ada 24 strain yang terbukti memiliki kemampuan untuk menginfeksi manusia. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa setiap strain memiliki tingkat fatalitas dan gejala klinis yang berbeda-beda tergantung wilayah penyebarannya.

Mengenal Perbedaan Strain Hantavirus di Indonesia

Penyakit hantavirus di tanah air yang terdeteksi selama ini mayoritas berasal dari kelompok Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Tipe ini secara signifikan berbeda dengan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan secara akut.

Strain HFRS umumnya banyak ditemukan di wilayah Eropa dan Asia, termasuk Indonesia. Beberapa jenis yang masuk dalam kategori ini antara lain adalah Hantaan Virus, Puumala Virus, serta Seoul Virus.

Berdasarkan hasil uji laboratorium melalui metode PCR, kasus-kasus yang terkonfirmasi di Indonesia seluruhnya merujuk pada strain Seoul Virus. Penemuan ini diperkuat oleh penelitian bertajuk Rikhus Vektora yang dilakukan di puluhan provinsi.

Dalam studi tersebut, peneliti menemukan keberadaan virus pada tikus celurut di 29 wilayah berbeda. Salah satu temuan yang cukup menonjol berada di kawasan Serang, Banten, di mana virus terdeteksi pada populasi tikus lokal.

Risiko Penularan dari Hewan ke Manusia

Meskipun virus ini ditemukan pada hewan pengerat di berbagai daerah, dr. Andi Saguni menegaskan belum ada bukti penularan ke manusia di wilayah tersebut. Temuan di Serang, misalnya, menunjukkan bahwa virus hanya menginfeksi tikus dan tidak melompat ke penduduk sekitar.

Kondisi ini memberikan sedikit ruang napas bagi otoritas kesehatan, namun pengawasan tetap tidak boleh kendur. Pemerintah terus memantau pergerakan virus ini agar tidak terjadi mutasi yang meningkatkan risiko zoonosis atau penularan antar spesies.

Tikus got di area perkotaan serta mencit ladang di kawasan pertanian menjadi inang utama dari virus ini. Kebersihan lingkungan menjadi kunci utama untuk meminimalisir kontak antara manusia dengan kotoran atau urine tikus yang terkontaminasi.

Gejala Virus Hantavirus dan Langkah Antisipasi

Masyarakat diminta untuk tetap mengenali gejala virus hantavirus agar bisa melakukan deteksi dini jika merasakan keluhan kesehatan. Gejala utama dari tipe HFRS biasanya meliputi demam tinggi yang muncul secara mendadak dan disertai nyeri otot.

Selain itu, penderita mungkin akan mengalami tanda-tanda infeksi hantavirus seperti gangguan pada fungsi ginjal. Dalam beberapa kasus yang lebih spesifik, pasien juga menunjukkan gejala penyakit kuning yang menandakan adanya gangguan pada organ hati.

Kemenkes kini telah memperkuat sistem surveilans dengan melibatkan 21 rumah sakit sentinel penyakit infeksi emerging di seluruh Indonesia. Rumah sakit ini memiliki tugas khusus untuk memantau pasien dengan gejala yang mengarah pada infeksi hantavirus.

Tenaga medis di fasilitas kesehatan tersebut diminta untuk selalu waspada dan melakukan pemeriksaan intensif terhadap pasien suspek. Langkah proaktif ini diambil untuk memastikan bahwa setiap potensi wabah dapat diredam sedini mungkin sebelum meluas ke masyarakat umum.